Showing posts with label kuliah di Jerman. Show all posts
Showing posts with label kuliah di Jerman. Show all posts
Wednesday, March 11, 2020
Tuesday, November 29, 2016
29 November 2016
Memasuki musim dingin taun ini yang datang lebih cepat, saya teringat kata-kata Alm Apa waktu kami mudik Feb lalu (apa ketika saya menelpon beliau?). Beliau bertanya soal suhu di Jerman, berapa suhu di musim dingin, di musim panas, dan seterusnya. Saya jawab seinget saya, misalnya, bahwa selama dua kali musim dingin suhu rata-rata antara -2 sampai 4 derajat, dan di musim panas bisa mencapai 38 derajat. Lalu beliau menjawab "Di tulis atuh suhu di buku harian..ambeh inget". He suggested me to write on a daily basis, especially about temperature change.
Lalu pagi ini sekitar jam 9 pagi setelah mengantar Alif ke TK dan menyaksikan hari yang cerah namun terasa membeku, saya teringat untuk mencatatnya. Hari ini Langit biru, matahari bersinar cerah, namun bunga-bunga es putih terhampar di dedaunan, pohon-pohon, di atas mobil-mobil, rerumputan, dan di mana-mana. Saya cek suhu di hp. Owh.ternyata -6 derajat Celcius! Hari Minggu kemarin padahal suhu sempat mencapai 8 derajat. Lalu kembali menurun di malam dan dini hari. Tapi saya menyukai musim dingin yang seperti ini. Dingin, namun langit biru dan matahari bersinar cerah. Indah.
Tadi pagi seperti biasa saya ribet sendiri sebelum mengantar Alif, karena ayahnya Alif sudah berangkat kerja jam lima pagi. Nyiapin sarapan (padahal cuma sereal dikasih air anget), bikin kopi, rebus telor buat bekal, bikin bekal saya, dll. Saya tidak berhasil menemukan kupluk si bocah dan memakaikan kupluk dia dari dua tahun lalu yang sudah kekecilan. Untung masih bisa nyampe TK 2 menit sebelum jam 9..ngepas..Haha.. jangan ditiru. Nanti sore harus dicari si kupluk sampe ketemu.
![]() |
| Dedaunan dilapisi bunga es |
![]() |
| Pemandangan hari ini, dilihat dari jendela perpus |
Thursday, April 7, 2016
Belajar Bahasa Jerman #2
Belajar bahasa Jerman susah ga sih? Sebagai orang Indonesia dan orang Sunda yang tata bahasa nya ga rumit, belajar Bahasa yang kata benda nya terdiri dari tiga jenis (maskulin, feminin, dan netral) tentu cukup membingungkan. Belum lagi bentuk kata kerja yang selalu berubah-ubah mengikuti waktu atau pasif-aktifnya. Plus aturan kasus dativ-akkusativnya. Hadeuh..tulung!!
Belajar bahasa Jerman ga cuma bisa dilakukan di ruangan kelas yang membosankan, tapi bisa dimana saja. Misalnya, beberapa hal yang saya alami akhir-akhir ini.
Kejadian #1
Saya sedang menunggu bis yang sudah terlambat beberapa menit dari jadwal seharusnya. Di halte tersebut ada seorang nenek yang juga sedang menunggu bus yang sama. Mungkin karena bosan menunggu bus datang, nenek tersebut mulai berbicara basa-basi pada saya. Dia berbicara tentang jalanan depan kami yang sangat berisik..bahwa jika berjalan kaki, dia selalu menghindari jalan besar karena tidak mau mendengar berisiknya kendaraan yang lalu lalang. Saya menimpali, bahwa dari apartemen saya juga suara ramai jalanan cukup terdengar. Kemudian kami masih mengobrol tentang hal-hal remeh temeh lainnya. Bahwa nenek itu lebih suka jalan-jalan di hutan yang tenang, dan lain-lain. Ketika bus sudah terlihat, nenek tersebut bertanya,
Nenek : "Wie lange haben Sie schon hier in Osnabrück?" (berapa lama anda sudah tinggal di Osnabrück?)
Saya : "Ich bin schon hier fast 2 Jahre" (saya sudah tinggal di sini selama hampir dua tahun).
Nenek : "Aber Ihre Deutsch ist schon sehr gut. Sie können schon mit uns unterhalten." (tapi bahasa Jerman anda sudah bagus. Anda sudah bisa mengobrol dengan kami).
Saya : (dalam hati: ahseeek). Danke *sambil senyum-senyum ge-er* :D
Kejadian #2
Tadi pagi saya berangkat sendiri naik bis dan duduk sebelahan sama seorang ibu umur 50an yang seringkali menyapa Alif (kalo saya naik bis sama dia). Kami duduk sebelahan dan mulai ngobrol basa-basi tentang cuaca, tentang si Alif yang udah masuk Kindergarten, dll. Mendekati tujuan akhir kami, dia bertanya dari mana asal saya dan sudah berapa lama di Jerman. Percakapan yang hampir sama dengan atas kembali berulang. Ahseek *kembali senyum-senyum ge-er*. Obrolan berlanjut sedikit tentang komunitas Indonesia,
Saya : Es gibt eigentich viele IndonesierInnen in Deutschland, insbesondere in größe Städte wie in Berlin, Hamburg, Bonn, Köln. Leider nicht zu viele in Osnabrück. Aber ja..gut Ich kann auch mit andere Leute befreunden." (Sebenarnya banyak orang Indonesia tinggal di Jerman, terutama di kota besar seperti di Berlin, Hamburg, Bonn, Köln. Sayangnya tidak terlalu banyak di Osnabrück. Tapi tidak apa-apa, saya jadi bisa berteman dengan orang-orang lainnya).
Ibu baik hati : "Ja..und auch nicht gut wenn man nur mit der Leute aus eigenem Land immer zusammen, dann verbessert die Sprache auch nicht." (Ya..dan kalo orang mainnya cuma sama orang yang senegara juga ga bagus, bahasa Jermannya pun tidak akan bertambah bagus).
Tuh kan..walopun merasa diri ga Pede kalo ngomong Jerman, tapi ternyata kata orang udah lumayan. Cuma butuh banyak latihan aja buat lebih memperlancar. Jangan takut diketawain, biasanya orang malah menghargai usaha kita untuk ngomong pake bahasa mereka.
Nah kalo mau lancar berbahasa Jerman, jangan lupa dipakai bahasanya..biar ga menguap. Percuma kan kita udah nguasain grammar kalo ga pernah latihan ngomong.
Perjalanan belajar bahasa Jerman saya pernah ditulis juga di sini dan di sana.
Belajar bahasa Jerman ga cuma bisa dilakukan di ruangan kelas yang membosankan, tapi bisa dimana saja. Misalnya, beberapa hal yang saya alami akhir-akhir ini.
Kejadian #1
Saya sedang menunggu bis yang sudah terlambat beberapa menit dari jadwal seharusnya. Di halte tersebut ada seorang nenek yang juga sedang menunggu bus yang sama. Mungkin karena bosan menunggu bus datang, nenek tersebut mulai berbicara basa-basi pada saya. Dia berbicara tentang jalanan depan kami yang sangat berisik..bahwa jika berjalan kaki, dia selalu menghindari jalan besar karena tidak mau mendengar berisiknya kendaraan yang lalu lalang. Saya menimpali, bahwa dari apartemen saya juga suara ramai jalanan cukup terdengar. Kemudian kami masih mengobrol tentang hal-hal remeh temeh lainnya. Bahwa nenek itu lebih suka jalan-jalan di hutan yang tenang, dan lain-lain. Ketika bus sudah terlihat, nenek tersebut bertanya,
Nenek : "Wie lange haben Sie schon hier in Osnabrück?" (berapa lama anda sudah tinggal di Osnabrück?)
Saya : "Ich bin schon hier fast 2 Jahre" (saya sudah tinggal di sini selama hampir dua tahun).
Nenek : "Aber Ihre Deutsch ist schon sehr gut. Sie können schon mit uns unterhalten." (tapi bahasa Jerman anda sudah bagus. Anda sudah bisa mengobrol dengan kami).
Saya : (dalam hati: ahseeek). Danke *sambil senyum-senyum ge-er* :D
Kejadian #2
Tadi pagi saya berangkat sendiri naik bis dan duduk sebelahan sama seorang ibu umur 50an yang seringkali menyapa Alif (kalo saya naik bis sama dia). Kami duduk sebelahan dan mulai ngobrol basa-basi tentang cuaca, tentang si Alif yang udah masuk Kindergarten, dll. Mendekati tujuan akhir kami, dia bertanya dari mana asal saya dan sudah berapa lama di Jerman. Percakapan yang hampir sama dengan atas kembali berulang. Ahseek *kembali senyum-senyum ge-er*. Obrolan berlanjut sedikit tentang komunitas Indonesia,
Saya : Es gibt eigentich viele IndonesierInnen in Deutschland, insbesondere in größe Städte wie in Berlin, Hamburg, Bonn, Köln. Leider nicht zu viele in Osnabrück. Aber ja..gut Ich kann auch mit andere Leute befreunden." (Sebenarnya banyak orang Indonesia tinggal di Jerman, terutama di kota besar seperti di Berlin, Hamburg, Bonn, Köln. Sayangnya tidak terlalu banyak di Osnabrück. Tapi tidak apa-apa, saya jadi bisa berteman dengan orang-orang lainnya).
Ibu baik hati : "Ja..und auch nicht gut wenn man nur mit der Leute aus eigenem Land immer zusammen, dann verbessert die Sprache auch nicht." (Ya..dan kalo orang mainnya cuma sama orang yang senegara juga ga bagus, bahasa Jermannya pun tidak akan bertambah bagus).
Tuh kan..walopun merasa diri ga Pede kalo ngomong Jerman, tapi ternyata kata orang udah lumayan. Cuma butuh banyak latihan aja buat lebih memperlancar. Jangan takut diketawain, biasanya orang malah menghargai usaha kita untuk ngomong pake bahasa mereka.
Nah kalo mau lancar berbahasa Jerman, jangan lupa dipakai bahasanya..biar ga menguap. Percuma kan kita udah nguasain grammar kalo ga pernah latihan ngomong.
Perjalanan belajar bahasa Jerman saya pernah ditulis juga di sini dan di sana.
Thursday, October 2, 2014
Cerita dari Münster
Daripada stress liat berita politik Indonesia yang suram, mending ngeblog hal-hal yang menyenangkan :) Salah satu hal menyenangkan menurut saya adalah Kota Münster. Dari bulan April sampai akhir Sept, kami sekeluarga tinggal di Münster. DAAD menempatkan saya untuk belajar Bahasa Jerman selama enam bulan di Kapito Sprachschule Münster.
Kami pertama kali tiba di Münster tanggal 31 Maret 2014, setelah mendarat di Frankfurt dari Indonesia. Frankfurt-Münster dengan kereta ditempuh kira-kira 4 jam (dengan kereta ICE). Keluar dari Hauptbahnhof, kami langsung nyari bis yang menuju ke flat kami di Kinderhaus (Flat furnished ini udah disewa duluan lewat agen). Saat itu cuaca musim semi masih sangat dingin..mungkin sekitar 7 derajat. Dengan bawaan segambreng, kami naik bus nomor 15 jurusan Kinderhaus Brüningheide.
Sampai di flat, ambil kunci di tetangga, dikasih tau ini itu soal pemanas (Heizung), exhaust, mesin cuci, dll. Flat yang kami sewa ini cukup luas, sekitar 75 meter persegi, dengan harga 590 Euro *nangis bombay *mahalnyoo. Terletak di lantai dasar (Erdgeschoss) dengan perabotan dan dapur lengkap plus sepetak halaman berumput. Ya..alhamdulillah lah untuk memulai hidup baru. Karena perbekalan dari Indonesia cukup lengkap untuk awal-awal, kami tidak langsung belanja bahan makanan. Sedikit beras (plus rice cookernya), sambel bu rudi, makanan kering, bumbu bamboe, dll jadi andalan.
Keesokan harinya, mulailah kami menjajaki kota. Münster terletak di Bundesland (negara Federal, kalo di Indonesia semacem provinsi) Nord Rhein Westfalen atau dalam bahasa Inggris North Rhine Westphalia. Letak Münster sekitar 1-3 jam dari Dortmund, Köln (inggrisnya: Cologne), Bonn (bekas ibu kota Jerman Barat), dan Düsseldorf (ibukota Bundesland Nord Rhein Westfalen). Yang terpenting, Münster ini letaknya berdekatan dengan Osnabrück, kota tempat saya akan melanjutkan studi nanti :D
Bundesland Nord-Rhein-Westfalen sendiri sebetulnya terdiri dari dua wilayah, yaitu Nord Rhein (di sebelah utara sungai Rhein) dan Westfalen. Kota-kota yang dialiri sungai Rhein seperti Düsseldorf, Köln, Bonn masuk wilayah Nord-Rhein. Sementara Münster, fitrahnya masuk wilayah Westfalen. Nord-Rhein Westfalen dijadikan satu bundesland oleh Inggris, pasukan Sekutu yang menguasai wilayah ini setelah Perang Dunia II. Nord Rhein-Westfalen adalah bundesland yang penduduknya paling banyak se-Jerman.
Münster sendiri tidak sebesar kota-kota Jerman yang terkenal secara internasional semacem Frankfurt atau Berlin. Yang menarik, sebagian besar penduduk Münster adalah mahasiswa. University of Münster adalah universitas terbesar keempat di Jerman. Selain terkenal sebagai kota pelajar, Münster juga terkenal sebagai "kota PNS" atau "Beamte Stadt", karena sebagian besar orang dewasanya bekerja sebagai PNS. Karena "Beamte Stadt" itu pula, penduduk Münster sebagian besar makmur (tajir). Di Jerman, gaji PNS termasuk besar :D Kemakmuran inilah yang menyebabkan biaya hidup di Münster mahal. Biaya sewa flat/apartemen/kos-kosan cukup mahal.
Meskipun mahal, ada sisi positif yang membuat Münster akan selalu dikenang ;) Kota ini sangat rapi dan cantik. Perbandingannya bukan kota-kota di Indonesia, tapi kota-kota lain di Jerman. Setelah melihat beberapa kota di sini, saya baru paham, bahwa ada juga kota-kota yang agak semerawut *meskipun ya ga separah Jakarta* :D. Sebagai "Beamte Stadt", tentunya pemerintah kota Münster menyediakan dana berlebih untuk menjaga kerapian dan kecantikan kotanya. Altstadt (kota tua) Münster sangat bersih dan rapi. Padahal kota ini 80% hancur setelah perang dunia dua. Pemerintah kota melakukan rekonstruksi secara sempurna. Ga keliatan kalo Münster pernah porak-poranda.
Münster punya banyak tempat yang bisa digunakan warganya untuk bersantai. Yang pertama adalah Promenade. Promenade ini bentuknya jalan kecil yang kiri-kanannya ditumbuhi pepohonan, melingkari bagian dalam kota (zentrum). Promenade ini panjangnya sekitar 4,5 km. Menurut saya, Promenade ini masterpiece nya Münster! Ini salah satu kelebihan Münster yang tidak dimiliki kota-kota lain di Jerman. Promenade hanya boleh dilewati sepeda dan pejalan kaki. Kota lain, misalnya Osnabrück, punya juga semacem Promenade. Namun panjangnya hanya 500 meter.
Jalur utama biasanya digunakan untuk sepeda. Jalur pejalan kaki terletak di pinggir kanan dan kiri. Tanpa mobil, tanpa motor! Sebagai mantan penghuni Jakarta yang mobil dan motornya brutal, Promenade ini berkah banget buat saya :D Menurut sejarah, promenade ini dulunya adalah benteng pertahanan yang mengelilingi kota. Ketika benteng dirubuhkan, warga kota menginginkan kehijauan dan keasrian kota tetap terjaga dengan membuat promenade seperti yang sekarang. Saat ini promenade biasanya digunakan warga sebagai tempat jogging, sepedaan, atau sekedar jalan kaki menghirup udara segar. Jika kita menusuri Promenade, kita bisa menemukan taman-taman hijau cantik serta bangunan-bangunan tua yang tersembunyi di tengah rimbun pohon.
Masterpiece nomor dua dari Münster menurut saya adalah Aasee (danau). Aasee ini adalah danau buatan seluas 40,2 hektar dan panjangnya kira-kira 2,3 km. Yang membuatnya keren adalah ruang terbuka hijau di sekitar Aasee. Lega, rapi, dan hijau. Orang bisa grillen (barbeque-an), ngerayain ulang tahun, duduk-duduk baca buku, liatin bebek berenang, main sama anak-anak, bahkan, beberapa anak muda sunbathing kayak di pantai pas cuaca cerah. Selain beraktifitas di pinggirannya, kita juga naik sepeda air (semacem bebek-bebekan kayuh) mengelilingi Aasee. Tarik napas...hemmm...ahhh...membayangkannya saja saya jadi relax :)
Tempat-tempat lain yang sungguh memanusiakan manusia adalah banyaknya playground dan taman. Taman-taman dan playgroundnya luas, dengan banyak mainan, dan gratis. Anggap saja saya mengalami culture shock (alias norak :p). Tapi hal-hal kecil seperti itulah yang betul-betul saya nikmati.
Kami pertama kali tiba di Münster tanggal 31 Maret 2014, setelah mendarat di Frankfurt dari Indonesia. Frankfurt-Münster dengan kereta ditempuh kira-kira 4 jam (dengan kereta ICE). Keluar dari Hauptbahnhof, kami langsung nyari bis yang menuju ke flat kami di Kinderhaus (Flat furnished ini udah disewa duluan lewat agen). Saat itu cuaca musim semi masih sangat dingin..mungkin sekitar 7 derajat. Dengan bawaan segambreng, kami naik bus nomor 15 jurusan Kinderhaus Brüningheide.
Sampai di flat, ambil kunci di tetangga, dikasih tau ini itu soal pemanas (Heizung), exhaust, mesin cuci, dll. Flat yang kami sewa ini cukup luas, sekitar 75 meter persegi, dengan harga 590 Euro *nangis bombay *mahalnyoo. Terletak di lantai dasar (Erdgeschoss) dengan perabotan dan dapur lengkap plus sepetak halaman berumput. Ya..alhamdulillah lah untuk memulai hidup baru. Karena perbekalan dari Indonesia cukup lengkap untuk awal-awal, kami tidak langsung belanja bahan makanan. Sedikit beras (plus rice cookernya), sambel bu rudi, makanan kering, bumbu bamboe, dll jadi andalan.
Keesokan harinya, mulailah kami menjajaki kota. Münster terletak di Bundesland (negara Federal, kalo di Indonesia semacem provinsi) Nord Rhein Westfalen atau dalam bahasa Inggris North Rhine Westphalia. Letak Münster sekitar 1-3 jam dari Dortmund, Köln (inggrisnya: Cologne), Bonn (bekas ibu kota Jerman Barat), dan Düsseldorf (ibukota Bundesland Nord Rhein Westfalen). Yang terpenting, Münster ini letaknya berdekatan dengan Osnabrück, kota tempat saya akan melanjutkan studi nanti :D
Bundesland Nord-Rhein-Westfalen sendiri sebetulnya terdiri dari dua wilayah, yaitu Nord Rhein (di sebelah utara sungai Rhein) dan Westfalen. Kota-kota yang dialiri sungai Rhein seperti Düsseldorf, Köln, Bonn masuk wilayah Nord-Rhein. Sementara Münster, fitrahnya masuk wilayah Westfalen. Nord-Rhein Westfalen dijadikan satu bundesland oleh Inggris, pasukan Sekutu yang menguasai wilayah ini setelah Perang Dunia II. Nord Rhein-Westfalen adalah bundesland yang penduduknya paling banyak se-Jerman.
Münster sendiri tidak sebesar kota-kota Jerman yang terkenal secara internasional semacem Frankfurt atau Berlin. Yang menarik, sebagian besar penduduk Münster adalah mahasiswa. University of Münster adalah universitas terbesar keempat di Jerman. Selain terkenal sebagai kota pelajar, Münster juga terkenal sebagai "kota PNS" atau "Beamte Stadt", karena sebagian besar orang dewasanya bekerja sebagai PNS. Karena "Beamte Stadt" itu pula, penduduk Münster sebagian besar makmur (tajir). Di Jerman, gaji PNS termasuk besar :D Kemakmuran inilah yang menyebabkan biaya hidup di Münster mahal. Biaya sewa flat/apartemen/kos-kosan cukup mahal.
Meskipun mahal, ada sisi positif yang membuat Münster akan selalu dikenang ;) Kota ini sangat rapi dan cantik. Perbandingannya bukan kota-kota di Indonesia, tapi kota-kota lain di Jerman. Setelah melihat beberapa kota di sini, saya baru paham, bahwa ada juga kota-kota yang agak semerawut *meskipun ya ga separah Jakarta* :D. Sebagai "Beamte Stadt", tentunya pemerintah kota Münster menyediakan dana berlebih untuk menjaga kerapian dan kecantikan kotanya. Altstadt (kota tua) Münster sangat bersih dan rapi. Padahal kota ini 80% hancur setelah perang dunia dua. Pemerintah kota melakukan rekonstruksi secara sempurna. Ga keliatan kalo Münster pernah porak-poranda.
![]() |
| pemandangan malam di Prinzipalmarkt, kota tua Münster |
![]() |
| Promenade Münster. Photo taken by Rüdiger Wölk |
Masterpiece nomor dua dari Münster menurut saya adalah Aasee (danau). Aasee ini adalah danau buatan seluas 40,2 hektar dan panjangnya kira-kira 2,3 km. Yang membuatnya keren adalah ruang terbuka hijau di sekitar Aasee. Lega, rapi, dan hijau. Orang bisa grillen (barbeque-an), ngerayain ulang tahun, duduk-duduk baca buku, liatin bebek berenang, main sama anak-anak, bahkan, beberapa anak muda sunbathing kayak di pantai pas cuaca cerah. Selain beraktifitas di pinggirannya, kita juga naik sepeda air (semacem bebek-bebekan kayuh) mengelilingi Aasee. Tarik napas...hemmm...ahhh...membayangkannya saja saya jadi relax :)
![]() |
| salah satu tepi Aasee Münster |
Saturday, September 13, 2014
Udaaah....
Minggu ini rasanya legaaa.....Kamis 11 Sept kmaren, adalah hari test bahasa jerman saya (TestDAF-Test Deutsch als Fremdsprache/Test of German as Foreign Language). Agak nekat sebenernya ngambil tes ini..buat yg baru belajar Jerman 5 bulan kyk saya. Tapi yaa...que sera sera lah..yang penting udah usaha :D
Kalo hasilnya dapet level 3 ajapun, sudah cukup bagi saya. Karena kuliah nanti malah sebagian besar pake bahasa enggres. Terus kenapa harus belajar Jerman? Karena ya syarat dari Uni nya..kami harus ngasih sertifikat TestDAF. Plus karena beasiswa saya ini kan dari uang pembayar pajak di Jerman yaa..jadi minimal harus paham lah bahasa lokal :p
Setelah test ini, perasaan saya jadi lebih ringan. Kayak satu beban lepas dari hati. Saya tetap masih harus kursus Jerman sampe tanggal 26 Sept, tapi ya ga terlalu membebani..kayak belajar sehari-hari aja.
Sementara itu, matrikulasi di kampus baru mulai tanggal 6 Okt. Lumayan..ada waktu beberapa hari buat bersantai kayak dipantai :))
Update:
Kalo hasilnya dapet level 3 ajapun, sudah cukup bagi saya. Karena kuliah nanti malah sebagian besar pake bahasa enggres. Terus kenapa harus belajar Jerman? Karena ya syarat dari Uni nya..kami harus ngasih sertifikat TestDAF. Plus karena beasiswa saya ini kan dari uang pembayar pajak di Jerman yaa..jadi minimal harus paham lah bahasa lokal :p
Setelah test ini, perasaan saya jadi lebih ringan. Kayak satu beban lepas dari hati. Saya tetap masih harus kursus Jerman sampe tanggal 26 Sept, tapi ya ga terlalu membebani..kayak belajar sehari-hari aja.
Sementara itu, matrikulasi di kampus baru mulai tanggal 6 Okt. Lumayan..ada waktu beberapa hari buat bersantai kayak dipantai :))
![]() |
| gambar dari sini |
Update:
Tanggal 23 Okt hasil TestDaf nya keluar. Secara umum hasilnya memenuhi syarat dari uni dan ga perlu ngulang lagi. Horee!!
Wednesday, May 14, 2014
Belajar Bahasa Jerman (lagi) #1
Mulai awal April kemarin sampai September, kerjaan saya adalah belajar bahasa Jerman di Kapito Sprachschule Muenster. Itu aja. Belum ada kuliah, karena kuliah saya akan mulai Oktober nanti. Di bulan September, saya harus ikut TEST DAF (semacem TOEFLnya bahasa Jerman).
Dulu banget waktu masih kuliah di U-En-Pe-A-De saya pernah les Jerman privat iseng-iseng sama temen yang kuliah di jurusan sastra Jerman. Ya..namanya iseng-iseng, cuma tahan 2 bulanan, terus brenti. Setelah itu, saya baru mulai belajar lagi Bahasa Jerman pas udah mutusin mau ambil beasiswanya. Itupun, cuma lewat android apps "Duolingo". Pengen les Goethe, ga ada waktu dan no hepeng. Plus saya pikir, ntar begitu nyampe Jerman juga masuk kursusnya di kelas beginner.
Singkat cerita pas hari pertama kursus, semua anak DAAD ditanya, level Bahasa Jermannya apa. Saya jawab "beginner, but not an absolute beginner". Ternyata oh ternyata..jawaban saya jadi boomerang..karena jawaban itu, saya harus ikut placement test. Sementara anak-anak yang "absolute beginner", ga perlu ikut placement test dan langsung masuk kelas beginner (A1). Parahnya, hasil tes menempatkan saya di kelas A2, yang mana ketika udah mulai belajar, saya bener-bener buta sampai pengen nangis ditempat T_T. Saya ga paham sama sekali gurunya ngomong apa, mana di kelas ga boleh sama sekali pake Inggris. Sempat dua kali saya nyoba mau pindah ke kelas A1, tapi selalu ketauan sama pihak Sprachkurs dan dinasehatin bahwa sebaiknya saya di kelas A2, karena univ saya mengharuskan mahasiswanya menyerahkan sertifikat TEST DAF. Katanya, kalo saya di kelas A1, saya ga akan mampu ngerjain soal TEST DAFnya. Saya ditawari untuk nyoba dulu di kelas A2, kalo merasa ga mampu, setelah 2 minggu boleh turun ke A1. Pihak sprachkurs pun menyarankan saya untuk ikut kelas tambahan dua kali seminggu, plus kalo merasa perlu, disarankan untuk ikut kelas homework helf sore-sore.
Akhirnya, bismillah aja lah..saya berusaha keras banget..kayaknya dobel dibanding anak-anak lain di kelas. Soalnya kalo ngga, saya cengo sorangan teu ngarti..plus gengsi laah...malu kalo keliatan bego dikelas -_- Saya minta soal latihan sebanyak-banyaknya, rajin nyatet, rajin belajar, dsb. Jam kursus yang seharusnya cuma Senin-Jumat jam 09.00-12.30, jadi ditambah kelas intensif tiap Selasa & Rabu, dari jam 13.30-15.00. Plus kalo ada grammar yang buta sama sekali, saya ikut kelas Homework Help dari jam 15.00-17.00.
Menjelang tes rutin yang dilaksanakan pada minggu ke-3 dan ke-4, saya belajar makin lebay. Bangun jam 2 pagi pas bocah masih tidur, langsung belajar grammar, ngulang-ngulang latihan, dll. Semua kerja keras mulai terlihat hasilnya di minggu ke 4. Hasil tes yang pertama nilainya lumayan baguus :D Plus jadi lebih bisa paham pelajaran-pelajaran selanjutnya. Saya mulai bisa memahami 80 % omongan guru di kelas. Kalo belanja di supermarkt, udh bisa ngomong ato nanya pake bhs jerman. Yang jadi masalah, seringkali orang yang saya tanya ngejawab cepet-cepet dikira saya ngerti -_-.
Menginjak pertengahan bulan kedua kursus, Saya masih merasa kurang banyak belajar. Kemampuan listening, speaking dan writing saya masih perlu terus diasah *yaiyalah..kalo udah jago mah ga perlu kursus lagi keles!
Sekian curhat geje dari Saya,
Tschuss!
Dulu banget waktu masih kuliah di U-En-Pe-A-De saya pernah les Jerman privat iseng-iseng sama temen yang kuliah di jurusan sastra Jerman. Ya..namanya iseng-iseng, cuma tahan 2 bulanan, terus brenti. Setelah itu, saya baru mulai belajar lagi Bahasa Jerman pas udah mutusin mau ambil beasiswanya. Itupun, cuma lewat android apps "Duolingo". Pengen les Goethe, ga ada waktu dan no hepeng. Plus saya pikir, ntar begitu nyampe Jerman juga masuk kursusnya di kelas beginner.
Singkat cerita pas hari pertama kursus, semua anak DAAD ditanya, level Bahasa Jermannya apa. Saya jawab "beginner, but not an absolute beginner". Ternyata oh ternyata..jawaban saya jadi boomerang..karena jawaban itu, saya harus ikut placement test. Sementara anak-anak yang "absolute beginner", ga perlu ikut placement test dan langsung masuk kelas beginner (A1). Parahnya, hasil tes menempatkan saya di kelas A2, yang mana ketika udah mulai belajar, saya bener-bener buta sampai pengen nangis ditempat T_T. Saya ga paham sama sekali gurunya ngomong apa, mana di kelas ga boleh sama sekali pake Inggris. Sempat dua kali saya nyoba mau pindah ke kelas A1, tapi selalu ketauan sama pihak Sprachkurs dan dinasehatin bahwa sebaiknya saya di kelas A2, karena univ saya mengharuskan mahasiswanya menyerahkan sertifikat TEST DAF. Katanya, kalo saya di kelas A1, saya ga akan mampu ngerjain soal TEST DAFnya. Saya ditawari untuk nyoba dulu di kelas A2, kalo merasa ga mampu, setelah 2 minggu boleh turun ke A1. Pihak sprachkurs pun menyarankan saya untuk ikut kelas tambahan dua kali seminggu, plus kalo merasa perlu, disarankan untuk ikut kelas homework helf sore-sore.
![]() |
| Foto dari sini |
Akhirnya, bismillah aja lah..saya berusaha keras banget..kayaknya dobel dibanding anak-anak lain di kelas. Soalnya kalo ngga, saya cengo sorangan teu ngarti..plus gengsi laah...malu kalo keliatan bego dikelas -_- Saya minta soal latihan sebanyak-banyaknya, rajin nyatet, rajin belajar, dsb. Jam kursus yang seharusnya cuma Senin-Jumat jam 09.00-12.30, jadi ditambah kelas intensif tiap Selasa & Rabu, dari jam 13.30-15.00. Plus kalo ada grammar yang buta sama sekali, saya ikut kelas Homework Help dari jam 15.00-17.00.
Menjelang tes rutin yang dilaksanakan pada minggu ke-3 dan ke-4, saya belajar makin lebay. Bangun jam 2 pagi pas bocah masih tidur, langsung belajar grammar, ngulang-ngulang latihan, dll. Semua kerja keras mulai terlihat hasilnya di minggu ke 4. Hasil tes yang pertama nilainya lumayan baguus :D Plus jadi lebih bisa paham pelajaran-pelajaran selanjutnya. Saya mulai bisa memahami 80 % omongan guru di kelas. Kalo belanja di supermarkt, udh bisa ngomong ato nanya pake bhs jerman. Yang jadi masalah, seringkali orang yang saya tanya ngejawab cepet-cepet dikira saya ngerti -_-.
Menginjak pertengahan bulan kedua kursus, Saya masih merasa kurang banyak belajar. Kemampuan listening, speaking dan writing saya masih perlu terus diasah *yaiyalah..kalo udah jago mah ga perlu kursus lagi keles!
Sekian curhat geje dari Saya,
Tschuss!
Monday, April 21, 2014
Cara mendaftar beasiswa Jerman
Beasiswa Jerman yang saya maksud disini adalah beasiswa dari DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst a.k.a German Academic Exchange Service) . Emm..sebetulnya sih kalo mendaftar ya mendaftar aja, tinggal liat website atau infonya, dan urus deh syarat-syarat pendaftarannya. Meskipun begitu, berdasarkan pengalaman pribadi, side info selain dari official website sangat membantu. Nah, siapa tau berguna bagi yang lain, mari kita tuliskan..
Beasiswa yang saya dapat namanya Master's Scholarships for Public Policy and Good Governance (PPGG), untuk yang S1 nya jurusan Hubungan Internasional, Administrasi Negara, dan ilmu sosial yang berhubungan. Beasiswa ini jenisnya full scholarship, alias semua ditanggung. Mulai dari tiket pesawat kita, biaya hidup, biaya riset, sampe family allowance.
Setiap tahun, pendaftaran dimulai April (atau awal Mei) dan biasanya tutup akhir Juli. Jika tertarik untuk mendaftar beasiswa ini, pantengin terus website DAAD Jakarta atau milis-milis beasiswa untuk tahu apakah pendaftaran sudah dibuka atau belum. Berikut ini persyaratan yang harus dilengkapi ketika mendaftar:
Berikut alamat kantor DAAD Jakarta:
DAAD Regional Office Jakarta
Jl. Jend. Sudirman, Kav. 61-62
Summitmas II, 14th Floor
Jakarta 12190
Tel.: +62 (21) 520 08 70, 525 28 07
Fax: +62 (21) 525 28 22
info@daadjkt.org
Persyaratan di atas sebetulnya persyaratan standar untuk berbagai beasiswa DAAD dan juga beasiswa lainnya. Selain program Master Public Policy & Good Governance, DAAD juga banyak menyediakan beasiswa untuk berbagai jurusan. Info lengkap bisa obrak-abrik websitenya DAAD :)
UPDATE
Info ini sengaja saya tambahkan, soalnya ada perubahan prosedur untuk pendaftaran program PPGG DAAD tahun 2014. Mulai 2014, applicant harus mengirimkan aplikasi ke Universitas yang diinginkan. List Uni bisa dilihat di website DAAD. Misalnya, jika tertarik untuk mengambil "Master of Democratic Governance and Civil Society" di Uni Osnabrueck, semua dokumen TIDAK dikirim ke DAAD, melainkan ke Uni Osnabruecknya. Info lebih lengkap bisa dilihat di website DAAD (Jakarta).
Semoga sukses!
Oh ya dan btw, Selamat hari Kartini!
Beasiswa yang saya dapat namanya Master's Scholarships for Public Policy and Good Governance (PPGG), untuk yang S1 nya jurusan Hubungan Internasional, Administrasi Negara, dan ilmu sosial yang berhubungan. Beasiswa ini jenisnya full scholarship, alias semua ditanggung. Mulai dari tiket pesawat kita, biaya hidup, biaya riset, sampe family allowance.
Setiap tahun, pendaftaran dimulai April (atau awal Mei) dan biasanya tutup akhir Juli. Jika tertarik untuk mendaftar beasiswa ini, pantengin terus website DAAD Jakarta atau milis-milis beasiswa untuk tahu apakah pendaftaran sudah dibuka atau belum. Berikut ini persyaratan yang harus dilengkapi ketika mendaftar:
- Formulir aplikasi DAAD, bisa didownload di sini. Harap luangkan waktu lebih awal untuk membaca dan mengisi formulir ini. Meskipun tidak banyak (cuma tiga halaman), tapi tetap harus diisi dengan jeli dan benar. Formulir nya terdiri dari dua bahasa, Inggris dan Jerman. Buat yang belum paham Jermannya, isi saja pake bahasa Inggris. Diketik, jangan tulisan tangan.
- Motivation letter, yang berisi gambaran mengenai alasan akademik dan professional pendaftar untuk berpartisipasi dalam program beasiswa ini. Luangkan waktu juga untuk menulis surat ini lebih awal, tidak perlu sampe sepuluh halaman, cukup sekitar 1,5-2 halaman. Kepanjangan ntar yang baca bosen :D.
- Daftar riwayat hidup (CV) lengkap yang mencakup area studi kita sebelumnya dan deskripsi pengalaman kerja. Lebih baik jika menggunakan template CV standar Eropa atau Europass CV. Bisa didownload di sini. Untuk yang Jermannya belum lancar, bisa pake template CV yang English. Setelah mengeprint CV, jangan lupa untuk menandatanganinya di bagian bawah! (untuk menyatakan bahwa data dalam CV tersebut adalah benar).
- Sertifikat bahasa terbaru. Untuk beasiswa PPGG, yang diminta adalah sertifikat Bahasa Inggris berupa hasil TOEFL (internasional) atau IELTS. Untuk paper based TOEFL, minimum 550 dan IELTS minimum 6. Untuk yang memiliki sertifikat bahasa Jerman (yang pernah Test DaF), harap lampirkan juga.
- Dua surat rekomendasi dari dosen semasa S1 dan/atau dari mantan atasan atau atasan saat ini, yang isinya menyatakan mengapa kita pantas dapet beasiswa ini, menurut mereka (dalam bahasa Inggris).
- Surat dari atasan/kantor saat ini, yang menyatakan bahwa setelah menyelesaikan pendidikan di Jerman (apabila diterima), kita akan kembali ke kantor dan dapat melanjutkan pekerjaan (dalam bahasa Inggris). Point ini tidak wajib, tapi sangat dianjurkan.
- Officially authenticated copies of all certificates. Sertifikat yang dimaksud adalah ijasah S1, transkrip nilai S1, ijasah SMA, akte kelahiran. Lampirkan fotokopi asli (bahasa Indonesia) yang telah dilegalisir dan terjemahannya (bisa dalam bahasa Inggris atau Jerman). Untuk penerjemahan dokumen bahasa Inggris, salah satunya bisa ke sini, dan untuk penerjemahan dokumen dalam bahasa Jerman, bisa lihat di list ini.
- Bukti korespondensi dengan universitas tujuan kita di Jerman (tidak wajib). Untuk beasiswa PPGG ini, kita harus memilih dua dari list universitas yang terdaftar dalam program beasiswa. Informasi universitas biasanya tersedia ketika beasiswa sudah dibuka.
- Research proposal (tidak wajib). Jika sempat, konsultasikan research proposal anda dengan dosen/profesor di universitas yang kita incar.
Berikut alamat kantor DAAD Jakarta:
DAAD Regional Office Jakarta
Jl. Jend. Sudirman, Kav. 61-62
Summitmas II, 14th Floor
Jakarta 12190
Tel.: +62 (21) 520 08 70, 525 28 07
Fax: +62 (21) 525 28 22
info@daadjkt.org
Persyaratan di atas sebetulnya persyaratan standar untuk berbagai beasiswa DAAD dan juga beasiswa lainnya. Selain program Master Public Policy & Good Governance, DAAD juga banyak menyediakan beasiswa untuk berbagai jurusan. Info lengkap bisa obrak-abrik websitenya DAAD :)
UPDATE
Info ini sengaja saya tambahkan, soalnya ada perubahan prosedur untuk pendaftaran program PPGG DAAD tahun 2014. Mulai 2014, applicant harus mengirimkan aplikasi ke Universitas yang diinginkan. List Uni bisa dilihat di website DAAD. Misalnya, jika tertarik untuk mengambil "Master of Democratic Governance and Civil Society" di Uni Osnabrueck, semua dokumen TIDAK dikirim ke DAAD, melainkan ke Uni Osnabruecknya. Info lebih lengkap bisa dilihat di website DAAD (Jakarta).
Semoga sukses!
Oh ya dan btw, Selamat hari Kartini!
Friday, March 21, 2014
Visanya keluar ^_^
Visa saya, suami dan si @AlifDipantara baru diajukan tanggal 12 Maret minggu lalu, padahal saya sudah beli tiket untuk saya sendiri, tanggal 30 Maret..uwow..agak-agak nekat yaa.. Pengajuan visa agak mepet karena ini-itu perintilan, mulai dari legalisir dokumen, terjemahan, general check up, dll..dll. Padahal penerima beasiswa yang satu lagi visanya sudah keluar dari tanggal 9, sementara punya Saya dan keluarga baru diajuin tgl 12! Meskipun mepet, tapi persyaratan memang dilengkapi selengkap-lengkapnya. Petugas visa di kedutaan memberikan jadwal pengambilan tanggal 17 Maret, "Coba dulu ya tanggal 17", katanya.
Hari Senin tanggal 17 kemarin, suami ke kedutaan dengan harap-harap cemas..apakah visanya sudah keluar? Apakah keluar semua atau punya saya saja. Yang ternyata, pulang dengan tangan hampa. Disuruh nunggu tanpa ada clue, kira-kira kapan si visa akan keluar.
Kemarin, Kamis tanggal 20, Saya coba e-mail ke bagian visa di kedutaan Jerman. Nanya, apakah visa kami bertiga sudah selesei. Tak lama, ada balasan yang isinya:
Kind regards
*ga sempet marah meskipun dipanggil mister :p
Yeyeyeyey!! Akhirnya segala usaha terbayar..visa keluarga yang dengan waktu normal butuh waktu 6-8 minggu, keluar dalam waktu seminggu. Alhamdulillah..bisa berangkat bareng Alif dan bapaknya :')
Meskipun begitu, rasa sedih kembali muncul, karena tinggal menghitung hari untuk ninggalin tanah air..keluarga, teman-teman, makanan kesukaan...
Hari Senin tanggal 17 kemarin, suami ke kedutaan dengan harap-harap cemas..apakah visanya sudah keluar? Apakah keluar semua atau punya saya saja. Yang ternyata, pulang dengan tangan hampa. Disuruh nunggu tanpa ada clue, kira-kira kapan si visa akan keluar.
Kemarin, Kamis tanggal 20, Saya coba e-mail ke bagian visa di kedutaan Jerman. Nanya, apakah visa kami bertiga sudah selesei. Tak lama, ada balasan yang isinya:
Dear Mr Tatat*,
Your visas have been issued today and can be picked up.
Visa Section
Embassy of the Federal Republic of Germany*ga sempet marah meskipun dipanggil mister :p
Yeyeyeyey!! Akhirnya segala usaha terbayar..visa keluarga yang dengan waktu normal butuh waktu 6-8 minggu, keluar dalam waktu seminggu. Alhamdulillah..bisa berangkat bareng Alif dan bapaknya :')
Meskipun begitu, rasa sedih kembali muncul, karena tinggal menghitung hari untuk ninggalin tanah air..keluarga, teman-teman, makanan kesukaan...
Monday, March 3, 2014
Friday, February 7, 2014
Another dream
Setelah pengumuman keterima beasiswa Jerman tanggal 11 Des 2013 yang lalu, akhirnya hari ini, 7 Februari 2014, dengan tegas Saya bilang sama Pak direktur kalo Saya memutuskan untuk berangkat. Meskipun sebetulnya saya sudah mengiyakan pada lembaga pemberi beasiswa sejak tanggal 2 Januari 2014, tapi saya anggap keputusan finalnya baru hari ini.
Tadinya saya sempat tarik ulur antara berangkat sekolah atau apply untuk posisi atasan saya yg masih kosong *yang sebetulnya selama ini kerjaannya sudah saya lakukan*. Pak Dir, Bu Dir, dan Mba PM pun sebetulnya antara memberi lampu hijau kalo kapasitas saya boleh diuji untuk jadi PO. But then it took too long for the Dir to decide. Ada struktur rumit antara dua project yang harus dipertimbangkan juga. Well..then I have to decide. Soalnya semua proses persiapan harus segera dilakukan. Legalisir-legalisir dokumen, penerjemahan dokumen ke bahasa Jerman, persiapan keluarga, dll. Kalo saya masih harus menunggu sampai ada kejelasan antara dua struktur dll, it would be too late for everything.
Jadi sekarang mah..bismillah aja..mulai ngelist apa-apa yang harus disiapkan: medical check-up sekeluarga, legalisir dan penerjemahan dokumen, cari asuransi kesehatan untuk keluarga, siap-siap jaminan uang, cari apartemen, dll. Lots of things to do. Plus, kerjaan kantor yang tersisa pun harus tetap saya urus. Beresin file di server maupun hard copy nya, bikin handover notes, sampe bantuin kantor cari kandidat pengganti.
Memang bener banget ya..ga semua apa yang kita inginkan akan kita dapatkan. Kerjaan impian yang menyenangkan ini, ternyata umurnya enam bulan saja. Then here comes another dream..
Dan saya bilang ke Pak Dir: "I'll be back after two years" :D
Tadinya saya sempat tarik ulur antara berangkat sekolah atau apply untuk posisi atasan saya yg masih kosong *yang sebetulnya selama ini kerjaannya sudah saya lakukan*. Pak Dir, Bu Dir, dan Mba PM pun sebetulnya antara memberi lampu hijau kalo kapasitas saya boleh diuji untuk jadi PO. But then it took too long for the Dir to decide. Ada struktur rumit antara dua project yang harus dipertimbangkan juga. Well..then I have to decide. Soalnya semua proses persiapan harus segera dilakukan. Legalisir-legalisir dokumen, penerjemahan dokumen ke bahasa Jerman, persiapan keluarga, dll. Kalo saya masih harus menunggu sampai ada kejelasan antara dua struktur dll, it would be too late for everything.
Jadi sekarang mah..bismillah aja..mulai ngelist apa-apa yang harus disiapkan: medical check-up sekeluarga, legalisir dan penerjemahan dokumen, cari asuransi kesehatan untuk keluarga, siap-siap jaminan uang, cari apartemen, dll. Lots of things to do. Plus, kerjaan kantor yang tersisa pun harus tetap saya urus. Beresin file di server maupun hard copy nya, bikin handover notes, sampe bantuin kantor cari kandidat pengganti.
Memang bener banget ya..ga semua apa yang kita inginkan akan kita dapatkan. Kerjaan impian yang menyenangkan ini, ternyata umurnya enam bulan saja. Then here comes another dream..
Dan saya bilang ke Pak Dir: "I'll be back after two years" :D
Subscribe to:
Posts (Atom)







