Showing posts with label #randomthought. Show all posts
Showing posts with label #randomthought. Show all posts

Monday, April 4, 2016

My two cents about traveling


Ada hal lucu yang akhir-akhir ini bikin saya senyum-senyum. Hal ini berkaitan dengan traveling atau melakukan perjalanan. Sejak 10-15 tahun terakhir, traveling sebagai satu aktifitas benar-benar booming. Terutama di kalangan kelas menengah. Saya dan banyak teman-teman, blogger, serta mayoritas manusia di seluruh dunia akan mengakui traveling sebagai hobi dan sebagai passion utama. Lebih spesifik lagi, banyak yang mengaku punya hubungan khusus dengan traveling. Seorang teman asal Vietnam mengaku sangat menyukai traveling karena kakeknya dulu juga suka traveling. 

Ada lagi yang bilang, traveling itu cara hidup, bukan gaya hidup. Adalagi quote mengatakan, "The World Is a Book and Those Who Do Not Travel Read Only One Page." Serta banyak banget orang membagi quote-quote semacem: “Merugilah orang-orang yang tidak melakukan perjalanan.” Yang kemudian banyak orang merasa, kalo udah traveling kemana-mana berarti hebat. Atau banyak teman-teman di kampong halaman yang memandang hebat orang yang merantau jauh, apalagi sampai ke luar negeri.

Sebenarnya sih tidak ada yang aneh dengan mengakui traveling sebagai hobi. Tapi yang menurut saya agak lucu, banyak orang yang merasa hanya dia saja yang punya hobi atau punya hubungan khusus dengan traveling. Padahal, mayoritas manusia kelas menengah di dunia−yang setidaknya ga perlu mikirin day to day survival− hobi utamanya ya traveling, bahkan sejak jaman belum ada pesawat terbang. Jadi punya hobi traveling itu biasa aja bro, sis.

Saya kemudian kepikiran bagaimana dengan orang-orang yang ga punya uang untuk traveling? Bagaimana dengan keluarga-keluarga yang cuma punya uang untuk makan hari itu? Bagaimana dengan orang yang punya keterbatasan fisik atau sedang sakit? Masihkah anda mau membagi kata-kata “those who do not travel read only one page of a book”? Apalagi posting quotenya dibarengi dengan posting foto-foto hasil liburan terbaru.

Kalo ditelaah lebih jauh dalam diri sendiri, seringkali saya bertanya-tanya. “Apa sih tujuan lo traveling? Buat gaya-gayaan di sosmed kah? Atau buat ngisi blog biar kemudian orang terkagum-kagum sama isi blog lo? Mau pamer daftar negara yang pernah dikunjungi?“ #jleb. Waktu masih jaman ababil di sosial media, beberapa hal di atas benar adanya pernah saya rasakan (yakin lo sekarang ngga lagi? #uhuk).

Jujur aja, sekarang saya lebih realistis. Saya melakukan perjalanan karena ingin mengenal tempat, orang-orang, makanan dan kehidupan lain di tempat tujuan. Saya melakukan perjalanan karena kemudian ingin menulisnya di blog saya dan teman, agar bisa menghasilkan uang..haha (kurang realistis apa coba?). Saya melakukan perjalanan untuk mengenalkan kepada anak saya bahwa dunia tidak hanya selebar batas-batas geografis, agama, status sosial dan ras.


Tapi perjalanan yang saya maksud pun bukan berarti perjalanan jauh naik bis, kereta, mobil, atau pesawat terbang. Perjalanan ini ga harus selalu ngabisin duit tabungan hasil kerja berbulan-bulan. Atau ngabisin jatah yang harusnya dipake buat bayar utang atau buat tabungan pensiun #eh. Atau ngabisin duit yang seharusnya buat tabungan pendidikan anak (#emakemakbanget). Bahkan sekedar jalan-jalan di sekitar rumah atau di taman saya anggap sudah cukup. Banyak hal sederhana yang bisa dijadikan bahan mengobrol dengan anak. Tentang anak-anak lain yang main di playground, tentang bebek-bebek di danau, tentang bentuk awan yang terlihat seperti bola, dan lain-lain.


Terus intinya mau ngomong apa sih? Ya ga ada sih..Cuma catatan pengingat buat diri sendiri biar ga takabur. Biar ga lupa sisihkan uang buat zakat dan bayar utang. Biar ga lupa ngisi tabungan pendidikan anak dan tabungan pensiun. Biar rajin kerja dan selesaikan kewajiban, lalu kemudian bisa menikmati waktu untuk hal-hal yang disukai seperti baca buku, makan enak, dan tidur. #teuteup :D.  
 
 Oh ya..dan jangan lupa untuk mampir ke blog saya dan teman-teman ya ;).


Friday, November 6, 2015

Belajar bahasa Belanda?

Semester tiga ini, akhirnya saya ngambil kursus bahasa belanda di Sprachenzentrum. Kenapa? Yang pasti sih bukan karena merasa bahasa jerman saya udah jago..haha

Alasan pertamanya sih karena bulan agustus lalu saya bertemu dengan mba yang kerja di KITLV Leiden, yang ngasih tau bahwa banyak project KITLV yang membutuhkan peneliti Indonesia berbahasa belanda, untuk meneliti dokumen-dokumen lama yang terkait pendudukan Belanda di Indonesia. Kebetulan kursus di kampus harganya murah sekali..40 Euro untuk satu semester.

Alasan lainnya, saya banyak bertemu orang asing (Jerman, Belanda, Perancis, dll) yang bisa fasih berbahasa Indonesia. Terutama orang Belanda, di negara sekecil itu yang meskipun kecil namun bisa menguasai kepulauan nusantara jaman dulu, banyak sekali orang yang bisa berbahasa Indonesia, atau minimal paham sejarah, kebiasaan, dan paham bagaimana cara memanfaatkan Indonesia (!). Inget sejarah penaklukan Aceh oleh Belanda kan? atau penaklukan-penaklukan lainnya.. Semuanya karena antropolog2 Belanda saat itu sangat serius meneliti dan berusaha memahami Indonesia. Hal ini yang kemudian membuat keinginan saya belajar bahasa belanda menguat.

Kenapa sedikit sekali orang Indonesia yang bisa bahasa belanda? Jelas penyebab utamanya adalah kebijakan nasionalisme Sukarno, yang melarang pengajaran Bahasa Belanda segera setelah Indonesia merdeka. Padahal menurut saya, sangat penting memahami bahasa si mantan penjajah ini. Terutama untuk lebih memahami cara berpikir mereka. Alasan-alasan kenapa dulu mereka menjajah, penyebab di balik tindakan-tindakan yang dulu mereka lakukan di kepulauan nusantara, dan lain-lain. Jelas waktu tak akan bisa berulang. Tapi dengan memahami bahasa belanda, saya, sebagai orang dari kepulauan nusantara merasa mempunyai kedudukan yang setara dengan mereka. Bukan hanya sebagai objek penelitian atau objek penjajahan, tapi sebagai bangsa yang setara dengan mereka yang juga memahami tindak tanduk dan bahasa mereka.

Meskipun sih..kadang niat kuat pun tinggal niat. Keinginan berhenti belajar kadang menguat juga..apalagi kalo inget si mevrouw guru saya yang..duuh aduh banget dah. Kemaren, saya udah berniat untuk berhenti..untung diingatkan sama bapake bahwa saya sudah bayar kursusnya dan beli bukunya -_-

Yah..semoga sih masih bisa bertahan sampe akhir Januari nanti.

Saturday, October 3, 2015

Mendadak Curhat #1

Untuk kesekian kalinya, saya merasa bebal banget sama orang, terutama orang yang tidak tahu (tidak membaca) banyak tentang suatu tema, bahkan tidak mengklarifikasi terlebih dulu gosipnya, terus asal share. Terlebih lagi jika orang-orang yang asal share itu adalah orang-orang yang seharusnya lebih bijak karena posisi mereka mungkin sebagai pendidik, pengajar, dll. Padahal perintah membaca adalah kalimat pertama Al-Qur'an yang diturunkan.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1)

“(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan."
 

Lalu, apa artinya khatam Qur'an puluhan atau bahkan ratusan kali jika ayat pertama saja tidak diamalkan bro? Atau sama saja, yang penting politik nomor 1, agama yang diyakini mah kumaha engke? Atau anda melakukan itu (mungkin) demi dakwah penegakan agama? Come on..

Seriusan deh..untuk orang-orang dengan tipe seperti di atas, "bacalah..bacalah..bacalah" dan tolong juga baca campaign strategy kek communication strategy kek or whatever lah apa kek..biar dakwah kalian ga bikin males orang. Saya mah cuma tukang ribut koar-koar yang pake jilbabnya pun tidak syar´i, lulusan universitas yang medioker pula.

Tapi kebenaran tentu hanya milik Allah. Siapa sih kita sampe berhak untuk ngejudge orang lain? 

Thursday, September 10, 2015

Far away from home

Bukan..ini bukan cerita lain dari ke-home-sick-an saya. Ini tentang apa yang saat ini terjadi di dunia, khususnya di Eropa, yaitu krisis pengungsi atau enggresnya refugee crisis. Saat ini gelombang pengungsi dari negara yang dilanda konflik seperti Syria dan Afganistan meningkat tajam. Wajar aja sih..siapa yang tahan tinggal di tempat yang setiap hari perang, ada bom, atau terancam dengan kematian setiap saat. Belum lagi para pengungsi ekonomi dari balkan, afrika, dll.

Eropa memang nampak menggiurkan. Keamanan, jaminan sosial yang memadai untuk warganya, sekolah gratis, dll.

Reaksi warga Eropa beraneka ragam. Sebagian menyambut dengan alasan kemanusiaan, banyak yang sinis karena takut Islam akan menguasai Eropa, ada yang takut pengungsi akan mencuri pekerjaannya, makanin duit pajak, dll.

Saya menemukan sebagian besar facebook friends saya yang orang Jerman/Eropa, adalah orang-orang yang pro kedatangan pengungsi. "Kein Mensch ist illegal", "Refugee Welcome", adalah beberapa dari slogan kampanye mereka. Sebagian besar dari kelompok ini adalah mahasiswa dan aktifis, kelompok intelektual organik yang menyadari bahwa privilege yang mereka punya harus digunakan untuk kemaslahatan orang banyak. Kelompok yang menyadari, bahwa negara-negara mereka (Eropa) punya andil dalam menyebabkan atau memperpanjang konflik, sehingga juga harus bertanggung jawab menerima para pengungsi yang datang. Kelompok ini menyadari, bahwa kedatangan pengungsi tidak berarti memburuknya perekonomian..karena pengungsi justru bisa jadi potensi di masa depan..potensi sebagai future tax payers. Terutama di negara-negara yang penduduknya menua seperti Jerman.

Kelompok kedua adalah orang Jerman/Eropa yang agak ditengah. Biasanya mereka bilang "pengungsi dari negara konflik silakan datang..tapi pendatang dari Balkan atau Afrika atau negara yang tidak konflik, mending pulang aja." Kelompok ini lumayan lah..masih punya nilai-nilai kemanusiaan.

Kelompok ketiga, kelompok kanan ekstrem. Kelompok ini jelas pernyataannya: "Ausländer raus!" (orang asing keluar!)..haha..Kelompok ini adalah penjelmaan masa kini Nazi alias Neo Nazi.

Yang membuat saya paling heran dan sampe geleng-geleng kepala..adalah orang asing yang anti pengungsi -_-. Salah satu teman facebook saya (mbak Indonesia yg menikah dengan orang Jerman), ditag status oleh temannya yang tampaknya juga orang Indonesia yang tinggal di Perancis. Statusnya kira-kira mengatakan bahwa para pengungsi itu ancaman buat Eropa..ancaman buat Kristen di Eropa..Eropa akan menjadi mayoritas muslim, kotor dan berantakan. Kalo bisa ngomong langsung, saya mau bilang gini ke si mba yg bikin status "Bahwa orang eropa (yang rasis) menganggap semua manusia kulit berwarna sebagai ancaman..tanpa peduli agamanya. Bahwa meskipun kamu Kristen, orang Eropa juga sebenernya rasis-in kamu yang wanita Indonesia berkulit sawo matang. Bahwa kamu sebaiknya tidak besar kepala dan ikut2an rasis sama pendatang."

Well saya paham..bahwa tidak semua pengungsi/pencari suaka itu baik. Ada yang kemudian jadi mafia trafficking, copet, dll. Ada orang-orang yang datang ke Eropa dengan tujuan hanya untuk menikmati uang jaminan sosial tapi ga mau kerja dan bayar pajak. Tapi bukan berarti semua imigran atau pengungsi itu pasti penjahat, jorok dan pemalas kan? Kalo dilakukan generalisasi, mbak2 penulis status itu juga tentu akan masuk kategori imigran kok walaupun suaminya orang Eropa.

Kemudian ceritanya jadi agak personal. Saya sendiri belum memutuskan apakah akan pulang atau mencari peruntungan di sini setelah lulus kuliah. Tapi pilihan menetap di sini bukan segala-galanya.. Keinginan (suami) untuk menetap pun bukan karena disini semuanya serba enak dan bagus.. No..no.. Saya tetap menganggap Indonesia sebagai my ultimate home (yang mana saya yakin semua pengungsi itu juga pasti merindukan kampung halamannya). Boleh dan bebas saja kan kalo orang lain ingin tinggal di tempat lain untuk suatu masa.. Makanya saya juga kesal kalo ada yang bilang "kalo mau di sini harus ini itu dll.." It's not because here is better than there, but because if we want  to stay in foreign land with foreign people far away from home, we need to prepare ourself to survive."

Buat saya, kalo harus pulang ke Indonesia juga bagus.. Dan bukan berarti saya kalah. Malah enak bisa dekat keluarga, teman, dan makanan enak ;)


Monday, March 9, 2015

Mencoba

Tugas kita bukanlah untuk berhasil, tugas kita adalah untuk mencoba...Karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil....

-Tan Malaka- Masa Aksi 1926*

*dikutip dari status kawan Eka 

Friday, December 19, 2014

Mau nitip apa?

Pertanyaan ini seringkali diajukan sama temen yang mau mudik, atau yang kenalannya mau mudik ke tanah air. Yang mana saya selalu bingung jawabnya. Oktober lalu, bapake nitip cikur (kencur), Abon, kopi, dan dji sam soe sama temennya yang mau ke europe. Seneng bgt ketika akhirnya dapet sebungkus kencur..yang langsung dipake buat bikin seblak basah pedes..nyam!

Beberapa bulan sebelumnya, kakak saya nitipin abon sama kencur buat saya, ketika ada temennya yang mau ke Jerman. Sayangnya, ibu ini ga berani ngirim paketnya dari Mannheim (tempat dia ada acara) ke tempat saya di Osnabrück. Kami curiga abonnya akhirnya dimakan sama si ibu itu :p

Sebelumnya lagi, teman saya si Septi maksa bahwa ibunya yang terbang dari Jakarta ke Copenhagen dan lanjut ke Wina, bersedia untuk dititipin banyak barang. Jadilah kakak saya nganterin barang segambreng ke Rumah ibunya Septi, untuk kemudian dibawa ke Europe. Barang2nya beneran segambreng..mulai dari kering kentang, abon, sambel, bumbu rendang, handuk, long john, baju alip, manisan salak, dll. Ketika paketnya nyampe, rasanya kayak dapet harta karun sekardus gede :))

Tentu saja, titip-menitip ini ada aturannya. Pertama, nitiplah sama orang yang udah kita kenal baik..kalo ga, bisa2 paketnya ga nyampe *belajar dari kasus temen kakak saya*. Kedua, jangan berat2 dan usahakan yang gampang dicari barangnya. Ketiga..tetaplah siap untuk membayar entah itu harga barang yang kita titip, ataupun ongkirnya. Bilang dari awal kalo kita memang nitip, jadi ga sekedar ngerepotin dan gratisan. Terakhir, jangan lupa ucapkan terima kasih ketika barangnya sudah kita terima :)

Tapi sesungguhnya, kalo boleh jujur menjawab, saya ga mau nitip barang apapun. Saya mau langsung aja terbang ke Jakarta :') *this is actually all I want for Christmas*

Sunday, November 16, 2014

Menggugat Arab

Di kuliah applied public policy analysis, profesor nya suka banget jelasin geopolitik dan geostrategi seluruh dunia.
Indonesia sempet kesebut..terkait sama hilangnya beberapa pulau karena ekspor pasir ke Singapura..bleh..Tapi seriusan loh itu..bukan sekedar gosip (beritanya udah beredar sejak saya kuliah S1). Singapur banyak beli pasir buat memperluas daratan, bukan sekedar buat wilayah turisme, tapi ya daratan buat infrastruktur semacem jalan, pemukiman, pusat bisnis, dll ..secara lahan dia cuma seuprit.
Pembicaraan kemudian sampe ke jazirah Arab. Pak Prof bilang, bahwa tahun 2040 Saudi Arabia akan kehabisan minyak dan air (!!!). Beliau juga nyeritain soal cara suksesi raja Arab yang (menurut saya) lucu :p Jika raja yang sekarang yang umurnya udah 90-an meninggal, tahta akan jatuh ke sodara raja yg umurnya mungkin cuma beda setaun, yg juga udah tua dan sakit-sakitan. Jadi, usia kepemimpinan para raja arab itu ga pernah lama-lama. Sebetulnya sih sama dengan beberapa sistem monarki yang sekarang masih eksis. Hanya saja, jika terjadi perebutan kekuasaan, sekitar 2000 pangeran lah yang akan bertarung memperebutkan tahta. 2000? Banyak amat...ya tentu banyak...secara raja istrinya pun segambreng. Inilah yang saya bilang lucu. Jaman modern begini masih aja kelakuan jaman jadul dipiara.
Lucu nomor dua, waktu saya melancong ke Düsseldorf (ibukota Nord-Rhein Westphalen). Sebagai ibukota salah satu bundesland (provinsi), Düsseldorf termasuk salah satu kota besar lengkap dengan jalan-jalan pusat perbelanjaan. Di satu jalan yang toko2nya terkenal termahal di sana, di beberapa toko banyak memasang ucapan selamat datang pake bahasa Arab. Atau tulisan2 "Guests from Arabic land are welcome". Nyeeh...itu artinya banyak orang2 Arab yang duitnya ga berseri sering dateng dan belanja disitu. Seorang teman cerita juga soal kelakuan banyak orang2 Arab super tajir, yang adalah pemilik mobil-mobil termahal yang suka seliweran di London.
Maksud saya, lucu ketika banyak saudara sebangsa setanah air yang berpikir segala sesuatu dari Arab adalah benar. Sampe bela-belain berantem sama sesama karena bela-belain "yang ke-arab-araban".
Jangan dikira pangeran-pangeran Arab itu peduli sama sodara sesama muslim yang kesulitan dalam peperangan di Palestina atau sesama muslim yang miskin kelaparan di Afrika. Jangan dikira mereka peduli. Mereka cuma peduli sama dirinya sendiri, sambil ngabisin duit yang ga abis-abis. Jadi, ga worth-it banget kalo kedamaian Indonesia dikorbanin sama sekelompok orang yang bela-belain segala sesuatu dari Arab.
Sayapun teringat akan para TKI yang banyak jadi korban kekerasan dan kekerasan seksual di negara-negara Arab. Apakah itu kelakuan yang akan dibenarkan oleh Al-Quran dan Hadits? Atau mereka merasa itu benar, karena budaya memelihara budak, menyiksa dan menggaulinya adalah budaya Arab dari jaman jadul?
Satu hal yang saya sayangkan adalah letak Ka'bah yang ada di Saudi Arabia. Jadi seolah monopoli Islam oleh Arab. Itu yang menyebabkan selamanya, Islam akan terikat pada Arab. Benar bahwa Islam diturunkan di Arab. Tapi tidak semua yang datang dari Arab adalah benar.
Ah..kenapa saya jadi emosi gini..hihi..
*semoga abis ini ga ada yang ngecap saya JIL ya :p 

Permohonan maaf (ditulis 2.12.2015):
Saya merasa sangat judgemental di tulisan ini (yang mana saya membenci orang-orang seperti itu). Seharusnya lain kali melihat lebih dalam..Saya yakin sebenernya banyak juga orang Arab yang baik..seperti seorang pangeran Arab yang namanya sering disebut media karena kedermawanannya. Tentu saja, seperti normalnya semua bangsa di dunia, ada orang baik ada orang jahat.
 

Thursday, October 23, 2014

Nyinyir

Politisi socmed masih pada beraksi. Disana-sini masih banyak nyinyirin presiden terpilih. Nyinyirisme yang bawa hawa negatif.

Hari ini saya curhat sebel soal ini sama bapake. Bahwa saya sebel liat org2 nyampah nyinyir di socmed. Pengen saya unfollow atau bales. Saya bilang, saya bahkan ga pernah nyinyirin capres yg kalah. Tapi doski santei jawab:

"Ya biarin ajalah mereka nyinyir..mereka punya hak buat nyinyir. Lah kalo nyinyirin prabowo ya buat apa..udah jelas dia kalah kok." 

Okay..that's right. Saya jawab, tapi kan males liatnya..bawa energi negatif. Dia jawab, "Itukan sama kalo kita dulu kritik2 SBY. Ga usah dibales, biarin aja."

Ihiik..yg terakhir ini bener sih. Yah..mo gimana lagi. That's democracy. Orang bisa ngomong apa aja, yang menurut mereka bener.


Saturday, July 19, 2014

Perang Dunia Ke-3?

Waktu saya kecil, sekitar kelas 3 SD, pertama kalinya saya mendengar istilah "Perang Dunia". Waktu itu, saya ga paham siapa saja yang terlibat dalam Perang Dunia II. Saya membayangkan, seluruh dunia, sampai ke kelurahan tempat saya tinggal ikut berperang. Setiap rumah harus punya pertahanan. Sayapun berpikir, apa yang akan saya lakukan jika terjadi Perang Dunia ke-III. Kakak saya yang paling besar bilang, "Kita bisa bikin alat pertahanan dari paku-paku yang ditempel di papan" -_- Hehe..namanya juga bocah..cara mikirnya ya sederhana aja.

Seiring berjalannya waktu dan seiring bertambahnya porsi bacaan sejarah, Saya jadi makin paham soal apa, mengapa, siapa dan segala sesuatu terkait Perang Dunia I dan II. Apalagi setelah mulai kuliah. Bahasan sehari-hari ya tentang politik dunia..kebijakan luar negeri negara superpower, dll. Meskipun saya lebih meyakini pemikiran realis, di dalam hati saya tetap lebih mempercayai mimpi para liberalis yang ingin dunia damai tanpa perang. Waktu itu, pemikiran liberalis saya berkata..perang barbar kayak jaman Perang Dunia II dan sebelum-sebelumnya tidak akan terjadi lagi. *meskipun saya inget bahwa Perang Bosnia, perang sipil Rwanda, operasi militer di Papua dan Aceh, dll, masih terjadi setelah Perang Dunia II*

Ide renungan ini muncul pertama kali tadi malam, selepas buka puasa, ketika saya membaca tentang pesawat Malaysia Airlines yang jatuh tertembak di wilayah konflik Ukraina. berbatasan dengan Rusia. Damn! Saya pikir konflik separatis Ukraina dan pemerintah Ukraina ini ga akan berpengaruh terhadap saya, karena saya pikir itumah urusan orang Eropa. Meskipun guru saya di Sprachschule sering bilang bahwa konflik Ukraina ini sungguh genting, karena menyangkut seluruh Eropa, terutama karena kebutuhan energi beberapa negara Eropa termasuk Jerman sangat tergantung kepada Rusia. Tapi saya masih berpandangan bahwa ya..ga mungkin juga Rusia sampe menghentikan pasokan gasnya buat Jerman.

Then..herecomes this tragedy. Pesawat penumpang yang sama sekali tidak terkait dengan that shit conflict, harus jadi korban. 298 penumpang, dengan 3 diantaranya infant :( Plus dengan adanya 11 orang korban asal Indonesia, yang mana beberapa diantaranya ingin mudik karena ingin berlebaran di kampung halaman :(. Yaa..I know shit happens..but this one is really a big shit. Big shit caused by arrogance of superpowers. Plus melihat perkembangan konflik di Gaza antara Israel Palestina. dan lain-lain..dan lain..

Ahhh...people..please..rethink about your family, your loved ones..think how if it happens to them..Kejadian-kejadian ini seperti membuktikan kekhawatiran masa kecil Saya..bahwa efek peperangan semakin mendekati kita..

Okay..sudah..sudah..makin ngelantur kemana-mana ntar. Intinya sih, cuma mau bilang sedih..sedih dan marah banget atas semua perang-perangan yang ga jelas juntrungannya ini!

Friday, May 23, 2014

Pemilu 2014

Sekali-kali nulis tema yg agak serius ah.. :D

Hari Minggu tgl 25 Mei besok, di kota tempat saya tinggal, Münster, akan diadakan dua pemilu: pemilu Eropa (untuk milih Parlemen Uni Eropa) dan Kommunalwahl (pemilu kota Münster, untuk milih parlemen kota). Saking pentingnya pemilu buat orang Jerman, guru saya di sprachschule sengaja make waktu lebih dari sejam buat ngomong soal politik Jerman. Sistem politik, partai-partai di Jerman, dll. Menurut dia, tingkat partisipasi warga Jerman dalam pemilu sangat tinggi, hampir 80%, dan hampir semua tentunya pemilih terdidik (yang paham betul soal siapa calon yang akan dipilih serta konstelasi politik Jerman). Ketika saya nanya soal golput di Jerman, dia bilang kalo golput itu jelek..kita nanti ga punya hak untuk protes ketika pemimpin terpilih melakukan kesalahan. Well..saya pikir, untuk konteks Jerman itu berlaku. Tapi untuk konteks Indonesia... *_*

Berhubung sekarang di Indonesia lagi persiapan pilpres, tentu saya senang dengan tema bahasan kali ini. Minggu lalu, saya dan suami bela-belain jalan ke Duisburg untuk lapor diri karena di acara PPI Duisburg, KJRI Frankfurt buka stand buat lapor diri. Kenapa harus lapor diri? Karena saya pengen banget ikut milih di pilpres nanti. Untuk pilpres nanti, saya sependapat dengan pendapat guru saya, kalo kita ga ikut milih, nanti calon yang menurut saya bagus kehilangan satu suara.



Saya ga mau banget kalo nanti yang menang adalah kandidat yang didukung oleh partai-partai oportunis pencari kekuasaan. Sebelum nulis postingan ini, saya lihat di facebook, postingan orang-orang tentang Jokowi dan Prabowo, kedua kandidat capres. Banyak yang isinya black campaign ataupun muji-muji salah satunya.

Yang lucu, postingan simpatisan partai 'kader' :D isinya agak ga masuk akal, baik ketika memblack campaign calon lawan, ataupun ketika memuji-muji calon yang didukung partainya. Tapi karena saya mengakui kebebasan berpendapat semua orang, yauwis lah...biarin aja. Kadang-kadang memang banyak orang yang dibutakan partai..ga mau melihat apakah partainya korupsi, apakah partainya jujur, atau tidak. "Yang penting, gw dukung partainya!"  Sejujurnya, dulu waktu jaman kuliah saya sempet simpati sama partai yang isinya kebanyakan anak muda dan terdidik ini. Saat itu, perilaku politiknya santun, saya suka. Makin lama, makin aneh sepak terjang politikus2 partai ini. Wajar kalo saya jadi antipati.

Balik ke soal pemilu, jika akhirnya bisa ikut berpartisipasi, saya sudah tentukan pilihan. Saat ini saya yakin, dia calon yang terbaik. Tapi jika dimasa yang akan datang nanti dia (dan timnya) berbuat sesuatu kesalahan fatal semacem korupsi, dll, ya tentu ga ada alasan lagi buat mendukungnya. *..maap..agak emosi liat timeline facebook :D*

Tuesday, May 20, 2014

Rayuan Pulau Kelapa

Hari Sabtu kemarin Saya menghadiri Indonesien Tag yang diadakan sama PPI Duisburg-Essen. Di sana ada pertunjukkan tari-tarian tradisional Indonesia semacem Tari Topeng (Jawa Barat), Tari Saman (Aceh), permainan Angklung, dan lain-lain.

Waktu nonton tim Angklung maenin lagu ini,


..berkaca-kaca deh :')  *sedikit lebay yaa*
Untung di sana banyak makanan Indonesia dan orang-orang Indonesia..jadi berkaca-kacanya bentar doang :D

Monday, December 2, 2013

Karena Kau Menulis

Menemukan ini dari status facebook seorang teman, di pagi hari Senin yang galau: 
"Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.....” --Nyai Ontosoroh berbisik ke Minke. (Pramoedya A. Toer. Anak Semua Bangsa)


Gambar diambil dari sini

Tuesday, September 17, 2013

Hak dan Kewajiban

"Kadang bicara hak lebih mudah daripada bicara kewajiban,padahal kewajiban kita mungkin hak orang lain" - Dr Tiwi


 Pagi ini pas baca twit di atas dari @drtiwi, rasanya jlebb banget. Fenomena plus pengalaman Saya selama ini, banyak orang yang merasa haknya tidak dipenuhi misalnya dalam pekerjaan. Hak atas waktu kurang, hak atas materi kurang, dll. Tapi sebelum rame-rame menuntut hak, ada baiknya kita merenungkan quote di atas.

Jadi, sebelum kita bermalas-malasan dan melupakan kewajiban, mari ingat-ingat lagi..hak siapa yang akan kita langgar kalo melupakan kewajiban?

Tuesday, September 3, 2013

Sedih

Sedih itu kalo tetiba merasa komunikasi Saya dengan orang lain tidak berjalan baik.

Terutama, dengan orang-orang terdekat.

Sedih itu kalo Saya sudah berusaha melancarkan komunikasi, tapi tetep belum lancar.

Sedih itu kalo emm..yaaa..gitu deh..

Boleh dong ya bersedih dulu ditengah-tengah ngetik laporannya :')
*ilustrasi agak lebay ga apa-apa yaa


Friday, March 22, 2013

CV mamah

Pagi ini, kakak saya meminta salah satu dari kami (empat bersaudara), untuk membuka web diknas untuk melihat apakah data mamah saya sebagai salah satu penerima sertifikasi guru, sudah lengkap atau belum.

Pencarian tersebut membawa saya ke sebuah halaman di dinas pendidikan kota Kuningan yang isinya adalah semacem CV mamah saya. Dan...halaman itu sukses bikin saya mellow :| Halaman itu biasa saja sih..isinya nama lengkap mamah, no pegawai, awal mengajar tahun berapa (ternyata tgl 01-03-1980), kapan diangkat jadi PNS (01-11-1981), mengajar mata pelajaran apa (Bahasa Daerah - Sunda), dan riwayat pendidikannya.

Lalu apa yang membuat saya mellow? Saya sedikit terdiam karena disamping usaha mamah yang begitu keras mengurus anak-anaknya, beliau masih berhasil mempertahankan karirnya sebagai guru, hingga mendapat penghargaan sederhana dari pemerintah yang berjudul "sertifikasi".



Yess..usaha keras mamah bukanlah sekedar hal biasa dimana seorang ibu bekerja dikantor berangkat pagi dan pulang sore untuk membantu menghidupi anak-anaknya. Ketika saya dan kakak2 saya semakin besar dan membutuhkan biaya lebih untuk pendidikan kami, tentu saja gaji mamah sebagai guru dan gaji Apa (ayah saya) sebagai pensiunan tidak cukup. Untuk tetap memperjuangkan pendidikan anak-anaknya, disamping tetap mengajar di SMP, mamah mulai berusaha menjual apa pun dan melakukan apapun yang halal. Mulai dari jual beras, telor asin, kredit baju, kredit sepeda, sampe jual roti dan mengantarnya ke pasar-pasar di seputaran Cirebon hingga Tegal. Yang terakhir ini terjadi ketika saya SMA di Bandung. Biasanya mamah berangkat dari rumah jam 2 pagi, bawa mobil nyetir sendiri. Di bagian belakang kijang tua yang sudah "diloskan" tersebut penuh dengan roti isi kacang ijo yang akan diantar ke warung-warung dan pasar. Biasanya kegiatan mengantar roti ini akan selesai sekitar jam 6 pagi. Setelah itu, beliau buru-buru pulang dan siap-siap berangkat mengajar ke sekolah (sekolah mulai jam 7 pagi).

Mamah melakukannya hingga setidaknya kakak2 dan saya selesai kuliah. Sekarang tinggal adik saya yang masih kuliah, dan semua biaya tentunya ditanggung oleh kakak-kakaknya. Mamah pun bisa kembali lebih fokus ke pekerjaan utamanya sebagai Guru.

Karena semua perjuangan mamah, hingga saat ini saya sudah berkeluarga dan punya 1 anak, tujuan utama saya masih belum bergeser: to give her the best and make her proud. Tapi tentu ada tambahan tujuan utama yg terkait dengan keluarga kecil saya. Mamah mengajarkan saya untuk all out menjadi orang tua. Semoga saya pun bisa seperti mamah :')






Thursday, October 18, 2012

Jangan mengeluh

Just got an insight from one of my boss. Ketika saya cerita soal air ketuban yang kurang mungkin karena kecapean dan saya bilang "cape", dia bilang "ee..kamu jangan mengeluh gitu..nanti kasian anakmu. Gimana perasaan dia kalo kamu mengeluhkannya?"
Padahal sih saya tidak mengeluhkan hamilnya. Yang saya keluhkan adalah capeknya harus menempuh perjalanan jauh dari rumah-kantor-rumah tiap hari.
Tapi kata-kata mba bos itu bikin saya mikir. Betul juga ya. Ketika kita ngeluh tentang sesuatu, org lain (dalam hal ini anak kita) bisa salah tangkap. Misalnya kita ngeluh karena ga punya duit, ntar dia ngiranya kita ngeluh karena punya anak yang harus dibiayain. It means dia pikir kita mengeluhkan keberadaannya T_T
Sangat penting bagi saya untuk mengingat-ingat hal ini. Secara I'm a big complainer :p 

Monday, October 1, 2012

Rempongers

Well..udah jelas kan ya..kalo hidup itu tidak segampang yg diomongin Mario Teguh. Selalu ada masalah di tiap aspeknya. Ada masalah di tempat kerja, ada masalah sama keluarga besar, ada masalah komplek, dan lain2, dan lain2, dan lain2nya.

Sebenernya masalah itu besar atau kecil juga tergantung dari cara kita memandangnya. Klise? Ember..hehe..tapi kenyataannya emang gitu.

Misalnya Saya. Saya termasuk kategori rempong..konsentrasi gampang pecah karena berbagai hal yg terjadi. Padahal sih, kadang2 masalahnya tuh kecil aja..dan bisa diseleseikan. Biasanya, Mr. Husband yg sering ngingetin saya biar ga rempong :0 Gimana caranya biar ga rempong? Yaaa..jangan rempong lah..piuh..piuh..piuh..saya lagi belajar biar ga terlalu memandang ribet segala sesuatu..belajar santay..kayak di pantay..gut lak Tatat! :)

/T.

Thursday, February 16, 2012

Bergerak


Janganlah mereka dimusuhi, jangan inisiatif mereka dibunuh oleh
orang-orang yang bermental birokratik yang bisanya cuma bicara
di dalam rapat dan cuma membuat peraturan saja.
Makanya tranformasi harus bersifat kultural, tidak cukup sekedar struktural.

Ia harus bisa menyentuh manusia, yaitu manusia-manusia yang aktif, berinisiatif dan berani maju.
Manusia pemenang adalah manusia yang responsif.
Seperti kata Jack Canfield, yang menulis buku Chicken Soup for the Soul, yang membedakan antara winners dengan losers adalah
“Winners take action, they simply get up and do what has to be done”.
-sepenggal dari tulisan Rhenald Kasali "Bergerak"-

Thursday, February 2, 2012

Menyesalkah Saya?

Sejak menyimak dengan serius teks lagu "Waiting on the World to Change" nya John Mayer beberapa waktu lalu, setiap kali dengerin rasanya pengen nangis T_T..

Hari ini saya berkunjung ke kantor lama saya, SP*, atas kunjungan dari ladies-ladies di sana yang katanya mau ngasih kado pernikahan buat saya. Buat melangkahkan kaki kembali ke sana selalu terasa berat..Bukan, bukan karena saya membenci mereka, justru karena saya sangat menyayangi hampir setiap orang dan segala hal yang ada di sana. Suasananya, orang-orangnya yang lengkap dengan kelucuan masing-masing, selalu sukses membuat saya ingin ketawa dan menangis sekaligus.
Foto diambil pada saat-saat bahagia, suatu hari di awal 2010



Balik ke awal tahun 2009, saat itu saya menganggur dan luntang-lantung ga jelas karena baru saja menerima pengumuman akhir tes Kemlu yang ternyata menyatakan saya tidak lulus. Dunia serasa runtuh..karena menjadi diplomat adalah cita-cita sejak lama, bahkan hingga akhirnya saya bersikeras memilih jurusan HI daripada jurusan tehnik yang diinginkan mamah saya. Selama masa kuliah, saya terus berusaha untuk mengasah kemampuan saya agar mendekati kriteria calon diplomat. Jadi ketika akhirnya sampai di tes terakhir Kemlu, ssaya dan keluarga menunggu dengan harap-harap cemas. Dan dunia terasa runtuh ketika pengumuman itu keluar dan saya tidak lulus.

Ketika masa luntang-lantung itu, saya mengirimkan sms (atau e-mail, saya agak lupa) pada seorang aktifis LSM yang pada tahun 2007 bersama-sama jadi wakil Indonesia ke Oxfam International Youth Partnership di Australia (dan sekarang jadi suami saya :D). Saya ingat bahwa organisasi Mas itu cukup aktif dan isu nya pun termasuk dalam concern saya. Saya menawarkan diri untuk membantu organisasinya sebagai volunteer, yaa..sambil isi-isi waktu. Tak lama setelah itu, tugas-tugas sebagai volunteer mulai saya kerjakan. Seringnya sih tugas menerjemahkan. Meskipun waktu itu saya belum menggunakan google translate, tapi tetap PD :D

Sampai suatu hari, seorang teman yang juga junior saya dikampus memberi tahu adanya lowongan di SP*, sebagai staf dept. luar negeri, untuk membantu ketua dept yang kebetulan merupakan senior kami di kampus. Karena saya memang pernah mendengar reputasi dan kegiatan dari SP*, maka dengan bersemangat saya pun segera mengirimkan CV. Singkat cerita, saya pun diterima sebagai staf per 1 Maret 2009. Sejak saat itu, selama satu tahun, saya mengalami tahun yang menyenangkan di sana. Meskipun ada tentangan keras dari keluarga, saya terus bertahan. Plus ketika saya kerja di sana juga, saya menemukan seseorang yang kemudian sekarang menjadi suami saya, karena kantornya banyak terkait dengan SP* ini.

Karena tekanan keluarga (untuk hal tertentu) semakin kuat, dengan sangat terpaksa, saya akhirnya mencari pekerjaan di tempat lain. Ketika akhirnya diterima, saya mengalami kegalauan yang amat sangat. Haruskah saya pergi? Hal seperti ini tidak lah spesial jika saja saya bekerja di tempat kerja biasa. Namun faktanya, SP* ini bukan hanya tempat kerja. SP* juga tempat saya belajar tentang hidup, tempat saya memperkaya diri dengan pengalaman, serta tempat di mana sebuah keluarga besar akan selalu menyambut saya dengan hangat. Setelah mikir bolak-balik dan berdiskusi dengan pacar, akhirnya keputusan pun diambil: saya akan menerima pekerjaan baru tersebut.

Mengucapkan kata perpisahan sungguh merupakan hal yang sulit. Saya berjuang (sambil menahan tangis) keras merangkai kata untuk e-mail perpisahan kepada teman-teman satu kantor SP*. Saya hanya menulis e-mail karena tidak sanggup mengucapkan kata-kata secara langsung.

Hari-hari awal saya di kantor baru, seringkali air mata tiba-tiba mengalir deras. Sakit rasanya di dada menyadari kenyataan bahwa saya bukan lagi bagian dari keluarga besar yang hangat itu. Namun, keputusan sudah diambil. Saya harus berjalan ke depan.

Meskipun saya sudah tidak di sana, saya tetap menjalin hubungan baik dengan teman-teman SP* yang muda-muda. Kami sering nongkrong dan karaoke bareng. Meskipun sepulang dari acara main bersama, saya merasa miris..mengingat mereka akan kembali pulang ke "rumah" yang hangat, yang juga pernah menjadi rumah saya. Sedangkan saya harus kembali ke tempat kerja yang...ahhhh......Tak pantas rasanya saya mengumbar aib kantor sendiri.

Saat ini keadaan di kantor saya semakin memburuk..entah memang kebenarannya seperti itu, atau saya yang tidak bisa fleksibel menyesuaikan diri dengan lingkungan? Yang saya tahu, saya tidak pernah menganggap tempat ini (kantor saya saat ini) sebagai "rumah besar". Tidak ada keluarga yang hangat seperti di SP*, hanya ada sebagian kecil di sini yang saya anggap demikian.


Kunjungan saya ke SP* hari ini sungguh menyenangkan sekaligus menyesakkan dada. Saya menahan diri agar tidak meneteskan air mata. Rasa sesak di dada bertambah ketika harus pulang ke bangunan empat lantai yang tampak menjulang angkuh. Menyesalkah saya karena telah meninggalkannya dan memilih sesuatu yang ternyata seperti ini? Saya berusaha untuk tidak memilih kata menyesal..karena saya sadar, menyesali masa lalu tidak ada gunanya..hanya membuat kita tidak bergerak maju. Apapun yang terjadi, itu adalah sesuatu yang saya pilih dan saya harus bertanggung jawab apapun hasilnya saat ini.

"Waiting On The World To Change"
John Mayer

Me and all my friends
We're all misunderstood
They say we stand for nothing and
There's no way we ever could

Now we see everything that's going wrong
With the world and those who lead it
We just feel like we don't have the means
To rise above and beat it

So we keep waiting
Waiting on the world to change
We keep on waiting
Waiting on the world to change

It's hard to beat the system
When we're standing at a distance
So we keep waiting
Waiting on the world to change

Now if we had the power
To bring our neighbors home from war
They would have never missed a Christmas
No more ribbons on their door
And when you trust your television
What you get is what you got
Cause when they own the information, oh
They can bend it all they want

That's why we're waiting
Waiting on the world to change
We keep on waiting
Waiting on the world to change

It's not that we don't care,
We just know that the fight ain't fair
So we keep on waiting
Waiting on the world to change

And we're still waiting
Waiting on the world to change
We keep on waiting waiting on the world to change
One day our generation
Is gonna rule the population
So we keep on waiting
Waiting on the world to change

We keep on waiting
Waiting on the world to change