Satu bulan terakhir ini Alif selalu ikut dengan saya ke mana-mana, termasuk melayat sepupu dan tante yang meninggal. Bukan hanya melayat ke rumah duka, bahkan hingga ke pemakaman untuk penguburan. Alif sempat melihat ketika kedua jenazah terbujur kaku tertutup samping (jarik batik).
Setelah itu, Alif juga sering bertanya-tanya. "Ayah kamu dikubur ya?", "Rumahnya di bawah tanah ya?", "Di bawah tanah bisa bernafas ngga?", dsb. Saya selalu coba jelaskan semampu Saya, mencoba ga berlebihan untuk anak seumur dia.
Sempat merasa bersalah sih.. Apa terlalu cepat buat Alif diperkenalkan konsep meninggal dan dikubur? Ah but that's reality, pikir saya kemudian.
Hingga malam ini, kami saling bertukar cerita sebelum tidur. Saya "bercerita" bahwa saya sayang sekali sama Alif😆 (maafkan emak yang ceritanya super pendek). Sementara Alif bercerita soal pertarungan antara robot, jägger (pemburu), singa, dan manusia, tentang tembak-menembak dan makan-dimakan. Saya tidak terlalu suka kisah yang didalamnya ada kejadian saling menyakiti seperti itu, dan selalu saya sampaikan ke Alif. Bahwa tembak-menembak itu tidak baik karena yang tertembak akan merasa sakit, bahwa memburu dan membunuh binatang itu tidak diperbolehkan, bahwa sebaiknya semua orang berteman dan saling membantu.
Terdengar utopis, namun saya berusaha agar hal-hal kecil yang saya sampaikan ini tertanam di hati dan pikirannya. Si Alif ini sehari-harinya tidak jauh berbeda dari anak laki-laki kebanyakan, yang menyukai Starwars, superhero, robot, dan lain-lain. Walaupun saya tidak pernah memperkenalkan, mengajak menonton, ataupun membelikan mainan-mainan terkait ini, tetap saja dia mengenalnya melalui teman-temannya di Kindergarten dulu. Untuk tidak menanamkan maskulinitas yang kasar dan berpotensi merusak, saya berusaha memasukkan nilai-nilai yang saya yakini.
Setelah saya merespon cerita Alif dengan pesan sponsor tersebut, tiba-tiba Alif ngomong, "Bu nanti kalo sakit kita bisa meninggal ya?". Lalu kami membicarakan sesuatu dan saya berkata "Hidup manusia itu dimulai dengan lahir sebagai bayi, tumbuh jadi anak-anak kayak kamu, lalu jadi kakak-kakak, lalu jadi om-om, lalu jadi bapak-bapak, tua, dan meninggal."
Si Alif merespon dengan "Tapi aku ga mau tua.. Maunya muda aja kayak gini. Aku ga mau meninggal." Dan dilanjutkan dengan "Kalo kamu meninggal nanti aku disebelah kamu, aku mau dipeluk", "Sebelum kamu meninggal kamu bilang gitu dulu ya..",
"Kalo aku meninggal duluan aku sendirian dong.. Aku gamau.. Aku mau disebelah kamu ya", "Kalo meninggal kita bisa hidup lagi ngga?", dsb. Setelah bertanya, dia lalu nangis sambil bilang "tapi aku ga mau meninggal.. Mau hidup aja."
Saya bingung harus merespon apa. Akhirnya saya bilang, "Iya nak. Tapi kamu ga perlu terlalu memikirkan itu. Lakukan aja yang terbaik yang kita bisa: belajar, bekerja, mengaji, sholat, membantu orang. Setelah meninggal, kita akan dihidupkan lagi. Kalo kita termasuk orang-orang baik, kita bisa ketemu lagi." #duh #berat.
Setelahnya saya masih merenungkan pembicaraan kami. It seems too soon for a 4,5 years old to talk about this topic. Ah.. Mungkin besok-besok ga usah ikut dulu melayat atau ziarah. It is actually a good start to give him understanding about life, after life, religion. Tapi jangan sampe anaknya trauma😢.
Thursday, April 20, 2017
Saturday, February 11, 2017
Memaafkan Masa Lalu, Memaafkan Diri Sendiri
Karena saya dan Marq gagal menemukan ide untuk menulis tema dari #1minggu1cerita minggu minggu ini tentang "Forgiveness" di blog jalan-jalan kami Jejak Katumbiri, kami memutuskan untuk menulis di blog masing-masing. Blog pribadi saya seringnya sih memang tempat curhat :D.
---------------------------------------------
Ok..let the story begins........
Dari salah satu buku parenting yang pernah saya baca, anak yang bahagia mempunyai orang tua yang bahagia. Siapa tak ingin mempunyai anak yang bahagia? Di antara saya dan suami, saya rasa saya yang lebih menginginkan agar Alif tumbuh menjadi anak yang bahagia dengan hidupnya nanti. Mengapa? Siap-siap ya.. It's gonna be a long..long story
---------------------------------------------
Ok..let the story begins........
Dari salah satu buku parenting yang pernah saya baca, anak yang bahagia mempunyai orang tua yang bahagia. Siapa tak ingin mempunyai anak yang bahagia? Di antara saya dan suami, saya rasa saya yang lebih menginginkan agar Alif tumbuh menjadi anak yang bahagia dengan hidupnya nanti. Mengapa? Siap-siap ya.. It's gonna be a long..long story
Waktu saya lahir, ayah dan ibu saya mempunyai pekerjaan tetap yang terhitung lumayan. Ayah bekerja di perusahaan minyak nasional dan ibu saya guru sekolah menengah pertama. Hidup terasa baik-baik saja. Ibu saya adalah tipe dominan, aktif mengatur rumah, aktif dalam kegiatan sosial, dan lain-lain.
Hingga suatu masa, saat itu saya kelas tiga SD, terjadi sesuatu yang mengubah semuanya. Yang pasti, sesuatu yang terjadi saat itu sama sekali bukan karena sesuatu yang dilakukan oleh ayah atau ibu saya, bukan salah mereka. Kira-kira idenya serupa dengan konsep original sin yang dipahami oleh umat kristiani.
Waktu berlalu. Selanjutnya setelah rentetan peristiwa itu, Ayah tak lagi bekerja di perusahaan minyak nasional tempat beliau bekerja
seumur hidupnya. Untung keluarga kami selalu punya sawah. Kakek dan
nenek dari ayah dan ibu saya memiliki cukup lahan untuk bertani.
Saya merasa kondisi perekonomian keluarga kami tidak
berubah banyak (ini pemahaman dari kacamata anak SD). Saya dan kakak-kakak saya tetap bisa mengambil kursus
ini-itu. Tak lama kemudian, kakak saya yang tertua melanjutkan SMA ke
Bandung. Yang berbeda, ayah dan ibu saya makin sering bertengkar. Ibu
semakin lama berada di luar rumah untuk bekerja. Selain mengajar, beliau
menjalankan berbagai bisnis. Memasok beras, telur asin, dan lain-lain.
Lalu apakah ayah saya tidak melakukan apa-apa? Ayah saya tetap pergi ke
sawah, mengurus peternakan ayam kecil, dan lain-lain.
Tibalah saatnya kelulusan Saya dari SMP. Ibu mendorong saya
untuk melanjutkan sekolah ke Bandung, demi kualitas pendidikan yang
lebih baik katanya. Ibu saya memang selalu mempunyai mimpi yang besar untuk
anak-anaknya, walaupun Beliau harus mengorbankan dirinya. Saat itu
beliau menanggung biaya kuliah kakak saya yang tertua, kakak kedua saya,
dan saya. Saat itu hubungan ayah dan ibu saya semakin parah.
Hingga suatu hari Idul Adha ketika saya kelas 2 SMA, kami
sekeluarga pergi makan bakso di salah satu tempat makan bakso yang
populer di kota kami. Ada yang aneh. Karena hubungan yang tidak baik
antara ayah dan ibu saya, kami hampir tidak pernah lagi keluar bersama
sekeluarga. Biasanya ibu hanya mengajak kami, anak-anaknya. Firasat saya
terbukti. Setelah makan bakso bersama, ayah dan ibu resmi bercerai.
Sedihkah saya? Walaupun selama ini saya tahu hal ini cepat atau lambat
akan terjadi, tetap saja saya sedih.
Setelah bercerai ibu saya tetap berusaha maksimal mengurus dan membiayai
anak-anaknya. Sayangnya, menurut perasaan kami, ibu terlalu dominan juga
dalam hidup anak-anaknya setelah kami mandiri. Pilihan pekerjaan,
tempat tinggal, pengasuhan anak, dll menjadi contoh hal-hal dimana
beliau cukup dominan. Dan hal itu seringkali menimbulkan konflik di
antara kami. Sementara Ayah saya, hingga beliau meninggal, lebih
bersikap terbuka terhadap pilihan kami.
Atas segala yang terjadi, Saya tidak pernah menyalahkan
orang tua saya. Saya paham, betapa sulitnya keadaan bagi mereka. I
always know they were trying their best. Jadi saya menyalahkan siapa?
Tuhan? Rasanya saya tak sekurang ajar itu. Kadang saya membenci pemerintah yang berkuasa saat itu, menuduh mereka lah penyebab hancurnya keluarga Saya (mungkin yang akhirnya secara tidak sadar mengarahkan saya untuk menggeluti ilmu politik😒).
Semakin lama saya semakin memahami, tidak ada yang bersalah. It just happen alias sudah garis hidup kami. Efeknya, karena saya tidak menemukan pihak lain yang seharusnya bertanggung jawab, secara tak sadar saya membebankan semuanya pada diri sendiri. Setelah sekian lama, lambat laun saya menyadari, ternyata satu-satunya pihak yang harus saya maafkan adalah diri saya sendiri.
Karena setelah menikah dan punya anak, saya harus mengakui bahwa
ternyata semua pengalaman masa lalu meninggalkan jejak yang cukup dalam.
Biasanya saya selalu menyangkal. I said, I am OK eventhough I come from
a broken family. Secara kasat mata kehidupan saya memang baik-baik
saja. Saya berhasil lulus kuliah dan tidak menjadi beban sosial bagi
masyarakat, saya ga jadi pemakai narkoba dsb. But I am not that OK. It
affects me a lot.
Seringkali, saya bersikap sangat negatif, minimal pada diri
saya sendiri dan orang-orang terdekat. Sikap perfeksionis saya pun
seringkali menghambat saya untuk berkarya maksimal di bidang saya. Hal
lainnya, saya juga jadi orang yang sering mengkhawatirkan masa depan.
Saya takut akan ketidakstabilan. Setelah sekian lama, lambat laun saya menyadari, ternyata satu-satunya pihak yang harus saya maafkan adalah diri
saya sendiri.
Bukannya saya tidak berusaha menjadi lebih positif. Sebagai ibu, saya sudah berkomitmen
untuk membebaskan anak saya memilih profesi masa depannya. Saya pun berusaha tidak
menjadi tiger mom yang super perfeksionis. Saya berjanji untuk lebih
memperhatikan perasaan dan keinginan-keinginan anak saya. Menurut buku parenting tersebut, "pertama-pertama orang tua harus menyelesaikan utang-utang (apapun itu) masa lalunya agar bisa menjadi orang tua yang bahagia, dan mendidik anak-anak yang bahagia."
Yang paling sering muncul memanggil saya kembali ke tengah
cahaya adalah kesadaran bahwa saya tidak bisa mengubah masa lalu. Masa
lalu saya dan keluarga saya sudah begitu adanya. There's still one thing
I can do. To accept and forgive what happen in the past and move on. To
be a happier person than I used to be. Doakan saya berhasil ya
.
Wednesday, December 21, 2016
Ikutan trial bela diri
Suatu hari tanpa sengaja, seorang pengajar di sebuah dojo mengirim saya message, karena saya me-"like" page mereka. Dia menawarkan saya untuk ikut trial latihan self defense. Saya jawab, kalo saya tertariknya bukan buat saya, tapi buat si anak 4 tahun #Alipo. Dan ternyata mereka punya kelas "mini ninja" untuk usia 4-6 tahun. Sang Sensei mengundang kami untuk datang dan ikut trial gratis.
Lalu pergilah kami kemarin sore ke trialnya, yang latihannya dilakukan di sebuah ruangan di fitness park, komplek olahraga di Osnabrück. Saya datang duluan karena langsung dari perpus, sementara alipo dan ayahnya dari TK langsung. Si alif pas banget baru bangun dr tidur sorenya di stroller.
Masuk ke ruangan, kami di salamin dan kenalan dengan Sensei. Si bocah diam membisu, walopun masih terima jabat tangan dengan senseinya. Sang sensei sampe nanya ke kami, apakah alif paham bahasa jerman. Karena dia membisu. Ada sekitar 6-7 anak yang siap latihan. Lalu dimulai latihannya. Alif gamau ikutan. Diem aja sambil nempel2 ke ibu dan ayah. Dia sempet bilang "aku gamau dipukul-pukul, nanti sakit". Lalu saya jelaskan, bahwa itu tujuannya belajar pertahanan, bukan untuk pukul-pukulan. Lagi pula latihannya juga seperti bermain, ga seserius orang dewasa. Orang tua (ayah atau ibunya) juga dilibatkan untuk partner latihan anak-anak, agar anak-anak lebih nyaman. Tapi saya melihat bahwa sensei nya serius soal disiplin, soal patuh aturan, dan waktu. Pas banget buat bocah belajar.
Selama latihan, si alif tetep gamau ikutan. Dia maunya mengamati, sambil tiduran di lantai..semacem ngesot-ngesot di lantai kayu yang mulus. Sedikit-sedikit dia mulai beringsut ke lapangan. Tetap diam mengamati. Tampak tertarik, tapi ragu. Sampai akhirnya latihan selesai (hanya 30 menit), kami pulang. Di jalan saya tanya,
Ibu : Kamu mau ke tempat tadi lagi ngga?
Alif : mau.
Ibu : beneran mau? Tapi kalo ke sana lagi harus ikutan, ga bisa cuma liat aja. Kalo ke sana cuma liatin aja, mending ga usah. Kita nonton aja video bela diri di rumah.
Ayah : iya..kalo ke sana lagi, harus ikutan. Soalnya kalo kesana lagi, kita harus bayar. Kalo ga mau ikutan, ga usah ke sana lagi.
Ibu : kamu suka ga di sana?
Alif : suka
Ibu : tapi kenapa tadi diem aja gamau ikutan?
ALif : Aku schühtern (malu) ibu. Aku mau ikutan tapi belum tau.
Ibu : Oh gtu. Ya..padahal sih ga apa-apa belum tau. Kamu kan baru pertama. Tapi mau kesana lagi ngga?
Alif : iya mau.
Ayah : (agak discouraging buat lanjut karena kami belum pasti mau pulang atau tetap di Osnabrück)
Dari situ saya jadi belajar, bahwa Alif memang bukan jenis anak yang langsung "on" di tempat baru. Butuh waktu buat dia mengenali tempat baru, orang baru, dan apa yang mereka lakukan. Seperti ketika baru masuk TK, butuh waktu hampir tiga bulan untuk proses sampe Alif tidak nangis waktu kami tinggal. Which is normal, kita orang dewasa juga gitu kan? Menurut saya, memang dia butuh di ekspos ke berbagai hal yang berbeda, dikenalin pelan-pelan, dan pastinya tetep ditemani, sampe dia menemukan kesukaannya. Semangat terus ya alipo!
Jadi inget waktu saya kecil (sekitar SD kelas 1, 2, atau 3), pernah ikutan latihan silat di GOR Kelurahan Winduhaji bersama kakak-kakak dan sepupu. Sayangnya, waktu latihannya malam. Saya sudah kelelahan. Inget banget sampe pernah latihan jurus sambil terkantuk-kantuk -_- haha..dan latihan silat ini pun tidak berlanjut, saya lupa kenapa.
Lalu pergilah kami kemarin sore ke trialnya, yang latihannya dilakukan di sebuah ruangan di fitness park, komplek olahraga di Osnabrück. Saya datang duluan karena langsung dari perpus, sementara alipo dan ayahnya dari TK langsung. Si alif pas banget baru bangun dr tidur sorenya di stroller.
Masuk ke ruangan, kami di salamin dan kenalan dengan Sensei. Si bocah diam membisu, walopun masih terima jabat tangan dengan senseinya. Sang sensei sampe nanya ke kami, apakah alif paham bahasa jerman. Karena dia membisu. Ada sekitar 6-7 anak yang siap latihan. Lalu dimulai latihannya. Alif gamau ikutan. Diem aja sambil nempel2 ke ibu dan ayah. Dia sempet bilang "aku gamau dipukul-pukul, nanti sakit". Lalu saya jelaskan, bahwa itu tujuannya belajar pertahanan, bukan untuk pukul-pukulan. Lagi pula latihannya juga seperti bermain, ga seserius orang dewasa. Orang tua (ayah atau ibunya) juga dilibatkan untuk partner latihan anak-anak, agar anak-anak lebih nyaman. Tapi saya melihat bahwa sensei nya serius soal disiplin, soal patuh aturan, dan waktu. Pas banget buat bocah belajar.
Selama latihan, si alif tetep gamau ikutan. Dia maunya mengamati, sambil tiduran di lantai..semacem ngesot-ngesot di lantai kayu yang mulus. Sedikit-sedikit dia mulai beringsut ke lapangan. Tetap diam mengamati. Tampak tertarik, tapi ragu. Sampai akhirnya latihan selesai (hanya 30 menit), kami pulang. Di jalan saya tanya,
Ibu : Kamu mau ke tempat tadi lagi ngga?
Alif : mau.
Ibu : beneran mau? Tapi kalo ke sana lagi harus ikutan, ga bisa cuma liat aja. Kalo ke sana cuma liatin aja, mending ga usah. Kita nonton aja video bela diri di rumah.
Ayah : iya..kalo ke sana lagi, harus ikutan. Soalnya kalo kesana lagi, kita harus bayar. Kalo ga mau ikutan, ga usah ke sana lagi.
Ibu : kamu suka ga di sana?
Alif : suka
Ibu : tapi kenapa tadi diem aja gamau ikutan?
ALif : Aku schühtern (malu) ibu. Aku mau ikutan tapi belum tau.
Ibu : Oh gtu. Ya..padahal sih ga apa-apa belum tau. Kamu kan baru pertama. Tapi mau kesana lagi ngga?
Alif : iya mau.
Ayah : (agak discouraging buat lanjut karena kami belum pasti mau pulang atau tetap di Osnabrück)
Dari situ saya jadi belajar, bahwa Alif memang bukan jenis anak yang langsung "on" di tempat baru. Butuh waktu buat dia mengenali tempat baru, orang baru, dan apa yang mereka lakukan. Seperti ketika baru masuk TK, butuh waktu hampir tiga bulan untuk proses sampe Alif tidak nangis waktu kami tinggal. Which is normal, kita orang dewasa juga gitu kan? Menurut saya, memang dia butuh di ekspos ke berbagai hal yang berbeda, dikenalin pelan-pelan, dan pastinya tetep ditemani, sampe dia menemukan kesukaannya. Semangat terus ya alipo!
Jadi inget waktu saya kecil (sekitar SD kelas 1, 2, atau 3), pernah ikutan latihan silat di GOR Kelurahan Winduhaji bersama kakak-kakak dan sepupu. Sayangnya, waktu latihannya malam. Saya sudah kelelahan. Inget banget sampe pernah latihan jurus sambil terkantuk-kantuk -_- haha..dan latihan silat ini pun tidak berlanjut, saya lupa kenapa.
Monday, December 19, 2016
Jaket rusak dan ngobrol
Tadi pagi waktu mau pake jaket, saya inget ternyata resleting jaket Alipo setengah rusak gara-gara dia ga sabaran buka jaket! Heuh..emosi..jaket winter kan mahal -_-. Lalu saya bilang,
Ibu : Alif, lihat ini jaket kamu mau rusak karena kemarin kamu buru-buru mau buka, ditarik-tarik keras dan ga sabaran. Kalo rusak gimana dong?
Alif : Kalo rusak ya beli yang baru, ibu.
Ibu : Ga bisa, ibu ngga ada uangnya.
Alif : Nanti kalo aku sudah besar, sudah sekolah, nanti aku kasih ibu uang buat beli jaket.
Ibu : Ya walaupun kamu nanti punya uang sendiri, tetap tidak boleh gampang merusak barang. Barang harus dirawat biar awet (sambil tarik napas dan mengingatkan diri sendiri agar berhenti ngomel..sudahlah..toh "hanya" jaket T_T)
Suatu kali saya pernah ngomel panjang karena Alif tanpa sengaja merusak lip balm ibu, lalu anaknya yang awalnya terima diomelin karena merasa salah, balik marah.
Ibu : ngomel (abcdefg...xyz)
Alif : Ibu sudah dong..kamu kok marah-marah terus. Aku marah kalo kamu marah-marah terus.
Ibu : ..............
Tuh ya ingat ya..kalo ngomelnya kepanjangan jadi ga produktif. Anak jadi tersinggung dan lupa kesalahannya di mana. Anak jadi males juga sama kita. Padahal saya ga mau anak saya males ngobrol atau cerita sama orang tuanya sendiri.
Huhu..ini mungkin pengalaman pribadi. Hingga saat ini, saya merasa takut kalo mamah saya sms atau telpon. Karena biasanya, Beliau kalo ngajak ngomong saya pas mau ngingetin sesuatu atau mau marah :(. Maapkan akuh mamah.. Padahal bisa jadi sebetulnya sekarang ini mamah cuma mau ngobrol..ya kan? Saya agak trauma karena biasanya kalo dihubungi suka ditanya: "Nilai-nilainya gimana?" (waktu SMA), atau "Skripsinya kapan selesai?" (jaman kuliah), atau "Sudah daftar kemana aja? Itu ada bukaan PNS di sana" (setelah lulus kuliah hingga saat ini).
So, ini adalah pengingat untuk saya, agar saya rajin mengobrol dengan Alif BUKAN dalam kalimat instruksi atau saran. Mengobrollah tentang hal-hal yang remeh temeh. Tentang awan, tentang cuaca tentang mainan, tentang teman-temannya. Kalo mau bertanya, tanyalah tentang perasaannya, tanyalah pendapatnya tentang sesuatu. Agar si bocil tidak malas ngobrol dengan saya.
Ibu : Alif, lihat ini jaket kamu mau rusak karena kemarin kamu buru-buru mau buka, ditarik-tarik keras dan ga sabaran. Kalo rusak gimana dong?
Alif : Kalo rusak ya beli yang baru, ibu.
Ibu : Ga bisa, ibu ngga ada uangnya.
Alif : Nanti kalo aku sudah besar, sudah sekolah, nanti aku kasih ibu uang buat beli jaket.
Ibu : Ya walaupun kamu nanti punya uang sendiri, tetap tidak boleh gampang merusak barang. Barang harus dirawat biar awet (sambil tarik napas dan mengingatkan diri sendiri agar berhenti ngomel..sudahlah..toh "hanya" jaket T_T)
Suatu kali saya pernah ngomel panjang karena Alif tanpa sengaja merusak lip balm ibu, lalu anaknya yang awalnya terima diomelin karena merasa salah, balik marah.
Ibu : ngomel (abcdefg...xyz)
Alif : Ibu sudah dong..kamu kok marah-marah terus. Aku marah kalo kamu marah-marah terus.
Ibu : ..............
Tuh ya ingat ya..kalo ngomelnya kepanjangan jadi ga produktif. Anak jadi tersinggung dan lupa kesalahannya di mana. Anak jadi males juga sama kita. Padahal saya ga mau anak saya males ngobrol atau cerita sama orang tuanya sendiri.
Huhu..ini mungkin pengalaman pribadi. Hingga saat ini, saya merasa takut kalo mamah saya sms atau telpon. Karena biasanya, Beliau kalo ngajak ngomong saya pas mau ngingetin sesuatu atau mau marah :(. Maapkan akuh mamah.. Padahal bisa jadi sebetulnya sekarang ini mamah cuma mau ngobrol..ya kan? Saya agak trauma karena biasanya kalo dihubungi suka ditanya: "Nilai-nilainya gimana?" (waktu SMA), atau "Skripsinya kapan selesai?" (jaman kuliah), atau "Sudah daftar kemana aja? Itu ada bukaan PNS di sana" (setelah lulus kuliah hingga saat ini).
So, ini adalah pengingat untuk saya, agar saya rajin mengobrol dengan Alif BUKAN dalam kalimat instruksi atau saran. Mengobrollah tentang hal-hal yang remeh temeh. Tentang awan, tentang cuaca tentang mainan, tentang teman-temannya. Kalo mau bertanya, tanyalah tentang perasaannya, tanyalah pendapatnya tentang sesuatu. Agar si bocil tidak malas ngobrol dengan saya.
Tuesday, December 13, 2016
Growing up, growing old
Pagi ketika sarapan berdua Alif (karena ayah sudah berangkat kerja), terjadi percakapan yang saya agak lupa awalnya ngomongin apa.
Alif : Aku nanti makan sereal pake cabe
Ibu : Tapi anak kecil belum makan cabe
Alif : Aku bukan anak kecil, aku kan anak besar. Nanti kalo aku sudah dewasa, aku sebesar ayah dan ibu. Nanti aku ga pake stroller lagi. Kan kebesaran aku. Nanti ayah atau ibu juga ga pake stroller, kan udah dewasa. Berat dong kalo aku dorong ibu sama ayah di stroller. Kan besar. Tapi nanti aku udah sama kayak ayah dan ibu.
Ibu : Emm..tapi kalo kamu sudah dewasa, nanti ayah dan ibu jadi tua.
Alif : Kenapa kamu jadi tua?
Ibu : Iya..kan manusia begitu. Dari kecil tumbuh jadi besar, dewasa. Kalo sudah dewasa terus jadi tua. Jadi kakek-nenek.
Alif : Nanti aku juga dong?
Ibu : Iya..tapi nanti ayah sama ibu duluan tua.
Percakapan yang membuat saya tertegun. Mungkin keinginan seorang anak sederhana saja, ingin seperti ayah dan ibunya, ingin "sama" dengan ayah dan ibu. Untuk konteks Alif, mungkin biar bisa diajak ngobrol, makan makanan orang dewasa (indomie pake cabe misalnya), dan diperlakukan seperti orang dewasa. Keinginan yang indah dan sederhana.
Mungkin keinginan saya dulu juga sesederhana itu. Ingin mengobrol, makan, berinteraksi sebagai sesama orang dewasa, ingin seperti Mamah dan Apa. Selamat ulang tahun, Apa. Yesterday on December 12th 2016, you should be 65 years old. Allohumagfirlahu warhamhu waafihi wafuanhu.
Ah..saya akan berusaha sebisa mungkin lebih menemani Alif, mumpung saya masih diberi waktu.
Alif : Aku nanti makan sereal pake cabe
Ibu : Tapi anak kecil belum makan cabe
Alif : Aku bukan anak kecil, aku kan anak besar. Nanti kalo aku sudah dewasa, aku sebesar ayah dan ibu. Nanti aku ga pake stroller lagi. Kan kebesaran aku. Nanti ayah atau ibu juga ga pake stroller, kan udah dewasa. Berat dong kalo aku dorong ibu sama ayah di stroller. Kan besar. Tapi nanti aku udah sama kayak ayah dan ibu.
Ibu : Emm..tapi kalo kamu sudah dewasa, nanti ayah dan ibu jadi tua.
Alif : Kenapa kamu jadi tua?
Ibu : Iya..kan manusia begitu. Dari kecil tumbuh jadi besar, dewasa. Kalo sudah dewasa terus jadi tua. Jadi kakek-nenek.
Alif : Nanti aku juga dong?
Ibu : Iya..tapi nanti ayah sama ibu duluan tua.
![]() |
| Pic from here |
Mungkin keinginan saya dulu juga sesederhana itu. Ingin mengobrol, makan, berinteraksi sebagai sesama orang dewasa, ingin seperti Mamah dan Apa. Selamat ulang tahun, Apa. Yesterday on December 12th 2016, you should be 65 years old. Allohumagfirlahu warhamhu waafihi wafuanhu.
Ah..saya akan berusaha sebisa mungkin lebih menemani Alif, mumpung saya masih diberi waktu.
Friday, December 9, 2016
Mencari Cinta Sejati
...a liberal democratic understanding of state-civil society relations (Ketola 2013, 83).
Naon atuh ujug-ujug? Kalo kata orang Jerman: nichts. Pengen aja nulisin itu. Situ sehat? Ga yakin..tampak chaotic inside..haha
Ah..sudahlah. Pokoknya saya suka banget sama lagu ini
Pertama, karena lagu ini sound track nya film Rudy Habibie yang ketika nonton ini, saya merasa ditabok-tabok. Pak Habibie yang super jenius pun hidupnya banyak rintangan dan beliau tetep maju. Walaupun lalu saya sempat berdiskusi juga soal kenapa dia mau membangun industri pesawat terbang nusantara di bawah sang diktator yang tangannya berdarah-darah, Suharto.
Tapi intinya film ini berhasil membangkitkan rasa persamaan saya dengan Habibie..haha..sama-sama miskin waktu sekolah di Jerman, harus kerja keras nyari uang plus terus menulis/belajar tidak lupa membagi waktu dengan kewajiban sebagai orang tua. Okay. Keep going. Tik tok tik tok..
Naon atuh ujug-ujug? Kalo kata orang Jerman: nichts. Pengen aja nulisin itu. Situ sehat? Ga yakin..tampak chaotic inside..haha
Ah..sudahlah. Pokoknya saya suka banget sama lagu ini
Pertama, karena lagu ini sound track nya film Rudy Habibie yang ketika nonton ini, saya merasa ditabok-tabok. Pak Habibie yang super jenius pun hidupnya banyak rintangan dan beliau tetep maju. Walaupun lalu saya sempat berdiskusi juga soal kenapa dia mau membangun industri pesawat terbang nusantara di bawah sang diktator yang tangannya berdarah-darah, Suharto.
Tapi intinya film ini berhasil membangkitkan rasa persamaan saya dengan Habibie..haha..sama-sama miskin waktu sekolah di Jerman, harus kerja keras nyari uang plus terus menulis/belajar tidak lupa membagi waktu dengan kewajiban sebagai orang tua. Okay. Keep going. Tik tok tik tok..
Friday, December 2, 2016
Refleksi tentang Turki
Kenapa tentang Turki? kenapa ga tentang Indonesia yang lagi rame? Suka-suka saya dong ya.
Jadi di Turki pada awalnya ada dua gerakan besar yang bersekutu, yaitu AK Parti (partainya Erdogan) dan Gülen Movement. Awalnya mereka bekerja sama saling mendukung, Gülen yang katanya awalnya tidak tertarik berpolitik menyediakan dukungan suara bagi Erdogan dan AKP dari pendukungnya yang cukup berpengaruh di Turki, dan AKP setelah berkuasa menyediakan perlindungan bagi Gülen Movement terutama dari Kemalist. Namun lama-kelamaan, puncaknya pada 2013, keduanya bubar jalan. Perbedaan di antara keduanya tidak bisa diabaikan lagi.
Lalu pendukung dua kelompok saling sapu bersih. Jika di sebuah lembaga mayoritas isinya pendukung AKP, maka orang yang dicurigai pendukung Gülen akan "disingkirkan". Begitu juga sebaliknya. Jika di sebuah lembaga dikuasai oleh pendukung Gülen, maka pihak-pihak yang dianggap pro Kemalist atau AKP akan disingkirkan. Bahkan jika itu masih hanya sekedar "dugaan".
Hingga memuncak banget-banget, pada bulan Juli lalu, Gülen Movement dituduh sebagai dalang percobaan kudeta terhadap pemerintahan resmi Turki. Giliran pemerintah Turki dengan partai penguasa AKP dibawah Perdana Menteri Erdogan yang menyapu bersih pendukung Gülen. Tidak ada yang disisakan. Jika sebelumnya militer dikuasai pendukung Gülen, sekarang sebagian besar dari mereka sudah dipecat, dirumahkan untuk waktu tak terbatas, atau dipenjara. Begitu pula dengan banyak pegawai negeri sipil yang dianggap simpatisan Gülen Movement. Mereka dirumahkan, dipecat, dipenjara, dll. Media-media yang dianggap bertentangan dengan pemerintah ditutup. Para jurnalis dan akademisi ditangkapi.
Tapi saya tidak bilang Gülen dan pendukungnya tidak bersalah. Hanya saja pemerintah Turki lebih banyak bertindak berdasarkan prasangka. Seberapa banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang ini benar-benar mendukung Gülen Movement?
Lalu kenyataan itu seperti menampar saya. Akhir-akhir ini saya sering sekali mengelompokkan orang berdasarkan prasangka saya. Si itu begini, si ini begitu. Walaupun saya bukan siapa-siapa, harusnya ga boleh begitu dong ya? Ya kan..ya kan.. Yuk dahulukan diskusi dan dialog lah..jangan asal prasangka, praduga, curiga, dan menebak-nebak.
Sepotong do´a untuk tanah air Indonesia dan para manusianya, semoga tetap damai, bijak, kritis, dan cerdas. Ingat, kita semua bersaudara. #apeu.
*catatan untuk (saya sendiri dan) teman-teman saya, apapun pilihanmu, please don´t change. Mari kita berusaha tetap adil terhadap siapapun, regardless our political and religious views.
Jadi di Turki pada awalnya ada dua gerakan besar yang bersekutu, yaitu AK Parti (partainya Erdogan) dan Gülen Movement. Awalnya mereka bekerja sama saling mendukung, Gülen yang katanya awalnya tidak tertarik berpolitik menyediakan dukungan suara bagi Erdogan dan AKP dari pendukungnya yang cukup berpengaruh di Turki, dan AKP setelah berkuasa menyediakan perlindungan bagi Gülen Movement terutama dari Kemalist. Namun lama-kelamaan, puncaknya pada 2013, keduanya bubar jalan. Perbedaan di antara keduanya tidak bisa diabaikan lagi.
Lalu pendukung dua kelompok saling sapu bersih. Jika di sebuah lembaga mayoritas isinya pendukung AKP, maka orang yang dicurigai pendukung Gülen akan "disingkirkan". Begitu juga sebaliknya. Jika di sebuah lembaga dikuasai oleh pendukung Gülen, maka pihak-pihak yang dianggap pro Kemalist atau AKP akan disingkirkan. Bahkan jika itu masih hanya sekedar "dugaan".
Hingga memuncak banget-banget, pada bulan Juli lalu, Gülen Movement dituduh sebagai dalang percobaan kudeta terhadap pemerintahan resmi Turki. Giliran pemerintah Turki dengan partai penguasa AKP dibawah Perdana Menteri Erdogan yang menyapu bersih pendukung Gülen. Tidak ada yang disisakan. Jika sebelumnya militer dikuasai pendukung Gülen, sekarang sebagian besar dari mereka sudah dipecat, dirumahkan untuk waktu tak terbatas, atau dipenjara. Begitu pula dengan banyak pegawai negeri sipil yang dianggap simpatisan Gülen Movement. Mereka dirumahkan, dipecat, dipenjara, dll. Media-media yang dianggap bertentangan dengan pemerintah ditutup. Para jurnalis dan akademisi ditangkapi.
Tapi saya tidak bilang Gülen dan pendukungnya tidak bersalah. Hanya saja pemerintah Turki lebih banyak bertindak berdasarkan prasangka. Seberapa banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang ini benar-benar mendukung Gülen Movement?
Lalu kenyataan itu seperti menampar saya. Akhir-akhir ini saya sering sekali mengelompokkan orang berdasarkan prasangka saya. Si itu begini, si ini begitu. Walaupun saya bukan siapa-siapa, harusnya ga boleh begitu dong ya? Ya kan..ya kan.. Yuk dahulukan diskusi dan dialog lah..jangan asal prasangka, praduga, curiga, dan menebak-nebak.
Sepotong do´a untuk tanah air Indonesia dan para manusianya, semoga tetap damai, bijak, kritis, dan cerdas. Ingat, kita semua bersaudara. #apeu.
*catatan untuk (saya sendiri dan) teman-teman saya, apapun pilihanmu, please don´t change. Mari kita berusaha tetap adil terhadap siapapun, regardless our political and religious views.
Subscribe to:
Posts (Atom)
