Hari ini saya dibantu teman saya Lily, mulai mencicil menyortir barang di apartemen kami. Lalu ketika kami memilah setumpuk dokumen saya waktu di Münster, kami menemukan amplop berisi beberapa kartu pos dengan pemandangan kota Münster. Kartu-kartu tersebut sebagian sudah ditulisi kata-kata dan siap dikirim. Sebagian lainnya hanya tertulis kepada dan alamatnya. Saya ingat, setelah menulis kartu-kartu itu, tetiba amplopnya hilang entah ke mana karena saya terlalu lama menunda. Akhirnya kartu-kartu itu tidak jadi dikirim.
Di antara kartu-kartu itu saya menemukan kartu pos untuk Ayah saya, yang tidak pernah terkirim. Melihat tulisan di bagian belakang kartu posnya saja sudah membuat saya terdiam, lalu mengerjap-ngerjapkan mata agar air mata tidak mengalir. Ah...another words I never said. Postcard I never sent.
Diantara kartu-kartu itu ada juga kartu pos untuk mamah. Harus segera saya kirimkan nih..
Karena urusan beres-membereskan dokumen ini, saya jadi ingat juga waktu saya, mamah, dan adik saya sedang membereskan dokumen punya Apa. Ada foto Beliau waktu muda, buku tabungan, SK pensiunnya, dan lain-lain. Hati saya serasa diiris-iris, menyaksikan Ayah saya hanya tinggal dokumennya. Lalu saya memilih berhenti menyortir, dan pergi ke ruang depan yang sepi. Menangis sendiri.
Monday, October 17, 2016
Sunday, October 2, 2016
Resep Bolu Pisang Kesukaan Kami
Akhir-akhir ini kami lagi suka makan bolu pisang alias banana bread buatan ayahnya Alif. Dia pertama nemu resep yang pas dari youtube nya Nyonya cooking. Lalu dimodifikasi sesuai selera. Setelah (ayahnya alif) beberapa kali mencoba, inilah resep yang dirasa pas.
Bahan
Pisang 3 buah
Terigu dari gandum utuh 150 gram
Gula pasir 120 gram
Butter 120 gram
Telur dua butir
Garam sejumput
Baking soda 1 sendok teh
Cara Membuat
Bahan
Pisang 3 buah
Terigu dari gandum utuh 150 gram
Gula pasir 120 gram
Butter 120 gram
Telur dua butir
Garam sejumput
Baking soda 1 sendok teh
Cara Membuat
- Hancurkan pisang dengan sendok
- Campur semua bahan di mangkuk dengan mixer.
- Tambahkan pisang ke dalam adonan. Aduk dengan tangan atau mixer hingga tercampur.
- Masukkan adonan ke dalam loyang yang telah diolesi margarin.
- Masukkan loyang ke dalam oven yang telah dipanaskan.
- Panggang dengan suhu 170 derajat selama 30 menit. Lanjutkan 120 derajat selama 20 menit.
Tadaa...simple kan...hehe... Yuk mari memasak..biar lebih hemat dan keluarga sehat!
Thursday, September 15, 2016
Olahraga 30 menit per hari
Seiring bertambahnya umur, kesadaran saya akan pentingnya menjaga kesehatan makin meningkat. Bukan sekedar makan buah tiap hari biar sehat, tapi mencakup olahraga, menambah asupan sayur (dulu saya suka mengganti sayur dengan buah saja) dan buah secara signifikan, tidur cukup, dan berusaha mengurangi stress.
Kenapa? Ya itu tadi..faktor U. Setelah memasuki usia 30-an, saya melihat bagaimana para orang tua, saudara, dan orang-orang yang saya kenal menua. Beberapa di antaranya menua dan sakit (parah ataupun tidak). Almarhum Ayah saya yang selama masa hidupnya selalu sehat pun, ditakdirkan meninggal mendadak pada usia 64 tahun karena serangan jantung. Ibu saya alhamdulillah masih sehat, tapi memiliki tumor tiroid yang cukup berbahaya. Dua minggu lalu sepupu saya, yang kira-kira seumuran dengan ibu, meninggal karena kanker tiroid. Beberapa saudara lain terbaring karena stroke ataupun diabetes. Padahal rentang umur mereka masih 50-60an, masih cukup muda.
Apalagi untuk ukuran orang-orang di negara maju seperti di Jerman. Orang-orang yang berumur 60an masih tampak seperti berumur 40an di mata saya. Sangat berbeda dengan di Indonesia. Harus diakui, kebiasaan makan dan hidup orang Indonesia masa kini sangat jauh dari sehat. Makan gorengan, bersantan, nasi berbakul-bakul (lebay), selesai makan minum es teh manis yang gulanya banyak, eh..selesai makan cuma duduk-duduk atau lebih parah lagi, tidur-tiduran sambil main HP. Ya kan? Ngaku deh.
Saya juga suka banget kayak gitu. Perut gendut saya adalah hasil perilaku hidup seperti itu. Gimana dong? Lagian semua pasti tahu, menolak makan gorengan itu seperti menolak surga (lebay lagi). Makan sambel pedes tentu tak lengkap tanpa nasi sepiring penuh. Plus kerupuk. Plus rendang. Atau sop iga. Terus gimana dong? Gimana ga gendut? Gimana mau sehat? Apa kabar kolesterol? Dan lain-lain. Dan lain-lain.
Usaha minimum saya yang pertama adalah: Sarapan Sehat. Bangun tidur, minum air putih minimal segelas. Lalu lanjutkan dengan buah-buahan, biasanya saya makan apa yang ada: apel, atau pisang, atau anggur, atau melon. Selain untuk diri sendiri, saya juga mewajibkan Alif dan ayahnya untuk minum air putih dan makan buah. Setelah air putih dan buah, bebas dilanjutkan dengan makanan lain, misalnya: sereal pake susu atau roti (whole wheat) keju (bukannya sok gaya, tapi yang ada dan praktis memang itu). Untuk menutup sarapan, saya biasa minum teh hijau (tawar) 1-2 gelas, lalu jika harus ke perpustakaan, maka saya tutup dengan segelas kopi pahit.
Untuk makan siang, masih suka-suka. Kalo ada nasi dan lauk sisa malam sebelumnya, maka bekal makan siang saya isinya: nasi dan rendang/ayam/telor dan potongan ketimun atau tomat. Jika tidak ada nasi, maka bekal saya hanya roti dan keju plus telur rebus ditambah sayuran mentah (tomat/ketimun/selada). Saya usahakan porsi sayurnya besar..lebih besar dari porsi sayur saya jaman jadul.
Untuk makan malam, ini masih berat, karena makanan terenak biasanya dikeluarkan pada makan malam :(. Udah pasti makan nasi dengan lauk rendang/ayam/soto/dll dengan sambal, kadang dengan kerupuk. Antisipasinya gimana dong? Makan sayurnya duluan, dan perbesar porsi sayur. Setelah sayur habis, baru deh nikmati sisanya. Nasi secukupnya saja. Kalo setelah makan malem masih pengen ngemil, ambil buah atau joghurt. Daan..usahakan makan malam selambat-lambatnya jam 6.30 malam. Beberapa kali kami masih makan malam jam 7 sih, tapi diusahakan paling lambat jam 6.30.
Kalo laper tengah malam? Ambil joghurt, buah, atau minum susu. Walopun beberapa kali saya suka masak indomie tengah malem.. Harusnya memang ga usah beli2 deh jajanan ga sehat itu..biar ga mupeng kalo lagi laper.
Terkait olahraga, ini penting banget juga kalo mau bugar. Karena makan sehat saja tidak cukup. hampir semua penyakit degeneratif bisa diperlambat (atau dilawan) dengan olah raga. Mau jantung lebih sehat, ayo olahraga rutin. Mau berusaha jauh dari kanker, juga harus olahraga rutin. Mau terhindar dari diabetes, juga harus olahraga rutin. Yang saya pelajari selama tinggal di Jerman, slogan-slogan agar orang berolahraga bukan sekedar basa-basi. Mereka betul-betul rutin berolahraga. Anak-anak sekolah dan mahasiswa biasanya ikutan ekskul olahraga di sekolah/kampus. Para dewasa muda biasanya jogging sore atau fitness. Tapi kesadaran individu soal berolahraga memang sangat tinggi.
Ini yang beberapa waktu belakangan sedang saya lakukan. Olahraga minimal 30 menit perhari, jumlah paling minimal sesuai anjuran dokter, bila ingin hidup lebih sehat dan terhindar dari penyakit-penyakit berbahaya. Saya melakukan Zumba dari youtube selama 30-40 menit, diusahakan setiap hari. Tapi jika saya hari itu bekerja, maka tidak perlu lagi ber-Zumba (kerjanya udah kayak angkat beban -_-). Pengennya sih jogging 30 menit per hari, tapi entah kenapa saya malas buat keluar rumah dan jogging. Lebih praktis kalo tinggal ngidupin youtube. Tidak ada target unrealistis (misal: mau kurus, perut rata, dll) untuk olahraga saya. Hanya harapan untuk tetap sehat dan bisa mendampingi keluarga selama mungkin.
Saya paham bahwa umur manusia hanya Tuhan yang tahu. Tapi tentu tidak ada salahnya berusaha, bahkan wajib berikhtiar untuk mengusahakan hidup yang lebih sehat. Lagipula sakit di Indonesia itu mahal..lebih baik saya bersusah-payah membangun kebiasaan sehat daripada menghabiskan uang banyak untuk berobat.
Untuk Alif, tidak terlalu sulit. Dia sudah terbiasa makan sayur (walopun harus dibawah pengawasan ketat) dan buah. Dia akrab dengan makanan sehat khas Jerman yang disajikan di sekolah serta sudah terbiasa dengan cemilan sehat seperti: joghurt dan buah. Kami jarang sekali beli jajanan kemasan manis-manis untuk Alif. Hanya sesekali beli jika kami akan melakukan perjalanan. Begitu pun minuman. Hanya susu, jus tanpa gula, dan air putih.
Sementara untuk ayahnya Alif, lebih sulit. Dari jaman dulu dia paling suka makan enak, ngemil gorengan, makan nasi banyak, begadang sambil ngemil, ngemil chips, dan ga terlalu doyan sayur :(. Belum lagi dia masih merokok. Seringkali kami berantem gara-gara kebiasaan makannya, merokok, dan kemalasan beliau berolahraga. Lalu saya berusaha lebih halus. Orangnya memang harus sadar sendiri. Udah lumayan sih, sekarang tiap pagi minum air putih, makan buah (masih kadang-kadang), dan minum teh hijau. Walaupun porsi karbonya masih paling banyak. Olahraga yang dilakukan ayahnya alif pun yang minimal saja: jalan kaki antar jemput Alif dari rumah ke TK. Lumayan, total waktu jalan kaki 1 jam sendiri. Itu udah lumayan banget daripada jaman kita masih di Indonesia, yang terbiasa ke mana-mana naik motor. Ga pernah olahraga, dan makan ga terkontrol.
Yah..namanya juga usaha..yang penting tetap konsisten walopun minimalis. Semoga sih, kita tetap bugar sampai tua dan di masa tua tidak menyusahkan anak-anak dan kerabat (dengan menjadi lansia yang sehat).
Semangat-semangat!!
Kenapa? Ya itu tadi..faktor U. Setelah memasuki usia 30-an, saya melihat bagaimana para orang tua, saudara, dan orang-orang yang saya kenal menua. Beberapa di antaranya menua dan sakit (parah ataupun tidak). Almarhum Ayah saya yang selama masa hidupnya selalu sehat pun, ditakdirkan meninggal mendadak pada usia 64 tahun karena serangan jantung. Ibu saya alhamdulillah masih sehat, tapi memiliki tumor tiroid yang cukup berbahaya. Dua minggu lalu sepupu saya, yang kira-kira seumuran dengan ibu, meninggal karena kanker tiroid. Beberapa saudara lain terbaring karena stroke ataupun diabetes. Padahal rentang umur mereka masih 50-60an, masih cukup muda.
Apalagi untuk ukuran orang-orang di negara maju seperti di Jerman. Orang-orang yang berumur 60an masih tampak seperti berumur 40an di mata saya. Sangat berbeda dengan di Indonesia. Harus diakui, kebiasaan makan dan hidup orang Indonesia masa kini sangat jauh dari sehat. Makan gorengan, bersantan, nasi berbakul-bakul (lebay), selesai makan minum es teh manis yang gulanya banyak, eh..selesai makan cuma duduk-duduk atau lebih parah lagi, tidur-tiduran sambil main HP. Ya kan? Ngaku deh.
Saya juga suka banget kayak gitu. Perut gendut saya adalah hasil perilaku hidup seperti itu. Gimana dong? Lagian semua pasti tahu, menolak makan gorengan itu seperti menolak surga (lebay lagi). Makan sambel pedes tentu tak lengkap tanpa nasi sepiring penuh. Plus kerupuk. Plus rendang. Atau sop iga. Terus gimana dong? Gimana ga gendut? Gimana mau sehat? Apa kabar kolesterol? Dan lain-lain. Dan lain-lain.
Usaha minimum saya yang pertama adalah: Sarapan Sehat. Bangun tidur, minum air putih minimal segelas. Lalu lanjutkan dengan buah-buahan, biasanya saya makan apa yang ada: apel, atau pisang, atau anggur, atau melon. Selain untuk diri sendiri, saya juga mewajibkan Alif dan ayahnya untuk minum air putih dan makan buah. Setelah air putih dan buah, bebas dilanjutkan dengan makanan lain, misalnya: sereal pake susu atau roti (whole wheat) keju (bukannya sok gaya, tapi yang ada dan praktis memang itu). Untuk menutup sarapan, saya biasa minum teh hijau (tawar) 1-2 gelas, lalu jika harus ke perpustakaan, maka saya tutup dengan segelas kopi pahit.
Untuk makan siang, masih suka-suka. Kalo ada nasi dan lauk sisa malam sebelumnya, maka bekal makan siang saya isinya: nasi dan rendang/ayam/telor dan potongan ketimun atau tomat. Jika tidak ada nasi, maka bekal saya hanya roti dan keju plus telur rebus ditambah sayuran mentah (tomat/ketimun/selada). Saya usahakan porsi sayurnya besar..lebih besar dari porsi sayur saya jaman jadul.
Untuk makan malam, ini masih berat, karena makanan terenak biasanya dikeluarkan pada makan malam :(. Udah pasti makan nasi dengan lauk rendang/ayam/soto/dll dengan sambal, kadang dengan kerupuk. Antisipasinya gimana dong? Makan sayurnya duluan, dan perbesar porsi sayur. Setelah sayur habis, baru deh nikmati sisanya. Nasi secukupnya saja. Kalo setelah makan malem masih pengen ngemil, ambil buah atau joghurt. Daan..usahakan makan malam selambat-lambatnya jam 6.30 malam. Beberapa kali kami masih makan malam jam 7 sih, tapi diusahakan paling lambat jam 6.30.
Kalo laper tengah malam? Ambil joghurt, buah, atau minum susu. Walopun beberapa kali saya suka masak indomie tengah malem.. Harusnya memang ga usah beli2 deh jajanan ga sehat itu..biar ga mupeng kalo lagi laper.
Terkait olahraga, ini penting banget juga kalo mau bugar. Karena makan sehat saja tidak cukup. hampir semua penyakit degeneratif bisa diperlambat (atau dilawan) dengan olah raga. Mau jantung lebih sehat, ayo olahraga rutin. Mau berusaha jauh dari kanker, juga harus olahraga rutin. Mau terhindar dari diabetes, juga harus olahraga rutin. Yang saya pelajari selama tinggal di Jerman, slogan-slogan agar orang berolahraga bukan sekedar basa-basi. Mereka betul-betul rutin berolahraga. Anak-anak sekolah dan mahasiswa biasanya ikutan ekskul olahraga di sekolah/kampus. Para dewasa muda biasanya jogging sore atau fitness. Tapi kesadaran individu soal berolahraga memang sangat tinggi.
Ini yang beberapa waktu belakangan sedang saya lakukan. Olahraga minimal 30 menit perhari, jumlah paling minimal sesuai anjuran dokter, bila ingin hidup lebih sehat dan terhindar dari penyakit-penyakit berbahaya. Saya melakukan Zumba dari youtube selama 30-40 menit, diusahakan setiap hari. Tapi jika saya hari itu bekerja, maka tidak perlu lagi ber-Zumba (kerjanya udah kayak angkat beban -_-). Pengennya sih jogging 30 menit per hari, tapi entah kenapa saya malas buat keluar rumah dan jogging. Lebih praktis kalo tinggal ngidupin youtube. Tidak ada target unrealistis (misal: mau kurus, perut rata, dll) untuk olahraga saya. Hanya harapan untuk tetap sehat dan bisa mendampingi keluarga selama mungkin.
Saya paham bahwa umur manusia hanya Tuhan yang tahu. Tapi tentu tidak ada salahnya berusaha, bahkan wajib berikhtiar untuk mengusahakan hidup yang lebih sehat. Lagipula sakit di Indonesia itu mahal..lebih baik saya bersusah-payah membangun kebiasaan sehat daripada menghabiskan uang banyak untuk berobat.
Untuk Alif, tidak terlalu sulit. Dia sudah terbiasa makan sayur (walopun harus dibawah pengawasan ketat) dan buah. Dia akrab dengan makanan sehat khas Jerman yang disajikan di sekolah serta sudah terbiasa dengan cemilan sehat seperti: joghurt dan buah. Kami jarang sekali beli jajanan kemasan manis-manis untuk Alif. Hanya sesekali beli jika kami akan melakukan perjalanan. Begitu pun minuman. Hanya susu, jus tanpa gula, dan air putih.
Sementara untuk ayahnya Alif, lebih sulit. Dari jaman dulu dia paling suka makan enak, ngemil gorengan, makan nasi banyak, begadang sambil ngemil, ngemil chips, dan ga terlalu doyan sayur :(. Belum lagi dia masih merokok. Seringkali kami berantem gara-gara kebiasaan makannya, merokok, dan kemalasan beliau berolahraga. Lalu saya berusaha lebih halus. Orangnya memang harus sadar sendiri. Udah lumayan sih, sekarang tiap pagi minum air putih, makan buah (masih kadang-kadang), dan minum teh hijau. Walaupun porsi karbonya masih paling banyak. Olahraga yang dilakukan ayahnya alif pun yang minimal saja: jalan kaki antar jemput Alif dari rumah ke TK. Lumayan, total waktu jalan kaki 1 jam sendiri. Itu udah lumayan banget daripada jaman kita masih di Indonesia, yang terbiasa ke mana-mana naik motor. Ga pernah olahraga, dan makan ga terkontrol.
Yah..namanya juga usaha..yang penting tetap konsisten walopun minimalis. Semoga sih, kita tetap bugar sampai tua dan di masa tua tidak menyusahkan anak-anak dan kerabat (dengan menjadi lansia yang sehat).
Semangat-semangat!!
Tuesday, August 9, 2016
Pengen pulang mak?
Mungkin saya memang pengen pulang ke Indonesia. Hari ini, saya mere-write CV saya dengan sangat serius demi melamar sebuah posisi di kantor lama saya. Kalo kata seorang teman, hidup itu sawang sinawang. Lagi di sana, pengen ke sini, lagi di sini pengen ke sana. Bukannya saya tidak menikmati waktu saya di sini. Saya menikmati kok. Makanya saya juga akan mencoba melamar ke beberapa posisi di sini. What comes first, comes first aja deh sekarang mah. Di Indonesia ataupun di sini, sama-sama baik.
Salam curhat,
Salam curhat,
Monday, August 1, 2016
Let´s moving on..
Bisa melakukan perjalanan ke berbagai tempat tentu menyenangkan buat
saya. Mengenal tempat baru, bertemu dengan orang-orang yang belum
pernah saya jumpai sebelumnya, berkunjung ke tempat-tempat baru,
mencicipi makanan dan minuman yang berbeda, mendengar dan belajar bahasa
yang berbeda, sungguh menimbulkan perasaan tersendiri.
Tapi berkunjung dan menetap mempunyai makna yang berbeda. Ketika berkunjung 1-2 minggu di suatu tempat baru, kita tahu pada akhirnya kita akan kembali ke tempat kita menetap. Nah sebagai orang yang selalu dirantau, seringkali saya sangat antusias sekaligus berat hati ketika sampai di ujung sebuah babak kehidupan.
Misalnya, ketika harus pindah dari Kuningan ke Bandung selepas sekolah menengah pertama. Harus meninggalkan zona nyaman yang telah saya tempati selama 15 tahun hidup saya saat itu, tentu berat rasanya. Ingin rasanya tetap tinggal dan memilih sekolah menengah yang bisa dijangkau 15 menit saja dari rumah. Ingin rasanya tetap bersama teman-teman baik saya. Ingin tetap berada di tempat-tempat yang saya sudah sangat terbiasa dengannya. Tapi keputusan sudah diambil, saya harus melanjutkan tahapan selanjutnya di kota lain.
Ketika selesai SMA, kembali saya harus meninggalkan wilayah aman saya dan menuju tempat baru, dari Bandung, saya harus pindah ke Jatinangor. Membereskan barang-barang untuk di packing selalu tidak mudah. Sulit. Galau.
Selepas dari Jatinangor sambil mencari pekerjaan, hidup saya kembali nomaden tak tentu arah. Dua minggu di Kuningan, dua minggu di Depok, dua minggu di Jatinangor. Dan seterusnya. Hingga akhirnya menetap di kosan Mampang selama dua tahun, sampai kemudian menikah dan pindah ke rumah kecil kami di Depok.
Baru saja menikmati "kenyamanan" menetap, keputusan lain yang mengubah segalanya telah diambil. Kali ini harus berpindah ke negara yang sungguh asing. Rumah kami ditinggalkan tanpa dibereskan dengan layak, mengingat begitu padatnya waktu menjelang keberangkatan kami ke Jerman dua tahun lalu.
Hingga akhirnya datanglah saat ini, saat-saat yang menimbulkan perasaan-perasaan galau tak berkesudahan. Should I go? Should I stay? Should I go back? What should I do? Life oh life..it is a constant change. Terkadang saya iri pada teman-teman yang sudah settle, tidak perlu terus bergerak pada setiap tahap kehidupan. Tapi saya tahu saya harus mensyukuri ini. Mensyukuri berbagai kesempatan yang datang. Walaupun kesempatan-kesempatan itu berarti terenggutnya kenyamanan saya. Nothing last forever, Tatat. keep going..keep going and move on..
Tapi berkunjung dan menetap mempunyai makna yang berbeda. Ketika berkunjung 1-2 minggu di suatu tempat baru, kita tahu pada akhirnya kita akan kembali ke tempat kita menetap. Nah sebagai orang yang selalu dirantau, seringkali saya sangat antusias sekaligus berat hati ketika sampai di ujung sebuah babak kehidupan.
Misalnya, ketika harus pindah dari Kuningan ke Bandung selepas sekolah menengah pertama. Harus meninggalkan zona nyaman yang telah saya tempati selama 15 tahun hidup saya saat itu, tentu berat rasanya. Ingin rasanya tetap tinggal dan memilih sekolah menengah yang bisa dijangkau 15 menit saja dari rumah. Ingin rasanya tetap bersama teman-teman baik saya. Ingin tetap berada di tempat-tempat yang saya sudah sangat terbiasa dengannya. Tapi keputusan sudah diambil, saya harus melanjutkan tahapan selanjutnya di kota lain.
Ketika selesai SMA, kembali saya harus meninggalkan wilayah aman saya dan menuju tempat baru, dari Bandung, saya harus pindah ke Jatinangor. Membereskan barang-barang untuk di packing selalu tidak mudah. Sulit. Galau.
Selepas dari Jatinangor sambil mencari pekerjaan, hidup saya kembali nomaden tak tentu arah. Dua minggu di Kuningan, dua minggu di Depok, dua minggu di Jatinangor. Dan seterusnya. Hingga akhirnya menetap di kosan Mampang selama dua tahun, sampai kemudian menikah dan pindah ke rumah kecil kami di Depok.
Baru saja menikmati "kenyamanan" menetap, keputusan lain yang mengubah segalanya telah diambil. Kali ini harus berpindah ke negara yang sungguh asing. Rumah kami ditinggalkan tanpa dibereskan dengan layak, mengingat begitu padatnya waktu menjelang keberangkatan kami ke Jerman dua tahun lalu.
Hingga akhirnya datanglah saat ini, saat-saat yang menimbulkan perasaan-perasaan galau tak berkesudahan. Should I go? Should I stay? Should I go back? What should I do? Life oh life..it is a constant change. Terkadang saya iri pada teman-teman yang sudah settle, tidak perlu terus bergerak pada setiap tahap kehidupan. Tapi saya tahu saya harus mensyukuri ini. Mensyukuri berbagai kesempatan yang datang. Walaupun kesempatan-kesempatan itu berarti terenggutnya kenyamanan saya. Nothing last forever, Tatat. keep going..keep going and move on..
Saturday, July 16, 2016
...................................................
On Sunday 26th July, I was about to call you, to tell you about our short trip to Marrakesh. To tell you what I saw there, how are the Moslems there fasting, the desert climate, etc. I know you love to hear story.. But I thought it was already time for Subuh praying in Indonesia, it supposed that you are not going to take my call. This time differences influenced our communication.
Last February when I was home after two years in Germany, I told you about everything. My life, my study, the people here, cities I've visited, countries I've visited, etc. You listened to me carefully. I told you about my short trip to Den Haag and you listened to it carefully. I know that you know Denhaag, from our nation history, as you love geography (you said Ilmu Bumi) and history subjects at school. I promised my self, even I imagined it already in my head, I'd buy you ticket for Euro trip, to show you Netherlands, Den Haag, and Paris. I remember, you never got on a plane.
Two weeks before you´re gone, 8th June, exactly the last time I heard your voice, I woke you up before Sahur time. It was just Iftar time for me. Your voice indicated that you were just woke up from your sleep. You said things that you usually said to me on the phone, "don't forget to pray. Don't forget to teach Alif to pray and to read Qur'an." You repeated it as always.
Then that morning, 27th July 2016 (22 Ramadhan), I was eating my sahur. First sister called me via Whatsapp. I thought that mother wants to speak with me, as they were in the hospital waiting for my niece (he got dengue fever). It turned out that she was crying. She said that you're gone. All of the sudden. You had no pain or sickness. Once you've told me about your cholesterol. But just that. No major pain or anything else. Even you've called second sister this morning. So normal..
Maybe this is why, I kept thinking on this quite oft lately. What if you or mom suddenly go forever..or what if I go first. If I ask myself whether I regret my self for what I havent't done yet, of course. There will be no enough time for everything..Even my previous posting is a poem from a "Ema" which then I changed to to "Apa" just a minute before. Several weeks ago, I read some articles about "how to cope with lost and sadness", that kind of article. I didn´t know why I was so interested to read them. Is it what people called "firasat" (specific feeling about what would happen)?
I believe in "takdir Allah", a final destiny for human being. I know that this finally will happen to everyone. It is just a matter of time. But still..isn´t it too early? Or is it just me who could not forgive myself about things that I haven´t done for you?.
I remember your life after you and mom divorced, around 2002. It must be a very lonely years for you, the last 15 years. You did everything alone. Eat, pray, sleep, all alone. It is what I regret the most. It is what I regret the most. Even though I know that all of us, will be alone at last. It is what I regret the most.
I hope that we will meet again someday. I hope to see you again someday. And I will tell you everything, what I want to tell you. Until that day, may Allah places you in the best place. May Allah accept all your good deeds. May Allah forgive all your wrongdoings. May Allah leads me to His way, so we can meet again someday. May Allah grants me ikhlas and sabr.
Last February when I was home after two years in Germany, I told you about everything. My life, my study, the people here, cities I've visited, countries I've visited, etc. You listened to me carefully. I told you about my short trip to Den Haag and you listened to it carefully. I know that you know Denhaag, from our nation history, as you love geography (you said Ilmu Bumi) and history subjects at school. I promised my self, even I imagined it already in my head, I'd buy you ticket for Euro trip, to show you Netherlands, Den Haag, and Paris. I remember, you never got on a plane.
Two weeks before you´re gone, 8th June, exactly the last time I heard your voice, I woke you up before Sahur time. It was just Iftar time for me. Your voice indicated that you were just woke up from your sleep. You said things that you usually said to me on the phone, "don't forget to pray. Don't forget to teach Alif to pray and to read Qur'an." You repeated it as always.
Then that morning, 27th July 2016 (22 Ramadhan), I was eating my sahur. First sister called me via Whatsapp. I thought that mother wants to speak with me, as they were in the hospital waiting for my niece (he got dengue fever). It turned out that she was crying. She said that you're gone. All of the sudden. You had no pain or sickness. Once you've told me about your cholesterol. But just that. No major pain or anything else. Even you've called second sister this morning. So normal..
Maybe this is why, I kept thinking on this quite oft lately. What if you or mom suddenly go forever..or what if I go first. If I ask myself whether I regret my self for what I havent't done yet, of course. There will be no enough time for everything..Even my previous posting is a poem from a "Ema" which then I changed to to "Apa" just a minute before. Several weeks ago, I read some articles about "how to cope with lost and sadness", that kind of article. I didn´t know why I was so interested to read them. Is it what people called "firasat" (specific feeling about what would happen)?
I believe in "takdir Allah", a final destiny for human being. I know that this finally will happen to everyone. It is just a matter of time. But still..isn´t it too early? Or is it just me who could not forgive myself about things that I haven´t done for you?.
I remember your life after you and mom divorced, around 2002. It must be a very lonely years for you, the last 15 years. You did everything alone. Eat, pray, sleep, all alone. It is what I regret the most. It is what I regret the most. Even though I know that all of us, will be alone at last. It is what I regret the most.
I hope that we will meet again someday. I hope to see you again someday. And I will tell you everything, what I want to tell you. Until that day, may Allah places you in the best place. May Allah accept all your good deeds. May Allah forgive all your wrongdoings. May Allah leads me to His way, so we can meet again someday. May Allah grants me ikhlas and sabr.
Monday, June 13, 2016
Anaking*
Anaking, anak Apa**
kiwari Apa geus nepi
ka lembur anu sabenerna,
lembur nu beda
jeung lembur urang baheula.
Anaking, anak incu
mun isuk-pageto
hidep sono hayang papanggih jeung Apa,
tuluy hidep baralik ka lembur jiga baheula,
omat tong angkaribung barang bawa,
sabab Apa
geus lain Apa anu baheula!
Anaking, kamelang Apa!
mun hidep nyaah ka Apa,
teu kudu bingung mulang tarima,
tapi cukup bejaan Apa:
yen hidep geus jadi jalma soleh,
geus jadi hamba Alloh ahli ibadah
bari salawasna terus ngadu’a
sangkan aya dina ridlo Anjeuna
Anaking,
mun hidep nyaah ka Apa,
cukup bejaan Apa:
yen hidep nyaah ka Apa,
akur jeung dulur,
runtut-raut sauyunan
silih hargaan silih elingan
silih tulung silih bantu
gogonjakan jiga baheula!
Anaking,
pang bejakeun ka anak incu hidep,
yen Apa nyaah ka hidep!
nyaah ku lucu na,
nyaah ku bela na,
nyaah ku sumanget na!
Bejakeun ka kulawarga hidep
Apa geus nepi ka nu dituju,
Apa rek satia nungguan,
di dieu,
di hareupeun panto surga!
Anaking, anak-incu,
wayahna, baca ieu surat saeutik deui!
Apa hayang mere beja
nyambung beja anu baheula:
nu manfaat di dieu, di alam baka;
geuning lain harta, lain tahta,
lain pangkat, lain jabatan,
tapi wungkul
amal soleh waktu di dunya
nu dibungkus iman jeung katakwaan!
Ayeuna ku Apa geus karasa,
geus karasa!
karasa endahna solat jeung puasa,
karasa endahna zakat,
karasa endahna mikanyaah fakir-miskin,
karasa endahna akur jeung dulur,
bari heman ka tatangga!
Anaking, anak-incu,
mun hirup hidep kadungsang-dungsang,
mun hidep loba ma’siat tibatan tobat,
loba takabur batan tafakur,
loba sasar batan istigfar,
loba salah batan ibadah,
omat Apa tong dibejaan,
sabab teu sanggup ngadengekeunana!
Anaking,
hampura, hampura
du’akeun Mamah jeung Apa hidep.
*anonim dari salah satu grup WA
**dimodifikasi dari "Ema" ke "Apa"
kiwari Apa geus nepi
ka lembur anu sabenerna,
lembur nu beda
jeung lembur urang baheula.
Anaking, anak incu
mun isuk-pageto
hidep sono hayang papanggih jeung Apa,
tuluy hidep baralik ka lembur jiga baheula,
omat tong angkaribung barang bawa,
sabab Apa
geus lain Apa anu baheula!
Anaking, kamelang Apa!
mun hidep nyaah ka Apa,
teu kudu bingung mulang tarima,
tapi cukup bejaan Apa:
yen hidep geus jadi jalma soleh,
geus jadi hamba Alloh ahli ibadah
bari salawasna terus ngadu’a
sangkan aya dina ridlo Anjeuna
Anaking,
mun hidep nyaah ka Apa,
cukup bejaan Apa:
yen hidep nyaah ka Apa,
akur jeung dulur,
runtut-raut sauyunan
silih hargaan silih elingan
silih tulung silih bantu
gogonjakan jiga baheula!
Anaking,
pang bejakeun ka anak incu hidep,
yen Apa nyaah ka hidep!
nyaah ku lucu na,
nyaah ku bela na,
nyaah ku sumanget na!
Bejakeun ka kulawarga hidep
Apa geus nepi ka nu dituju,
Apa rek satia nungguan,
di dieu,
di hareupeun panto surga!
Anaking, anak-incu,
wayahna, baca ieu surat saeutik deui!
Apa hayang mere beja
nyambung beja anu baheula:
nu manfaat di dieu, di alam baka;
geuning lain harta, lain tahta,
lain pangkat, lain jabatan,
tapi wungkul
amal soleh waktu di dunya
nu dibungkus iman jeung katakwaan!
Ayeuna ku Apa geus karasa,
geus karasa!
karasa endahna solat jeung puasa,
karasa endahna zakat,
karasa endahna mikanyaah fakir-miskin,
karasa endahna akur jeung dulur,
bari heman ka tatangga!
Anaking, anak-incu,
mun hirup hidep kadungsang-dungsang,
mun hidep loba ma’siat tibatan tobat,
loba takabur batan tafakur,
loba sasar batan istigfar,
loba salah batan ibadah,
omat Apa tong dibejaan,
sabab teu sanggup ngadengekeunana!
Anaking,
hampura, hampura
du’akeun Mamah jeung Apa hidep.
*anonim dari salah satu grup WA
**dimodifikasi dari "Ema" ke "Apa"
Subscribe to:
Posts (Atom)