Bukan..ini bukan cerita lain dari ke-home-sick-an saya. Ini tentang apa yang saat ini terjadi di dunia, khususnya di Eropa, yaitu krisis pengungsi atau enggresnya refugee crisis. Saat ini gelombang pengungsi dari negara yang dilanda konflik seperti Syria dan Afganistan meningkat tajam. Wajar aja sih..siapa yang tahan tinggal di tempat yang setiap hari perang, ada bom, atau terancam dengan kematian setiap saat. Belum lagi para pengungsi ekonomi dari balkan, afrika, dll.
Eropa memang nampak menggiurkan. Keamanan, jaminan sosial yang memadai untuk warganya, sekolah gratis, dll.
Reaksi warga Eropa beraneka ragam. Sebagian menyambut dengan alasan kemanusiaan, banyak yang sinis karena takut Islam akan menguasai Eropa, ada yang takut pengungsi akan mencuri pekerjaannya, makanin duit pajak, dll.
Saya menemukan sebagian besar facebook friends saya yang orang Jerman/Eropa, adalah orang-orang yang pro kedatangan pengungsi. "Kein Mensch ist illegal", "Refugee Welcome", adalah beberapa dari slogan kampanye mereka. Sebagian besar dari kelompok ini adalah mahasiswa dan aktifis, kelompok intelektual organik yang menyadari bahwa privilege yang mereka punya harus digunakan untuk kemaslahatan orang banyak. Kelompok yang menyadari, bahwa negara-negara mereka (Eropa) punya andil dalam menyebabkan atau memperpanjang konflik, sehingga juga harus bertanggung jawab menerima para pengungsi yang datang. Kelompok ini menyadari, bahwa kedatangan pengungsi tidak berarti memburuknya perekonomian..karena pengungsi justru bisa jadi potensi di masa depan..potensi sebagai future tax payers. Terutama di negara-negara yang penduduknya menua seperti Jerman.
Kelompok kedua adalah orang Jerman/Eropa yang agak ditengah. Biasanya mereka bilang "pengungsi dari negara konflik silakan datang..tapi pendatang dari Balkan atau Afrika atau negara yang tidak konflik, mending pulang aja." Kelompok ini lumayan lah..masih punya nilai-nilai kemanusiaan.
Kelompok ketiga, kelompok kanan ekstrem. Kelompok ini jelas pernyataannya: "Ausländer raus!" (orang asing keluar!)..haha..Kelompok ini adalah penjelmaan masa kini Nazi alias Neo Nazi.
Yang membuat saya paling heran dan sampe geleng-geleng kepala..adalah orang asing yang anti pengungsi -_-. Salah satu teman facebook saya (mbak Indonesia yg menikah dengan orang Jerman), ditag status oleh temannya yang tampaknya juga orang Indonesia yang tinggal di Perancis. Statusnya kira-kira mengatakan bahwa para pengungsi itu ancaman buat Eropa..ancaman buat Kristen di Eropa..Eropa akan menjadi mayoritas muslim, kotor dan berantakan. Kalo bisa ngomong langsung, saya mau bilang gini ke si mba yg bikin status "Bahwa orang eropa (yang rasis) menganggap semua manusia kulit berwarna sebagai ancaman..tanpa peduli agamanya. Bahwa meskipun kamu Kristen, orang Eropa juga sebenernya rasis-in kamu yang wanita Indonesia berkulit sawo matang. Bahwa kamu sebaiknya tidak besar kepala dan ikut2an rasis sama pendatang."
Well saya paham..bahwa tidak semua pengungsi/pencari suaka itu baik. Ada yang kemudian jadi mafia trafficking, copet, dll. Ada orang-orang yang datang ke Eropa dengan tujuan hanya untuk menikmati uang jaminan sosial tapi ga mau kerja dan bayar pajak. Tapi bukan berarti semua imigran atau pengungsi itu pasti penjahat, jorok dan pemalas kan? Kalo dilakukan generalisasi, mbak2 penulis status itu juga tentu akan masuk kategori imigran kok walaupun suaminya orang Eropa.
Kemudian ceritanya jadi agak personal. Saya sendiri belum memutuskan apakah akan pulang atau mencari peruntungan di sini setelah lulus kuliah. Tapi pilihan menetap di sini bukan segala-galanya.. Keinginan (suami) untuk menetap pun bukan karena disini semuanya serba enak dan bagus.. No..no.. Saya tetap menganggap Indonesia sebagai my ultimate home (yang mana saya yakin semua pengungsi itu juga pasti merindukan kampung halamannya). Boleh dan bebas saja kan kalo orang lain ingin tinggal di tempat lain untuk suatu masa.. Makanya saya juga kesal kalo ada yang bilang "kalo mau di sini harus ini itu dll.." It's not because here is better than there, but because if we want to stay in foreign land with foreign people far away from home, we need to prepare ourself to survive."
Buat saya, kalo harus pulang ke Indonesia juga bagus.. Dan bukan berarti saya kalah. Malah enak bisa dekat keluarga, teman, dan makanan enak ;)
Thursday, September 10, 2015
Saturday, April 11, 2015
Thursday, March 19, 2015
Playing with pompoms
Sudah lama pengen mainan pompom..tapi baru sempet kemaren. Sebenernya ada niatan buat bikin pompom sendiri..tapi apadaya..ga sempet ;p Beli aja deh akhirnya..untung murah. Alat dan bahan: gulungan tisu yang sudah habis, selotip, dan pompom.
Ide permainannya dapet dari pinterest. Intinya sih, si bocah masuk-masukkin pompom ke "pipa" bekas gulungan tisu yang ditempel ke dinding (kalo saya, tempel ke lemari). Si pompom bakal ngagorolong lewat "pipa" tadi. Si Alif seneng banget ngeliat pompom meluncur cepat di "pipa" dan jatuh ke lantai. Dia semangat mungutin si pompom dan masukkin lagi berulang-ulang.
Awalnya, saya cuma nempel satu "pipa", karena si alif udah ga sabaran pengen maen. Pas ada waktu, saya tempel satu lagi bekas gulungan tisu toilet (lebih pendek dari tisu dapur), jadi seolah-olah pipanya belok-belok.
Lumayan bikin anaknya sibuk beberapa saat :D Tantangan buat saya karena bocahnya ga sabaran banget dan beberapa kali tempelan "pipa" copot karena bocah terlalu semangat masukkin pompom sekaligus banyak -_-. Tapi si alif belajar juga..bahwa kalo pompom kebesaran atau kebanyakan yang dimasukkin, ya mampet. Dia kayaknya berusaha memahami konsep "mampet" itu. Kalo pas mampet, beberapa kali dia nengok ke dalam "pipa"..haha. Ga apa-apa deh..namanya juga belajar :D
Ide permainannya dapet dari pinterest. Intinya sih, si bocah masuk-masukkin pompom ke "pipa" bekas gulungan tisu yang ditempel ke dinding (kalo saya, tempel ke lemari). Si pompom bakal ngagorolong lewat "pipa" tadi. Si Alif seneng banget ngeliat pompom meluncur cepat di "pipa" dan jatuh ke lantai. Dia semangat mungutin si pompom dan masukkin lagi berulang-ulang.
Awalnya, saya cuma nempel satu "pipa", karena si alif udah ga sabaran pengen maen. Pas ada waktu, saya tempel satu lagi bekas gulungan tisu toilet (lebih pendek dari tisu dapur), jadi seolah-olah pipanya belok-belok.
Lumayan bikin anaknya sibuk beberapa saat :D Tantangan buat saya karena bocahnya ga sabaran banget dan beberapa kali tempelan "pipa" copot karena bocah terlalu semangat masukkin pompom sekaligus banyak -_-. Tapi si alif belajar juga..bahwa kalo pompom kebesaran atau kebanyakan yang dimasukkin, ya mampet. Dia kayaknya berusaha memahami konsep "mampet" itu. Kalo pas mampet, beberapa kali dia nengok ke dalam "pipa"..haha. Ga apa-apa deh..namanya juga belajar :D
Monday, March 9, 2015
Mencoba
Tugas kita bukanlah untuk berhasil, tugas kita adalah untuk mencoba...Karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil....
-Tan Malaka- Masa Aksi 1926*
*dikutip dari status kawan Eka
-Tan Malaka- Masa Aksi 1926*
*dikutip dari status kawan Eka
Sunday, February 22, 2015
Baby book meeting
Sudah dua kali, setiap hari Sabtu jam 11.05-11.50, saya mengajak Alif ikutan Babybüchertreff (baby book meeting) di perpustakaan kota Osnabrück. Tujuan kegiatannya yaitu pengenalan buku dan membaca untuk para bayi, antara umur 1,5 sampai 3 tahun. Bocah-bocah ini TIDAK diajari membaca, tapi dikenalkan pada buku dan aktifitas membaca bersama.
Kegiatan ini bertempat di salah satu pojokan perpustakaan kota, bagian buku anak-anak dan pemuda. Meeting ini dipandu oleh satu orang staf perpustakaan yang sudah menyiapkan boneka besar, kotak harta karun berisi buku-buku untuk balita, dan alat musik kerincingan. Setiap balita harus ditemani salah satu ortunya (bisa juga neneknya atau siapapun..hehe). Ortunya duduk di kursi besar, dan balitanya di kursi kecil di depan para emak atau bapaknya.
Kegiatan ini dibuka dengan menyanyi lagu pembuka bersama-sama, termasuk para ortu juga ikut nyanyi. Berhubung saya belom apal, ya cuma ngikut gerakan dan lalalala aja :p. Setelah itu, bocah-bocah harus mencari boneka besar yang sudah disembunyikan di rak buku. Di dalam kantong boneka itu, terdapat satu buku utama yang akan dibaca bersama-sama. Anak-anak sangat antusias ketika mencari si boneka besar ini. Selanjutnya sang pemandu akan membacakan buku dengan melibatkan anak-anak yang hadir. Terkadang anak-anak diajak untuk menarik bagian buku yang bisa ditarik, atau sekedar membalik halaman buku.
Aktifitas selanjutnya, anak-anak harus menemukan kotak harta karun yang didalamnya terdapat banyak buku lucu-lucu dan menarik. Setelah itu, salah satu anak akan mendapat kehormatan untuk membuka kunci kotaknya. Setelah kotak dibuka, anak-anak diberi waktu untuk memilih sendiri buku yang ingin dibaca bersama dengan orang tua masing-masing. Buku-buku di dalam kotak ini memang buku-buku yang tak hanya bisa dibaca, tapi bisa disentuh, ditarik-tarik, dll, yang memang merangsang balita untuk terlibat secara aktif. Biasanya saya dan Alif berhasil membaca kira-kira 3-4 buku, sebelum akhirnya kotak kembali ditutup.
Setelah kotak ditutup, pemandu akan membagikan kerencengan untuk semua anak dan orang tua, untuk bernyanyi bersama menutup acara.
Saya perhatikan, anak-anak senang dan antusias mengikuti kegiatan ini. Bahkan ada satu anak yang selalu nangis sedih ketika kotak harta karun harus ditutup. Saya sendiri suka karena Alif bisa dapet kesempatan untuk membaca buku-buku di dalam kotak harta karun itu. Buku-buku itu memang milik perpustakaan, tapi tidak bisa dipinjam (mungkin karena memang disediakan khusus untuk kegiatan ini). Sementara kalo beli, mahal cyiin buku-bukunya. Buku-buku lain yang biasa saya pinjam untuk Alif tidak seinteraktif yang ada di kotak.
Kegiatan ini juga bagus untuk membiasakan batita berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain selain keluarga dekat di rumah. Untuk mengikuti kegiatan ini, peserta sama sekali tidak dipungut bayaran..gratis..tis..pas banget buat mahasiswa kantong tipis kayak saya ;D
*belum berhasil moto apapun, soalnya ga enak mau moto orang-orang dari jarak dekat*
Kegiatan ini bertempat di salah satu pojokan perpustakaan kota, bagian buku anak-anak dan pemuda. Meeting ini dipandu oleh satu orang staf perpustakaan yang sudah menyiapkan boneka besar, kotak harta karun berisi buku-buku untuk balita, dan alat musik kerincingan. Setiap balita harus ditemani salah satu ortunya (bisa juga neneknya atau siapapun..hehe). Ortunya duduk di kursi besar, dan balitanya di kursi kecil di depan para emak atau bapaknya.
Kegiatan ini dibuka dengan menyanyi lagu pembuka bersama-sama, termasuk para ortu juga ikut nyanyi. Berhubung saya belom apal, ya cuma ngikut gerakan dan lalalala aja :p. Setelah itu, bocah-bocah harus mencari boneka besar yang sudah disembunyikan di rak buku. Di dalam kantong boneka itu, terdapat satu buku utama yang akan dibaca bersama-sama. Anak-anak sangat antusias ketika mencari si boneka besar ini. Selanjutnya sang pemandu akan membacakan buku dengan melibatkan anak-anak yang hadir. Terkadang anak-anak diajak untuk menarik bagian buku yang bisa ditarik, atau sekedar membalik halaman buku.
Aktifitas selanjutnya, anak-anak harus menemukan kotak harta karun yang didalamnya terdapat banyak buku lucu-lucu dan menarik. Setelah itu, salah satu anak akan mendapat kehormatan untuk membuka kunci kotaknya. Setelah kotak dibuka, anak-anak diberi waktu untuk memilih sendiri buku yang ingin dibaca bersama dengan orang tua masing-masing. Buku-buku di dalam kotak ini memang buku-buku yang tak hanya bisa dibaca, tapi bisa disentuh, ditarik-tarik, dll, yang memang merangsang balita untuk terlibat secara aktif. Biasanya saya dan Alif berhasil membaca kira-kira 3-4 buku, sebelum akhirnya kotak kembali ditutup.
Setelah kotak ditutup, pemandu akan membagikan kerencengan untuk semua anak dan orang tua, untuk bernyanyi bersama menutup acara.
Saya perhatikan, anak-anak senang dan antusias mengikuti kegiatan ini. Bahkan ada satu anak yang selalu nangis sedih ketika kotak harta karun harus ditutup. Saya sendiri suka karena Alif bisa dapet kesempatan untuk membaca buku-buku di dalam kotak harta karun itu. Buku-buku itu memang milik perpustakaan, tapi tidak bisa dipinjam (mungkin karena memang disediakan khusus untuk kegiatan ini). Sementara kalo beli, mahal cyiin buku-bukunya. Buku-buku lain yang biasa saya pinjam untuk Alif tidak seinteraktif yang ada di kotak.
Kegiatan ini juga bagus untuk membiasakan batita berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain selain keluarga dekat di rumah. Untuk mengikuti kegiatan ini, peserta sama sekali tidak dipungut bayaran..gratis..tis..pas banget buat mahasiswa kantong tipis kayak saya ;D
*belum berhasil moto apapun, soalnya ga enak mau moto orang-orang dari jarak dekat*
Thursday, February 19, 2015
Mewarnai, menggunting dan menempel
Kembali postingan bertema #emak :D
Dua hari ini Alif lagi belajar menggunting. Kalo mewarnai dia udah sering nyoba..tapi biasanya cepet bosen. Kali ini, niat awal saya sebenernya biar alif belajar menggunting. Tapi buat anak 27 bulan, masih syulit banget ngatur tangan di posisi menggunting. Untuk balita, guntingnya pake yang hanya bisa dipake buat menggunting kertas sama karton.
Jadi akhirnya saya menggambar beberapa bentuk, alif warnain, saya menggunting, kemudian alif ngelem dan nempelin di pintu lemari.
Anaknya lumayan antusias..dan bisa fokus ngerjain ini selama beberapa saat. Alif mulai fokus mewarnai di satu tempat, yaitu di dalam bentuk yang saya gambar. Biasanya kan dia semacem corat-coret random dengan pensil warna :D
Seru juga ternyata main-main begini sama anak yak..hihi..meskipun ga secanggih emak-emak DIY atau crafting, buat saya semacem refreshing dari buku-buku politik yang numpuk!-_-
Dua hari ini Alif lagi belajar menggunting. Kalo mewarnai dia udah sering nyoba..tapi biasanya cepet bosen. Kali ini, niat awal saya sebenernya biar alif belajar menggunting. Tapi buat anak 27 bulan, masih syulit banget ngatur tangan di posisi menggunting. Untuk balita, guntingnya pake yang hanya bisa dipake buat menggunting kertas sama karton.
![]() |
| Alat bermain |
![]() |
| seneng banget disuruh nempel :D |
Seru juga ternyata main-main begini sama anak yak..hihi..meskipun ga secanggih emak-emak DIY atau crafting, buat saya semacem refreshing dari buku-buku politik yang numpuk!-_-
Tuesday, February 17, 2015
Meronce sedotan untuk balita
Waktunya postingan #emak.
Ini adalah percobaan kedua alif, 27 bulan, meronce sedotan (masukkin sedotan ke dalam benang). Kegiatan murah meriah lain untuk melatih motorik halus balita. Percobaan pertama minggu lalu, saya cuma nyiapin alat dan bahannya, lalu alif dan ayahnya yang main. Hari ini saya temenin alif main sampe beres.
Kemudian si bocah pun mulai memasukkan sedotan satu-satu ke dalam benang. Beberapa kali sempat terhenti karena dia lebih tertarik hal lain. Tapi emak keukeuh ngasih supportnya ;D
Untuk urutan warna, masih sesukanya Alif, karena dia belum bisa beneran bedain warna. Masih sering ketuker-tuker. Sampai akhirnya...jadilah si kalung (atau gelang sedotan ini).
Sebenernya kegiatan ini ga asing buat kita (saya). Waktu TK atau SD pasti pernah buat beginian..lain kali kita bikin yang lebih menantang (bocah) yuks!
Ini adalah percobaan kedua alif, 27 bulan, meronce sedotan (masukkin sedotan ke dalam benang). Kegiatan murah meriah lain untuk melatih motorik halus balita. Percobaan pertama minggu lalu, saya cuma nyiapin alat dan bahannya, lalu alif dan ayahnya yang main. Hari ini saya temenin alif main sampe beres.
Alat dan bahan: sedotan warna-warni di gunting pendek-pendek, benang (saya pake benang yang ada di rumah, benang wol). Hari ini saya sekalian ajak alif mencoba menggunting sedotan sendiri. Tapi ya tangannya belum bisa menggerakkan gunting dengan benar, masih perlu dibantu.
Caranya: pertama, buat simpul di salah satu ujung. Di ujung lainnya, bisa menggunakan lidi atau tusuk gigi, biar mudah dimasukkan ke dalam sedotan. Karena ga nemu lidi, ayahnya alif hanya membungkus ujung satunya dengan selotip, agar keras dan bisa dimasukkan ke dalam sedotan (soalnya pake tusuk gigi terlalu tajam dan sulit nempel di benang wol).
Kemudian si bocah pun mulai memasukkan sedotan satu-satu ke dalam benang. Beberapa kali sempat terhenti karena dia lebih tertarik hal lain. Tapi emak keukeuh ngasih supportnya ;D
Untuk urutan warna, masih sesukanya Alif, karena dia belum bisa beneran bedain warna. Masih sering ketuker-tuker. Sampai akhirnya...jadilah si kalung (atau gelang sedotan ini).
Sebenernya kegiatan ini ga asing buat kita (saya). Waktu TK atau SD pasti pernah buat beginian..lain kali kita bikin yang lebih menantang (bocah) yuks!
Subscribe to:
Posts (Atom)




