Melihat kartu pos ini tepat kemarin, di toko buku di stasiun. Not that I am a big fan of Marilyn Monroe, I just like the quote. Kind of good to close 2015 and prepare for 2016 with those words :).
Happy new year!
Ich wünsche euch einen guten Rutsch ins neue Jahr!
Thursday, December 31, 2015
Monday, November 23, 2015
Alif 3 tahun
![]() |
| Dekorasinya |
21.11.2012 - 21.11.2015
Dua hari lalu adalah hari ulang tahun Alif yang ke-tiga (Menurut tahun Masehi). Kami rayakan kecil-kecilan di rumah dengan mengundang teman-teman saya. Kami memasak Laksa Betawi sebagai menu utama, oreg tempe (random, tadinya buat siap2 siapa tau ada yg vegan), kerupuk, dan kue ultah berupa wajik ketan hijau! Meskipun menu tabrak-tabrak, teman-teman yang datang tetap senang dan bilang enak :D (soalnya sebagian besar bukan orang Indonesia..hehe).
![]() |
| Wajik Ketan Hijau |
![]() |
| Laksa dkk |
Dan hari ini (Senin 23.11.2015) adalah hari perayaan di sekolah Alif. Tapi ortu ga ikutan...cuma bocah2 dan gurunya, tiup lilin dan makan kue kering yang dibuatkan sama koki sekolahnya. Tadinya sih niat juga mau bikin bingkisan kecil buat teman-teman si Alif (semacem goodie bag isi tiga jenis coklat/cemilan manis beli di toko) tapi tangan rasanya udah gempor.. Abis masak 3 hari non-stop -_-. Oh..how I miss catering or warung makan T_T
Bocahnya dalam kedua perayaan ultah tersebut tampak senang..tiup lilin, buka kado, maenin maenan baru, dll. Meskipun kecaperannya di keramaian pun semakin nampak..bocah..oh bocah..untung beberapa teman saya memang suka maen sama bocah..Sementara saya dan ayahnya sibuk ngurus makanan atau ngobrol sama tamu, ada yang nemenin si Alif maen playdoh, Puzzle, dll :D
![]() |
| birthday playdoh playdate |
Usia tiga tahun ini juga cukup penting buat si Alif..karena mulai Desember, dia akan memasuki Kindergarten (saat ini masih di Kinderkrippe- utk anak dibawah 3 tahun). Harusnya sih..dia udah lolos toilet training sebelum itu #ups. Janji toilet training setelah ultah kedua pun belom konsisten dilakukan T_T. Tentu bukan salah bocahnya..salah ortunya yang males kotor2an -__-. Well ya..minggu ini semoga bisa total mulai dan konsisten!
Secara kemampuan berbahasa, yang paling berkembang adalah bahasa Indonesia. Sudah bisa ngomong kalimat panjang dan nanya macem-macem. "ibu kenapa lari?", "ayah..santai-santai dulu aja".. dan lain-lain. Kemampuan bahasa Jermannya juga makin berkembang. Kosakata makin banyak..meskipun kata kerja yang digunakan masih dalam bentuk infinitif. Sering juga..dia berbicara bahasa Indonesia di rumah, dengan selipan kata-kata bahasa Jerman. Misalnya "ibu feuerwehr Alif dimana?"..dll. Biasanya saya ulangi kalimat dia dengan nyebutin bahasa Indonesianya. Pelafalan "r" si alif pun agak2 kejerman-jermanan misalnya "turrun", dgn bunyi r agak sengau.
Apakah semakin gede semakin mandiri? Hem..kayaknya di beberapa hal ngga juga. Misalnya..sekarang kalo tidur malah jadi harus selalu sama saya. Kalo ga, pasti pake acara nangis dulu. Kalo makan pake sayur, dia sering minta disuapin karena dia sebenernya gamau makan sayur *hupft. Di sisi lain, mulai berani mengungkapkan apa yang dia mau, misalnya dia bilang ke temannya "Hey..Kaela stop..jangan ambil mainan Alif". Walopun sering juga kemudian dia jejeritan dan marah-marah atau nangis kesel kalo diisengin si Kaela :D
Si Alif pun makin ngeh kalo dikasih tau. Biasanya sebelum tidur, saya ajak ngobrol dulu. Tanya-tanya detail apa yang terjadi hari itu..dan membiarkan dia cerita apa aja..misalnya tentang "Junis yang suka makan pipi Alif" (kayaknya si junis ini pernah gigit pipi alif di sekolah karena gemes -_-), dll. Pillow talk ini lumayan banget buat nyari tau tentang perasaan dan keseharian si Alif. Dia jadi bisa cerita lebih banyak daripada kalo saya tanya begitu pulang dari sekolah.
Well sehat-sehat terus ya nak..semoga makin bertambah kesabaran dan semangat eksplorasimu..semoga tumbuh jadi anak soleh yang sayang orang tua dan orang lain, serta berguna untuk umat manusia dan dunia ini. Doa ibu dan ayah yang terbaik selalu untukmu :) Amiin.
Monday, November 16, 2015
ketinggalan
Jam 2 pagi tadi, si alif (hampir 3 tahun) terbangun dan menemukan dirinya sendirian di kamar. Terdengar teriakan dan rengekan.
Alif : merengek-rengek, lalu bilang: "hee..ibu panggil!" (maksud: alif manggil ibu)
Lalu turun dan lari ke ruang tengah sambil bilang: "Alifnya ketinggalan di kamar"
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Alif : merengek-rengek, lalu bilang: "hee..ibu panggil!" (maksud: alif manggil ibu)
Lalu turun dan lari ke ruang tengah sambil bilang: "Alifnya ketinggalan di kamar"
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Friday, November 6, 2015
Belajar bahasa Belanda?
Semester tiga ini, akhirnya saya ngambil kursus bahasa belanda di Sprachenzentrum. Kenapa? Yang pasti sih bukan karena merasa bahasa jerman saya udah jago..haha
Alasan pertamanya sih karena bulan agustus lalu saya bertemu dengan mba yang kerja di KITLV Leiden, yang ngasih tau bahwa banyak project KITLV yang membutuhkan peneliti Indonesia berbahasa belanda, untuk meneliti dokumen-dokumen lama yang terkait pendudukan Belanda di Indonesia. Kebetulan kursus di kampus harganya murah sekali..40 Euro untuk satu semester.
Alasan lainnya, saya banyak bertemu orang asing (Jerman, Belanda, Perancis, dll) yang bisa fasih berbahasa Indonesia. Terutama orang Belanda, di negara sekecil itu yang meskipun kecil namun bisa menguasai kepulauan nusantara jaman dulu, banyak sekali orang yang bisa berbahasa Indonesia, atau minimal paham sejarah, kebiasaan, dan paham bagaimana cara memanfaatkan Indonesia (!). Inget sejarah penaklukan Aceh oleh Belanda kan? atau penaklukan-penaklukan lainnya.. Semuanya karena antropolog2 Belanda saat itu sangat serius meneliti dan berusaha memahami Indonesia. Hal ini yang kemudian membuat keinginan saya belajar bahasa belanda menguat.
Kenapa sedikit sekali orang Indonesia yang bisa bahasa belanda? Jelas penyebab utamanya adalah kebijakan nasionalisme Sukarno, yang melarang pengajaran Bahasa Belanda segera setelah Indonesia merdeka. Padahal menurut saya, sangat penting memahami bahasa si mantan penjajah ini. Terutama untuk lebih memahami cara berpikir mereka. Alasan-alasan kenapa dulu mereka menjajah, penyebab di balik tindakan-tindakan yang dulu mereka lakukan di kepulauan nusantara, dan lain-lain. Jelas waktu tak akan bisa berulang. Tapi dengan memahami bahasa belanda, saya, sebagai orang dari kepulauan nusantara merasa mempunyai kedudukan yang setara dengan mereka. Bukan hanya sebagai objek penelitian atau objek penjajahan, tapi sebagai bangsa yang setara dengan mereka yang juga memahami tindak tanduk dan bahasa mereka.
Meskipun sih..kadang niat kuat pun tinggal niat. Keinginan berhenti belajar kadang menguat juga..apalagi kalo inget si mevrouw guru saya yang..duuh aduh banget dah. Kemaren, saya udah berniat untuk berhenti..untung diingatkan sama bapake bahwa saya sudah bayar kursusnya dan beli bukunya -_-
Yah..semoga sih masih bisa bertahan sampe akhir Januari nanti.
Alasan pertamanya sih karena bulan agustus lalu saya bertemu dengan mba yang kerja di KITLV Leiden, yang ngasih tau bahwa banyak project KITLV yang membutuhkan peneliti Indonesia berbahasa belanda, untuk meneliti dokumen-dokumen lama yang terkait pendudukan Belanda di Indonesia. Kebetulan kursus di kampus harganya murah sekali..40 Euro untuk satu semester.
Alasan lainnya, saya banyak bertemu orang asing (Jerman, Belanda, Perancis, dll) yang bisa fasih berbahasa Indonesia. Terutama orang Belanda, di negara sekecil itu yang meskipun kecil namun bisa menguasai kepulauan nusantara jaman dulu, banyak sekali orang yang bisa berbahasa Indonesia, atau minimal paham sejarah, kebiasaan, dan paham bagaimana cara memanfaatkan Indonesia (!). Inget sejarah penaklukan Aceh oleh Belanda kan? atau penaklukan-penaklukan lainnya.. Semuanya karena antropolog2 Belanda saat itu sangat serius meneliti dan berusaha memahami Indonesia. Hal ini yang kemudian membuat keinginan saya belajar bahasa belanda menguat.
Kenapa sedikit sekali orang Indonesia yang bisa bahasa belanda? Jelas penyebab utamanya adalah kebijakan nasionalisme Sukarno, yang melarang pengajaran Bahasa Belanda segera setelah Indonesia merdeka. Padahal menurut saya, sangat penting memahami bahasa si mantan penjajah ini. Terutama untuk lebih memahami cara berpikir mereka. Alasan-alasan kenapa dulu mereka menjajah, penyebab di balik tindakan-tindakan yang dulu mereka lakukan di kepulauan nusantara, dan lain-lain. Jelas waktu tak akan bisa berulang. Tapi dengan memahami bahasa belanda, saya, sebagai orang dari kepulauan nusantara merasa mempunyai kedudukan yang setara dengan mereka. Bukan hanya sebagai objek penelitian atau objek penjajahan, tapi sebagai bangsa yang setara dengan mereka yang juga memahami tindak tanduk dan bahasa mereka.
Meskipun sih..kadang niat kuat pun tinggal niat. Keinginan berhenti belajar kadang menguat juga..apalagi kalo inget si mevrouw guru saya yang..duuh aduh banget dah. Kemaren, saya udah berniat untuk berhenti..untung diingatkan sama bapake bahwa saya sudah bayar kursusnya dan beli bukunya -_-
Yah..semoga sih masih bisa bertahan sampe akhir Januari nanti.
Saturday, October 3, 2015
Mendadak Curhat #1
Untuk kesekian kalinya, saya merasa bebal banget sama orang, terutama orang yang tidak tahu (tidak membaca) banyak tentang suatu tema, bahkan tidak mengklarifikasi terlebih dulu gosipnya, terus asal share. Terlebih lagi jika orang-orang yang asal share itu adalah orang-orang yang seharusnya lebih bijak karena posisi mereka mungkin sebagai pendidik, pengajar, dll. Padahal perintah membaca adalah kalimat pertama Al-Qur'an yang diturunkan.
Lalu, apa artinya khatam Qur'an puluhan atau bahkan ratusan kali jika ayat pertama saja tidak diamalkan bro? Atau sama saja, yang penting politik nomor 1, agama yang diyakini mah kumaha engke? Atau anda melakukan itu (mungkin) demi dakwah penegakan agama? Come on..
Seriusan deh..untuk orang-orang dengan tipe seperti di atas, "bacalah..bacalah..bacalah" dan tolong juga baca campaign strategy kek communication strategy kek or whatever lah apa kek..biar dakwah kalian ga bikin males orang. Saya mah cuma tukang ribut koar-koar yang pake jilbabnya pun tidak syar´i, lulusan universitas yang medioker pula.
Tapi kebenaran tentu hanya milik Allah. Siapa sih kita sampe berhak untuk ngejudge orang lain?
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1)
“(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan."
Lalu, apa artinya khatam Qur'an puluhan atau bahkan ratusan kali jika ayat pertama saja tidak diamalkan bro? Atau sama saja, yang penting politik nomor 1, agama yang diyakini mah kumaha engke? Atau anda melakukan itu (mungkin) demi dakwah penegakan agama? Come on..
Seriusan deh..untuk orang-orang dengan tipe seperti di atas, "bacalah..bacalah..bacalah" dan tolong juga baca campaign strategy kek communication strategy kek or whatever lah apa kek..biar dakwah kalian ga bikin males orang. Saya mah cuma tukang ribut koar-koar yang pake jilbabnya pun tidak syar´i, lulusan universitas yang medioker pula.
Tapi kebenaran tentu hanya milik Allah. Siapa sih kita sampe berhak untuk ngejudge orang lain?
Thursday, September 10, 2015
Far away from home
Bukan..ini bukan cerita lain dari ke-home-sick-an saya. Ini tentang apa yang saat ini terjadi di dunia, khususnya di Eropa, yaitu krisis pengungsi atau enggresnya refugee crisis. Saat ini gelombang pengungsi dari negara yang dilanda konflik seperti Syria dan Afganistan meningkat tajam. Wajar aja sih..siapa yang tahan tinggal di tempat yang setiap hari perang, ada bom, atau terancam dengan kematian setiap saat. Belum lagi para pengungsi ekonomi dari balkan, afrika, dll.
Eropa memang nampak menggiurkan. Keamanan, jaminan sosial yang memadai untuk warganya, sekolah gratis, dll.
Reaksi warga Eropa beraneka ragam. Sebagian menyambut dengan alasan kemanusiaan, banyak yang sinis karena takut Islam akan menguasai Eropa, ada yang takut pengungsi akan mencuri pekerjaannya, makanin duit pajak, dll.
Saya menemukan sebagian besar facebook friends saya yang orang Jerman/Eropa, adalah orang-orang yang pro kedatangan pengungsi. "Kein Mensch ist illegal", "Refugee Welcome", adalah beberapa dari slogan kampanye mereka. Sebagian besar dari kelompok ini adalah mahasiswa dan aktifis, kelompok intelektual organik yang menyadari bahwa privilege yang mereka punya harus digunakan untuk kemaslahatan orang banyak. Kelompok yang menyadari, bahwa negara-negara mereka (Eropa) punya andil dalam menyebabkan atau memperpanjang konflik, sehingga juga harus bertanggung jawab menerima para pengungsi yang datang. Kelompok ini menyadari, bahwa kedatangan pengungsi tidak berarti memburuknya perekonomian..karena pengungsi justru bisa jadi potensi di masa depan..potensi sebagai future tax payers. Terutama di negara-negara yang penduduknya menua seperti Jerman.
Kelompok kedua adalah orang Jerman/Eropa yang agak ditengah. Biasanya mereka bilang "pengungsi dari negara konflik silakan datang..tapi pendatang dari Balkan atau Afrika atau negara yang tidak konflik, mending pulang aja." Kelompok ini lumayan lah..masih punya nilai-nilai kemanusiaan.
Kelompok ketiga, kelompok kanan ekstrem. Kelompok ini jelas pernyataannya: "Ausländer raus!" (orang asing keluar!)..haha..Kelompok ini adalah penjelmaan masa kini Nazi alias Neo Nazi.
Yang membuat saya paling heran dan sampe geleng-geleng kepala..adalah orang asing yang anti pengungsi -_-. Salah satu teman facebook saya (mbak Indonesia yg menikah dengan orang Jerman), ditag status oleh temannya yang tampaknya juga orang Indonesia yang tinggal di Perancis. Statusnya kira-kira mengatakan bahwa para pengungsi itu ancaman buat Eropa..ancaman buat Kristen di Eropa..Eropa akan menjadi mayoritas muslim, kotor dan berantakan. Kalo bisa ngomong langsung, saya mau bilang gini ke si mba yg bikin status "Bahwa orang eropa (yang rasis) menganggap semua manusia kulit berwarna sebagai ancaman..tanpa peduli agamanya. Bahwa meskipun kamu Kristen, orang Eropa juga sebenernya rasis-in kamu yang wanita Indonesia berkulit sawo matang. Bahwa kamu sebaiknya tidak besar kepala dan ikut2an rasis sama pendatang."
Well saya paham..bahwa tidak semua pengungsi/pencari suaka itu baik. Ada yang kemudian jadi mafia trafficking, copet, dll. Ada orang-orang yang datang ke Eropa dengan tujuan hanya untuk menikmati uang jaminan sosial tapi ga mau kerja dan bayar pajak. Tapi bukan berarti semua imigran atau pengungsi itu pasti penjahat, jorok dan pemalas kan? Kalo dilakukan generalisasi, mbak2 penulis status itu juga tentu akan masuk kategori imigran kok walaupun suaminya orang Eropa.
Kemudian ceritanya jadi agak personal. Saya sendiri belum memutuskan apakah akan pulang atau mencari peruntungan di sini setelah lulus kuliah. Tapi pilihan menetap di sini bukan segala-galanya.. Keinginan (suami) untuk menetap pun bukan karena disini semuanya serba enak dan bagus.. No..no.. Saya tetap menganggap Indonesia sebagai my ultimate home (yang mana saya yakin semua pengungsi itu juga pasti merindukan kampung halamannya). Boleh dan bebas saja kan kalo orang lain ingin tinggal di tempat lain untuk suatu masa.. Makanya saya juga kesal kalo ada yang bilang "kalo mau di sini harus ini itu dll.." It's not because here is better than there, but because if we want to stay in foreign land with foreign people far away from home, we need to prepare ourself to survive."
Buat saya, kalo harus pulang ke Indonesia juga bagus.. Dan bukan berarti saya kalah. Malah enak bisa dekat keluarga, teman, dan makanan enak ;)
Eropa memang nampak menggiurkan. Keamanan, jaminan sosial yang memadai untuk warganya, sekolah gratis, dll.
Reaksi warga Eropa beraneka ragam. Sebagian menyambut dengan alasan kemanusiaan, banyak yang sinis karena takut Islam akan menguasai Eropa, ada yang takut pengungsi akan mencuri pekerjaannya, makanin duit pajak, dll.
Saya menemukan sebagian besar facebook friends saya yang orang Jerman/Eropa, adalah orang-orang yang pro kedatangan pengungsi. "Kein Mensch ist illegal", "Refugee Welcome", adalah beberapa dari slogan kampanye mereka. Sebagian besar dari kelompok ini adalah mahasiswa dan aktifis, kelompok intelektual organik yang menyadari bahwa privilege yang mereka punya harus digunakan untuk kemaslahatan orang banyak. Kelompok yang menyadari, bahwa negara-negara mereka (Eropa) punya andil dalam menyebabkan atau memperpanjang konflik, sehingga juga harus bertanggung jawab menerima para pengungsi yang datang. Kelompok ini menyadari, bahwa kedatangan pengungsi tidak berarti memburuknya perekonomian..karena pengungsi justru bisa jadi potensi di masa depan..potensi sebagai future tax payers. Terutama di negara-negara yang penduduknya menua seperti Jerman.
Kelompok kedua adalah orang Jerman/Eropa yang agak ditengah. Biasanya mereka bilang "pengungsi dari negara konflik silakan datang..tapi pendatang dari Balkan atau Afrika atau negara yang tidak konflik, mending pulang aja." Kelompok ini lumayan lah..masih punya nilai-nilai kemanusiaan.
Kelompok ketiga, kelompok kanan ekstrem. Kelompok ini jelas pernyataannya: "Ausländer raus!" (orang asing keluar!)..haha..Kelompok ini adalah penjelmaan masa kini Nazi alias Neo Nazi.
Yang membuat saya paling heran dan sampe geleng-geleng kepala..adalah orang asing yang anti pengungsi -_-. Salah satu teman facebook saya (mbak Indonesia yg menikah dengan orang Jerman), ditag status oleh temannya yang tampaknya juga orang Indonesia yang tinggal di Perancis. Statusnya kira-kira mengatakan bahwa para pengungsi itu ancaman buat Eropa..ancaman buat Kristen di Eropa..Eropa akan menjadi mayoritas muslim, kotor dan berantakan. Kalo bisa ngomong langsung, saya mau bilang gini ke si mba yg bikin status "Bahwa orang eropa (yang rasis) menganggap semua manusia kulit berwarna sebagai ancaman..tanpa peduli agamanya. Bahwa meskipun kamu Kristen, orang Eropa juga sebenernya rasis-in kamu yang wanita Indonesia berkulit sawo matang. Bahwa kamu sebaiknya tidak besar kepala dan ikut2an rasis sama pendatang."
Well saya paham..bahwa tidak semua pengungsi/pencari suaka itu baik. Ada yang kemudian jadi mafia trafficking, copet, dll. Ada orang-orang yang datang ke Eropa dengan tujuan hanya untuk menikmati uang jaminan sosial tapi ga mau kerja dan bayar pajak. Tapi bukan berarti semua imigran atau pengungsi itu pasti penjahat, jorok dan pemalas kan? Kalo dilakukan generalisasi, mbak2 penulis status itu juga tentu akan masuk kategori imigran kok walaupun suaminya orang Eropa.
Kemudian ceritanya jadi agak personal. Saya sendiri belum memutuskan apakah akan pulang atau mencari peruntungan di sini setelah lulus kuliah. Tapi pilihan menetap di sini bukan segala-galanya.. Keinginan (suami) untuk menetap pun bukan karena disini semuanya serba enak dan bagus.. No..no.. Saya tetap menganggap Indonesia sebagai my ultimate home (yang mana saya yakin semua pengungsi itu juga pasti merindukan kampung halamannya). Boleh dan bebas saja kan kalo orang lain ingin tinggal di tempat lain untuk suatu masa.. Makanya saya juga kesal kalo ada yang bilang "kalo mau di sini harus ini itu dll.." It's not because here is better than there, but because if we want to stay in foreign land with foreign people far away from home, we need to prepare ourself to survive."
Buat saya, kalo harus pulang ke Indonesia juga bagus.. Dan bukan berarti saya kalah. Malah enak bisa dekat keluarga, teman, dan makanan enak ;)
Saturday, April 11, 2015
Subscribe to:
Posts (Atom)



