Jam 2 pagi tadi, si alif (hampir 3 tahun) terbangun dan menemukan dirinya sendirian di kamar. Terdengar teriakan dan rengekan.
Alif : merengek-rengek, lalu bilang: "hee..ibu panggil!" (maksud: alif manggil ibu)
Lalu turun dan lari ke ruang tengah sambil bilang: "Alifnya ketinggalan di kamar"
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Monday, November 16, 2015
Friday, November 6, 2015
Belajar bahasa Belanda?
Semester tiga ini, akhirnya saya ngambil kursus bahasa belanda di Sprachenzentrum. Kenapa? Yang pasti sih bukan karena merasa bahasa jerman saya udah jago..haha
Alasan pertamanya sih karena bulan agustus lalu saya bertemu dengan mba yang kerja di KITLV Leiden, yang ngasih tau bahwa banyak project KITLV yang membutuhkan peneliti Indonesia berbahasa belanda, untuk meneliti dokumen-dokumen lama yang terkait pendudukan Belanda di Indonesia. Kebetulan kursus di kampus harganya murah sekali..40 Euro untuk satu semester.
Alasan lainnya, saya banyak bertemu orang asing (Jerman, Belanda, Perancis, dll) yang bisa fasih berbahasa Indonesia. Terutama orang Belanda, di negara sekecil itu yang meskipun kecil namun bisa menguasai kepulauan nusantara jaman dulu, banyak sekali orang yang bisa berbahasa Indonesia, atau minimal paham sejarah, kebiasaan, dan paham bagaimana cara memanfaatkan Indonesia (!). Inget sejarah penaklukan Aceh oleh Belanda kan? atau penaklukan-penaklukan lainnya.. Semuanya karena antropolog2 Belanda saat itu sangat serius meneliti dan berusaha memahami Indonesia. Hal ini yang kemudian membuat keinginan saya belajar bahasa belanda menguat.
Kenapa sedikit sekali orang Indonesia yang bisa bahasa belanda? Jelas penyebab utamanya adalah kebijakan nasionalisme Sukarno, yang melarang pengajaran Bahasa Belanda segera setelah Indonesia merdeka. Padahal menurut saya, sangat penting memahami bahasa si mantan penjajah ini. Terutama untuk lebih memahami cara berpikir mereka. Alasan-alasan kenapa dulu mereka menjajah, penyebab di balik tindakan-tindakan yang dulu mereka lakukan di kepulauan nusantara, dan lain-lain. Jelas waktu tak akan bisa berulang. Tapi dengan memahami bahasa belanda, saya, sebagai orang dari kepulauan nusantara merasa mempunyai kedudukan yang setara dengan mereka. Bukan hanya sebagai objek penelitian atau objek penjajahan, tapi sebagai bangsa yang setara dengan mereka yang juga memahami tindak tanduk dan bahasa mereka.
Meskipun sih..kadang niat kuat pun tinggal niat. Keinginan berhenti belajar kadang menguat juga..apalagi kalo inget si mevrouw guru saya yang..duuh aduh banget dah. Kemaren, saya udah berniat untuk berhenti..untung diingatkan sama bapake bahwa saya sudah bayar kursusnya dan beli bukunya -_-
Yah..semoga sih masih bisa bertahan sampe akhir Januari nanti.
Alasan pertamanya sih karena bulan agustus lalu saya bertemu dengan mba yang kerja di KITLV Leiden, yang ngasih tau bahwa banyak project KITLV yang membutuhkan peneliti Indonesia berbahasa belanda, untuk meneliti dokumen-dokumen lama yang terkait pendudukan Belanda di Indonesia. Kebetulan kursus di kampus harganya murah sekali..40 Euro untuk satu semester.
Alasan lainnya, saya banyak bertemu orang asing (Jerman, Belanda, Perancis, dll) yang bisa fasih berbahasa Indonesia. Terutama orang Belanda, di negara sekecil itu yang meskipun kecil namun bisa menguasai kepulauan nusantara jaman dulu, banyak sekali orang yang bisa berbahasa Indonesia, atau minimal paham sejarah, kebiasaan, dan paham bagaimana cara memanfaatkan Indonesia (!). Inget sejarah penaklukan Aceh oleh Belanda kan? atau penaklukan-penaklukan lainnya.. Semuanya karena antropolog2 Belanda saat itu sangat serius meneliti dan berusaha memahami Indonesia. Hal ini yang kemudian membuat keinginan saya belajar bahasa belanda menguat.
Kenapa sedikit sekali orang Indonesia yang bisa bahasa belanda? Jelas penyebab utamanya adalah kebijakan nasionalisme Sukarno, yang melarang pengajaran Bahasa Belanda segera setelah Indonesia merdeka. Padahal menurut saya, sangat penting memahami bahasa si mantan penjajah ini. Terutama untuk lebih memahami cara berpikir mereka. Alasan-alasan kenapa dulu mereka menjajah, penyebab di balik tindakan-tindakan yang dulu mereka lakukan di kepulauan nusantara, dan lain-lain. Jelas waktu tak akan bisa berulang. Tapi dengan memahami bahasa belanda, saya, sebagai orang dari kepulauan nusantara merasa mempunyai kedudukan yang setara dengan mereka. Bukan hanya sebagai objek penelitian atau objek penjajahan, tapi sebagai bangsa yang setara dengan mereka yang juga memahami tindak tanduk dan bahasa mereka.
Meskipun sih..kadang niat kuat pun tinggal niat. Keinginan berhenti belajar kadang menguat juga..apalagi kalo inget si mevrouw guru saya yang..duuh aduh banget dah. Kemaren, saya udah berniat untuk berhenti..untung diingatkan sama bapake bahwa saya sudah bayar kursusnya dan beli bukunya -_-
Yah..semoga sih masih bisa bertahan sampe akhir Januari nanti.
Saturday, October 3, 2015
Mendadak Curhat #1
Untuk kesekian kalinya, saya merasa bebal banget sama orang, terutama orang yang tidak tahu (tidak membaca) banyak tentang suatu tema, bahkan tidak mengklarifikasi terlebih dulu gosipnya, terus asal share. Terlebih lagi jika orang-orang yang asal share itu adalah orang-orang yang seharusnya lebih bijak karena posisi mereka mungkin sebagai pendidik, pengajar, dll. Padahal perintah membaca adalah kalimat pertama Al-Qur'an yang diturunkan.
Lalu, apa artinya khatam Qur'an puluhan atau bahkan ratusan kali jika ayat pertama saja tidak diamalkan bro? Atau sama saja, yang penting politik nomor 1, agama yang diyakini mah kumaha engke? Atau anda melakukan itu (mungkin) demi dakwah penegakan agama? Come on..
Seriusan deh..untuk orang-orang dengan tipe seperti di atas, "bacalah..bacalah..bacalah" dan tolong juga baca campaign strategy kek communication strategy kek or whatever lah apa kek..biar dakwah kalian ga bikin males orang. Saya mah cuma tukang ribut koar-koar yang pake jilbabnya pun tidak syar´i, lulusan universitas yang medioker pula.
Tapi kebenaran tentu hanya milik Allah. Siapa sih kita sampe berhak untuk ngejudge orang lain?
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1)
“(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan."
Lalu, apa artinya khatam Qur'an puluhan atau bahkan ratusan kali jika ayat pertama saja tidak diamalkan bro? Atau sama saja, yang penting politik nomor 1, agama yang diyakini mah kumaha engke? Atau anda melakukan itu (mungkin) demi dakwah penegakan agama? Come on..
Seriusan deh..untuk orang-orang dengan tipe seperti di atas, "bacalah..bacalah..bacalah" dan tolong juga baca campaign strategy kek communication strategy kek or whatever lah apa kek..biar dakwah kalian ga bikin males orang. Saya mah cuma tukang ribut koar-koar yang pake jilbabnya pun tidak syar´i, lulusan universitas yang medioker pula.
Tapi kebenaran tentu hanya milik Allah. Siapa sih kita sampe berhak untuk ngejudge orang lain?
Thursday, September 10, 2015
Far away from home
Bukan..ini bukan cerita lain dari ke-home-sick-an saya. Ini tentang apa yang saat ini terjadi di dunia, khususnya di Eropa, yaitu krisis pengungsi atau enggresnya refugee crisis. Saat ini gelombang pengungsi dari negara yang dilanda konflik seperti Syria dan Afganistan meningkat tajam. Wajar aja sih..siapa yang tahan tinggal di tempat yang setiap hari perang, ada bom, atau terancam dengan kematian setiap saat. Belum lagi para pengungsi ekonomi dari balkan, afrika, dll.
Eropa memang nampak menggiurkan. Keamanan, jaminan sosial yang memadai untuk warganya, sekolah gratis, dll.
Reaksi warga Eropa beraneka ragam. Sebagian menyambut dengan alasan kemanusiaan, banyak yang sinis karena takut Islam akan menguasai Eropa, ada yang takut pengungsi akan mencuri pekerjaannya, makanin duit pajak, dll.
Saya menemukan sebagian besar facebook friends saya yang orang Jerman/Eropa, adalah orang-orang yang pro kedatangan pengungsi. "Kein Mensch ist illegal", "Refugee Welcome", adalah beberapa dari slogan kampanye mereka. Sebagian besar dari kelompok ini adalah mahasiswa dan aktifis, kelompok intelektual organik yang menyadari bahwa privilege yang mereka punya harus digunakan untuk kemaslahatan orang banyak. Kelompok yang menyadari, bahwa negara-negara mereka (Eropa) punya andil dalam menyebabkan atau memperpanjang konflik, sehingga juga harus bertanggung jawab menerima para pengungsi yang datang. Kelompok ini menyadari, bahwa kedatangan pengungsi tidak berarti memburuknya perekonomian..karena pengungsi justru bisa jadi potensi di masa depan..potensi sebagai future tax payers. Terutama di negara-negara yang penduduknya menua seperti Jerman.
Kelompok kedua adalah orang Jerman/Eropa yang agak ditengah. Biasanya mereka bilang "pengungsi dari negara konflik silakan datang..tapi pendatang dari Balkan atau Afrika atau negara yang tidak konflik, mending pulang aja." Kelompok ini lumayan lah..masih punya nilai-nilai kemanusiaan.
Kelompok ketiga, kelompok kanan ekstrem. Kelompok ini jelas pernyataannya: "Ausländer raus!" (orang asing keluar!)..haha..Kelompok ini adalah penjelmaan masa kini Nazi alias Neo Nazi.
Yang membuat saya paling heran dan sampe geleng-geleng kepala..adalah orang asing yang anti pengungsi -_-. Salah satu teman facebook saya (mbak Indonesia yg menikah dengan orang Jerman), ditag status oleh temannya yang tampaknya juga orang Indonesia yang tinggal di Perancis. Statusnya kira-kira mengatakan bahwa para pengungsi itu ancaman buat Eropa..ancaman buat Kristen di Eropa..Eropa akan menjadi mayoritas muslim, kotor dan berantakan. Kalo bisa ngomong langsung, saya mau bilang gini ke si mba yg bikin status "Bahwa orang eropa (yang rasis) menganggap semua manusia kulit berwarna sebagai ancaman..tanpa peduli agamanya. Bahwa meskipun kamu Kristen, orang Eropa juga sebenernya rasis-in kamu yang wanita Indonesia berkulit sawo matang. Bahwa kamu sebaiknya tidak besar kepala dan ikut2an rasis sama pendatang."
Well saya paham..bahwa tidak semua pengungsi/pencari suaka itu baik. Ada yang kemudian jadi mafia trafficking, copet, dll. Ada orang-orang yang datang ke Eropa dengan tujuan hanya untuk menikmati uang jaminan sosial tapi ga mau kerja dan bayar pajak. Tapi bukan berarti semua imigran atau pengungsi itu pasti penjahat, jorok dan pemalas kan? Kalo dilakukan generalisasi, mbak2 penulis status itu juga tentu akan masuk kategori imigran kok walaupun suaminya orang Eropa.
Kemudian ceritanya jadi agak personal. Saya sendiri belum memutuskan apakah akan pulang atau mencari peruntungan di sini setelah lulus kuliah. Tapi pilihan menetap di sini bukan segala-galanya.. Keinginan (suami) untuk menetap pun bukan karena disini semuanya serba enak dan bagus.. No..no.. Saya tetap menganggap Indonesia sebagai my ultimate home (yang mana saya yakin semua pengungsi itu juga pasti merindukan kampung halamannya). Boleh dan bebas saja kan kalo orang lain ingin tinggal di tempat lain untuk suatu masa.. Makanya saya juga kesal kalo ada yang bilang "kalo mau di sini harus ini itu dll.." It's not because here is better than there, but because if we want to stay in foreign land with foreign people far away from home, we need to prepare ourself to survive."
Buat saya, kalo harus pulang ke Indonesia juga bagus.. Dan bukan berarti saya kalah. Malah enak bisa dekat keluarga, teman, dan makanan enak ;)
Eropa memang nampak menggiurkan. Keamanan, jaminan sosial yang memadai untuk warganya, sekolah gratis, dll.
Reaksi warga Eropa beraneka ragam. Sebagian menyambut dengan alasan kemanusiaan, banyak yang sinis karena takut Islam akan menguasai Eropa, ada yang takut pengungsi akan mencuri pekerjaannya, makanin duit pajak, dll.
Saya menemukan sebagian besar facebook friends saya yang orang Jerman/Eropa, adalah orang-orang yang pro kedatangan pengungsi. "Kein Mensch ist illegal", "Refugee Welcome", adalah beberapa dari slogan kampanye mereka. Sebagian besar dari kelompok ini adalah mahasiswa dan aktifis, kelompok intelektual organik yang menyadari bahwa privilege yang mereka punya harus digunakan untuk kemaslahatan orang banyak. Kelompok yang menyadari, bahwa negara-negara mereka (Eropa) punya andil dalam menyebabkan atau memperpanjang konflik, sehingga juga harus bertanggung jawab menerima para pengungsi yang datang. Kelompok ini menyadari, bahwa kedatangan pengungsi tidak berarti memburuknya perekonomian..karena pengungsi justru bisa jadi potensi di masa depan..potensi sebagai future tax payers. Terutama di negara-negara yang penduduknya menua seperti Jerman.
Kelompok kedua adalah orang Jerman/Eropa yang agak ditengah. Biasanya mereka bilang "pengungsi dari negara konflik silakan datang..tapi pendatang dari Balkan atau Afrika atau negara yang tidak konflik, mending pulang aja." Kelompok ini lumayan lah..masih punya nilai-nilai kemanusiaan.
Kelompok ketiga, kelompok kanan ekstrem. Kelompok ini jelas pernyataannya: "Ausländer raus!" (orang asing keluar!)..haha..Kelompok ini adalah penjelmaan masa kini Nazi alias Neo Nazi.
Yang membuat saya paling heran dan sampe geleng-geleng kepala..adalah orang asing yang anti pengungsi -_-. Salah satu teman facebook saya (mbak Indonesia yg menikah dengan orang Jerman), ditag status oleh temannya yang tampaknya juga orang Indonesia yang tinggal di Perancis. Statusnya kira-kira mengatakan bahwa para pengungsi itu ancaman buat Eropa..ancaman buat Kristen di Eropa..Eropa akan menjadi mayoritas muslim, kotor dan berantakan. Kalo bisa ngomong langsung, saya mau bilang gini ke si mba yg bikin status "Bahwa orang eropa (yang rasis) menganggap semua manusia kulit berwarna sebagai ancaman..tanpa peduli agamanya. Bahwa meskipun kamu Kristen, orang Eropa juga sebenernya rasis-in kamu yang wanita Indonesia berkulit sawo matang. Bahwa kamu sebaiknya tidak besar kepala dan ikut2an rasis sama pendatang."
Well saya paham..bahwa tidak semua pengungsi/pencari suaka itu baik. Ada yang kemudian jadi mafia trafficking, copet, dll. Ada orang-orang yang datang ke Eropa dengan tujuan hanya untuk menikmati uang jaminan sosial tapi ga mau kerja dan bayar pajak. Tapi bukan berarti semua imigran atau pengungsi itu pasti penjahat, jorok dan pemalas kan? Kalo dilakukan generalisasi, mbak2 penulis status itu juga tentu akan masuk kategori imigran kok walaupun suaminya orang Eropa.
Kemudian ceritanya jadi agak personal. Saya sendiri belum memutuskan apakah akan pulang atau mencari peruntungan di sini setelah lulus kuliah. Tapi pilihan menetap di sini bukan segala-galanya.. Keinginan (suami) untuk menetap pun bukan karena disini semuanya serba enak dan bagus.. No..no.. Saya tetap menganggap Indonesia sebagai my ultimate home (yang mana saya yakin semua pengungsi itu juga pasti merindukan kampung halamannya). Boleh dan bebas saja kan kalo orang lain ingin tinggal di tempat lain untuk suatu masa.. Makanya saya juga kesal kalo ada yang bilang "kalo mau di sini harus ini itu dll.." It's not because here is better than there, but because if we want to stay in foreign land with foreign people far away from home, we need to prepare ourself to survive."
Buat saya, kalo harus pulang ke Indonesia juga bagus.. Dan bukan berarti saya kalah. Malah enak bisa dekat keluarga, teman, dan makanan enak ;)
Saturday, April 11, 2015
Thursday, March 19, 2015
Playing with pompoms
Sudah lama pengen mainan pompom..tapi baru sempet kemaren. Sebenernya ada niatan buat bikin pompom sendiri..tapi apadaya..ga sempet ;p Beli aja deh akhirnya..untung murah. Alat dan bahan: gulungan tisu yang sudah habis, selotip, dan pompom.
Ide permainannya dapet dari pinterest. Intinya sih, si bocah masuk-masukkin pompom ke "pipa" bekas gulungan tisu yang ditempel ke dinding (kalo saya, tempel ke lemari). Si pompom bakal ngagorolong lewat "pipa" tadi. Si Alif seneng banget ngeliat pompom meluncur cepat di "pipa" dan jatuh ke lantai. Dia semangat mungutin si pompom dan masukkin lagi berulang-ulang.
Awalnya, saya cuma nempel satu "pipa", karena si alif udah ga sabaran pengen maen. Pas ada waktu, saya tempel satu lagi bekas gulungan tisu toilet (lebih pendek dari tisu dapur), jadi seolah-olah pipanya belok-belok.
Lumayan bikin anaknya sibuk beberapa saat :D Tantangan buat saya karena bocahnya ga sabaran banget dan beberapa kali tempelan "pipa" copot karena bocah terlalu semangat masukkin pompom sekaligus banyak -_-. Tapi si alif belajar juga..bahwa kalo pompom kebesaran atau kebanyakan yang dimasukkin, ya mampet. Dia kayaknya berusaha memahami konsep "mampet" itu. Kalo pas mampet, beberapa kali dia nengok ke dalam "pipa"..haha. Ga apa-apa deh..namanya juga belajar :D
Ide permainannya dapet dari pinterest. Intinya sih, si bocah masuk-masukkin pompom ke "pipa" bekas gulungan tisu yang ditempel ke dinding (kalo saya, tempel ke lemari). Si pompom bakal ngagorolong lewat "pipa" tadi. Si Alif seneng banget ngeliat pompom meluncur cepat di "pipa" dan jatuh ke lantai. Dia semangat mungutin si pompom dan masukkin lagi berulang-ulang.
Awalnya, saya cuma nempel satu "pipa", karena si alif udah ga sabaran pengen maen. Pas ada waktu, saya tempel satu lagi bekas gulungan tisu toilet (lebih pendek dari tisu dapur), jadi seolah-olah pipanya belok-belok.
Lumayan bikin anaknya sibuk beberapa saat :D Tantangan buat saya karena bocahnya ga sabaran banget dan beberapa kali tempelan "pipa" copot karena bocah terlalu semangat masukkin pompom sekaligus banyak -_-. Tapi si alif belajar juga..bahwa kalo pompom kebesaran atau kebanyakan yang dimasukkin, ya mampet. Dia kayaknya berusaha memahami konsep "mampet" itu. Kalo pas mampet, beberapa kali dia nengok ke dalam "pipa"..haha. Ga apa-apa deh..namanya juga belajar :D
Monday, March 9, 2015
Mencoba
Tugas kita bukanlah untuk berhasil, tugas kita adalah untuk mencoba...Karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil....
-Tan Malaka- Masa Aksi 1926*
*dikutip dari status kawan Eka
-Tan Malaka- Masa Aksi 1926*
*dikutip dari status kawan Eka
Subscribe to:
Posts (Atom)
