Showing posts with label traveling. Show all posts
Showing posts with label traveling. Show all posts

Saturday, June 21, 2014

Allwetterzoo Münster

Suatu hari waktu di kereta saya ga sengaja baca bahwa tanggal 2 Mei adalah hari ulang tahun Kebun Binatang  Münster (Allwetterzoo Münster) yang ke 40. Hari itu, harga tiket masuk ke kebun binatang yang tadinya 16,90 Euro per orang, jadi cuma 3 Euro, sesuai dengan harga tiket masuk 40 tahun yang lalu!


Meskipun hari itu hari Jumat (bukan weekend) dan luar biasa dingin, saya, @alifdipantara dan bapake bertekad kuat untuk tetap ke kebun binatang. Sepulang saya kursus, jam 2 siangan kami meluncur naik bus ke arah kebun binatang. Kebun binatang ini bisa dicapai dengan naik bus No. 14 dari Hauptbahnhof (stasiun). Saya pikir ga bakal terlalu rame karena masih hari kerja..ternyata..tentu saja salah, mengingat orang Jerman juga sangat suka gratisan/diskonan. Bis jurusan "Zoo" ini lumayan penuh dengan ibu-ibu dan anak-anak seumuran TK/SD. Plus bayi-bayi berstroller semacem si Alipo. Terlihat juga beberapa orang kakek-nenek yang ingin bernostalgia di kebun binatang.

Jadi kebun binatang Münster ini diresmikan sebagai kebun binatang umum pertama kali tanggal 2 Mei 1974, dengan luas sekitar 30 Hektar. Terdapat sekitar 306 spesies binatang, dengan total keseluruhan binatang mencapai 300-an ekor, mulai dari binatang yang hidup di Kutub, yang hidup di safari Afrika, hingga kawan saya sebangsa setanah air, si Orangutan dari Kalimantan.

Untuk binatang-binatang dari negara tropis dan berbagai jenis spesies burung, ditempatkan di dalam ruangan-ruangan khusus yang hangat. Sedangkan binatang-binatang yang lebih tahan dingin tentu saja ditempatkan di luar.

Beruang kutub, cuaca dingin ga masalah buat dia pastinya :D
Karena bagian indoornya yang juga cukup luas, kebun binatang ini tetap bisa dikunjungi di musim dingin. Karena itu juga namanya "Allwetterzoo" yang berarti, kebun binatang yang bisa dikunjungi sepanjang tahun, di musim apapun. Beberapa bagian di kebun binatang ini di antaranya: Biocity, Robbenhaven (tempat pertunjukkan Lumba-lumba), dan Pferdemuseum (museum Kuda). Kebun binatang ini juga menyediakan program khusus untuk anak-anak, yang tentunya si Alipo mah belum bisa ikutan.

Di Jerman sini, harga tiket masuk kebun binatang termasuk kategori mahal. Soalnya uang tiket itu benar-benar digunakan untuk perawatan binatang-binatang serta fasilitas yang nyaman buat pengunjung. Meskipun tiket masuk sudah lumayan mahal, kebun binatang juga memiliki beberapa sponsor yang biasanya berasal dari perusahaan atau bank, atau bahkan perorangan. Kasus-kasus binatang kurus kurang makan atau mati benar-benar ga akan terjadi di sini. Kebun binatang di Jerman biasanya menawarkan juga tiket abonemen tahunan buat para pencinta binatang. Mereka bisa berkunjung sesering mungkin dengan harga lebih murah.


Si Alipo sendiri paling seneng pas lihat gajah, karena selama ini dia cuma lihat gajah lewat buku. Dia juga udah mulai bisa nyebutin nama-nama binatang: gajah..japah (jerapah), uda (kuda), ikang (ikan), bu'ung (burung), dll. Ketika lihat Orangutan, tak lupa saya sebutkan bahwa binatang ini asalnya sama dengan kami, dari sebuah negara kepulauan yang ribuan kilometer jauhnya dari Münster.

Si Orangutan
Kami habiskan hampir 3 jam untuk ngiterin kebun binatang. Sebenernya sih pengen lebih lama..sayangnya sore itu cuaca makin dingin. Sudah pasti saya akan balik lagi kesini, mungkin nunggu si Alipo agak gede dikit..biar dia bisa belajar lebih banyak di sini. Kalo saya sih bukan termasuk penggila binatang, tapi juga ngga benci. Biasa-biasa aja. Tapi demi anaknya belajar, tak apalah saya sering2in ke bonbin *asal pas lagi diskon tentunya* :D

Saturday, May 3, 2014

Wisata Murah di Godong Ijo

Jadi, lokasi rumah kami di Depok sangat mepet Bogor. Wilayahnya masih tampak ijo-ijo dan banyak sawah *alias masih kampuang*. Selain itu, beberapa lokasi wisata edukasi lingkungan banyak tersedia dan dapat dicapai dalam waktu 15-30 menit saja. Beberapa di antaranya adalah Pertanian Organik Parung Farm dan Godong Ijo. tentang Parung Farm, udah pernah dibahas di sini. Nah, sekarang lagi pengen bahas tentang Godong Ijo.

Godong Ijo berlokasi di Jalan Raya Cinangka, Kota Depok. Jika menggunakan angkot dari Lebak Bulus bisa naik angkot 106 jurusan Lebak Bulus-Parung, dengan ongkos sekitar Rp. 6.000. Jika dari Depok, bisa menggunakan angkot 03 jurusan terminal Depok-Parung dan turun di pertigaan Bojongsari. Dari pertigaan Bojongsari, nyebrang dan ganti angkot 106 yang menuju Lebak Bulus, sekitar 10 menit. Jika menggunakan kendaraan pribadi, dari Lebak Bulus bisa lewat Ciputat atau Pondok Cabe. Dari pertigaan Gaplek lurus terus menuju arah Parung. Setelah pertigaan Wates, bersiap-siaplah mengawasi sebelah kanan jalan. Lokasi Godong Ijo tidak jauh dari pertigaan Wates (pertigaan yang ada pom bensin dan berbagai jenis toko).

Taman di Godong Ijo
Godong Ijo sebetulnya merupakan lokasi pembibitan dan pengembangan tanaman. Namun selain itu, Godong Ijo juga menyediakan edukasi tentang lingkungan, tanaman, binatang, dll untuk anak-anak. Di Godong Ijo terdapat green house, kolam ikan, demplot (demonstration plot) yang terdiri berbagai jenis tanaman seperti buah naga, kakao, dll, kandang iguana, kura-kura raksasa, dan taman vertikal yang katanya adalah taman vertikal pertama yang ada di Indonesia. Banyak juga taman kanak-kanak atau SD yang menjadikan Godong Ijo sebagai tujuan wisata edukasi untuk para siswanya.

Green house berisi berbagai jenis tanaman. Memiliki timer sendiri untuk penyiraman. Jangan kaget kalo ujug-ujug ada air nyembur!
Di Godong Ijo juga terdapat kolam pemancingan ikan, lengkap dengan tempat duduk-duduk untuk makan dan mancing di pinggirnya. Jika lapar, pengunjung bisa memesan makanan dari Botanical Cafe yang disediakan oleh Godong Ijo. 

Kolam ikan di depan Botanical Cafe
Masuk ke Godong Ijo sendiri GRATIS loh. Kita hanya harus membayar jika akan memancing dan tentunya jika memesan makanan dari Botanical Cafe. Untuk memancing, kita harus membayar Rp. 100.000. Sedangkan untuk harga makanan di Botanical Cafe, antara Rp 20.000-80.000. Pengunjung tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar. Pengecualian hanya untuk anak-anak batita yang makanannya masih spesifik.

Bagong, si Kura-kura, berasal dari Seychelles, Afrika
Godong Ijo ini sangat cocok sebagai alternatif wisata edukasi untuk anak-anak mulai usia 3 tahun. Saya berkunjung kesana dua kali, yang pertama hanya dengan Alif dan ayahnya, yang kedua dengan ibu dan kakak, dan ponakan-ponakan yang saat itu berusia 3,5 tahun. Alif sendiri waktu diajak kesana belum terlalu paham, karena saat itu dia baru 9 bulan -_-. Sementara dua keponakan Saya, sangat girang melihat ikan koi besar, kura-kura raksasa, iguana, dan lain-lain. Meskipun tidak terlalu luas, tapi anak-anak bisa belajar banyak hal dengan cara yang menyenangkan di sana!

Si Iguana yang kesepian


Alamat Godong Ijo

Jl. Cinangka Raya KM 10 No. 60 Serua
Bojongsari – Depok
Jawa Barat 16517 – Indonesia
Telp: 021 – 74710678
Fax : 021 – 741-3334
E-mail: indo@godongijo.com
www.godongijo.com

Monday, September 9, 2013

Berkunjung ke Parung Farm




Setelah hari Sabtunya Ayahnya Alif sempet harus ke kantor karena (katanya) ada janji penting, hari Minggu kemarin adalah wiken yang sebenar-benarnya bagi Kami. Setelah Alif beres 1st breakfast (bubur tajin) dan 2nd breakfast (makan berat biasa), jam 9 pagi kami bersiap berangkat ke tempat yang sudah lama ingin kami kunjungi yaitu: Parung Farm. Sebelum berangkat, kami gugling dulu nyari alamat dan ancer-ancernya Parung Farm. Pokoknya alamatnya di Parung 546 katanya. Dari hasil gugling disebutkan bahwa kunjungan sebaiknya dilakukan hari Senin-Sabtu, kalo hari Minggu ga ada petugas yang bisa jelasin katanya. Ah..biarlah..toh deket dari rumah..kami bisa ke sana lagi kapan-kapan.

Sejak melihat brand “Parung Farm” di bungkus sayuran organik yang dipasarkan di beberapa supermarket, kami sudah tertarik untuk mengunjunginya karena tempatnya pastilah ga jauh dari rumah kami yang masuk wilayah Depok tapi udah mepet Bogor :p. Tadinya niat saya sih ingin beli sayuran organik dengan harga miring, siapa tau di Parung Farm ada sayuran-sayuran reject yang ga lolos quality control untuk masuk supermarket :D  

Jam 9 pagi kami sudah berangkat dari rumah berbekal cooler bag yang diubah fungsi jadi diaper bag. Isinya cuma 1 cloth diapernya Alif, beberapa insertnya, satu kaos ganti, dan tisu basah. Bahkan kami ga bawa minum atau cemilan buat si bocah *emaknya lupa*. Yasudahlah ya..kalo haus atau laper bisa beli air putih botol dan biskuit di jalan. Alif yang sudah berpakaian lengkap (jaket,kaos kaki, topi) saya gendong pake carrier. Awal-awal baru jalan, dia masih bersuara “awawawaaaaaaaaaa…….”, tapi ga sampe lima menit udah tidur pules :D. Bahkan ketika lewatin Pasar Parung yang panas dan super macet pun, Alif tetep anteng tidur. 

Setelah lewatin Pasar Parung, Saya mulai siaga ngawasin sebelah kiri jalan. Dan ternyata..ga jauh dari Pasar Parung, terlihat ada plang “ Parung 546”. 


 Taraa..here we goo..ready to explore Parung Farm. Begitu masuk, parkirannya tampak luas dan hijau..dikelilingi pohon-pohon rindang. Setelah parkir motor, kami sempat bertanya ke bagian packing sayuran apakah bisa jika kami ingin beli sayuran disitu. Setelah dapet jawaban positif, kami langsung jalan menuju kebun sayur terdekat.    
 
Jadi si Parung Farm adalah areal pertanian hidroponik dan aeroponik organik seluas 4,5 hektar yang telah menghasilkan berbagai jenis tanaman, mulai dari sayur-sayuran (bayam, kangkung, sawi, sawi putih, tomat, wortel, dll), buah-buahan, bunga hias, hingga anggrek dan tanaman-tanaman lainnya. Kebun sayur yang pertama kali kami tuju ternyata adalah lahan persemaian sayur. Media tanam untuk persemaian ini adalah: kerikil. Yess.. kerikil. Menurut Ayah Alif sih, kerikil lebih memudahkan persemaian karena tanaman yang ditanem disitu lebih mudah dicabut dan akarnya ga rusak. *Ini hasil kira-kiranya dia aja seh* :p

lahan persemaian dengan media tanam kerikil


Dari lahan persemaian kami menuju ke rumah kaca yang didalamnya banyak ditanami sayuran-sayuran mulai dari yang masih piyik, hingga siap panen. Ga beneran terbuat dari kaca sih, tapi rumah ini rangkanya terbuat dari bambu dan ditutup seluruhnya sama bahan sejenis plastik. Media tanam yang digunakan di rumah kaca ini yaitu udara (aeroponik) yang diwujudkan dalam bentuk Styrofoam alias gabus.

media tanam gabus

Sayur-sayurannya ada sawi dan kangkung. Rumah kacanya ga serapi dan bersih seperti yang saya lihat di Korea dulu, yang ini agak berantakan dan banyak sampah. Di salah satu tiang bambu ditempel termometer untuk ngukur suhu di dalam rumah kaca itu. Disitu ada satu orang mas-mas yang lagi manen kangkung..mau ditanya-tanya takut ganggu deh..


numpang nampang :D


Dari rumah kaca aeroponik, kami jalan ke arah padang rumput dan tanaman buah-buahan. Disitu lebih tertata rapi. Ada rumah-rumah panggung dari kayu, semacem gazebo tempat belajar, jalan setapak ditengah padang rumput yang diapit pohon-pohon dan bunga-bunga. 



Di samping salah satu rumah panggung, kami melihat ada pipa-pipa yang dialiri air dan diujung pipa-pipa tersebut ditaro pot yang ditanami macem-macem: ada oyong, cabe, tomat, seledri, sampe daun binahong. Ini keren banget deh..sayangnya kami ga bisa nanya-nanya lebih jauh soal benda ini karena ga ada orang/petugas situ yang bisa ditanyain. Setelah puas moto-motoin pipa itu, kami beranjak ke tempat lain. 

Oyong bergelantungan di antara pipa sebagai media tanamnya

Ketika menyusuri jalan setapaknya, kami menemukan semacem gerbang tanaman, rangka kawat yang dibentuk pintu dan ditanami tanaman rambat...menambah kesan asri jalan setapak itu. 






Perjalanan dilanjutkan dan ternyata..dekat situ ada kebun anggrek. Lovely! Ini adalah kebun anggrek kedua yang pernah saya datangi. Yang pertama Saya kunjungi pada tahun 2009 di Pulau Samosir, Danau Toba. Anggreknya bagus-bagus, tapi ya waktu itu ga kepikiran beli. Secara ga punya duit dan belum tau mau naro anggrek di mana :D Nah kali in saya sedikit excited soalnya sekarang ada sepetak kecil (keciiil..banget) halaman depan rumah yang bisa dibikin berantakan dengan berbagai koleksi kami..hehe Oh ya by the way, sejak masuk Parung Farm, si Alif masih tidur pules banget di gendongan..padahal udah saya ajak menjelajah kesana kemari berpanas-panas -_-



Back to the orchid garden, disitu ada macem-macem anggrek berjejer. Sebagian besar sih belum berbunga. Yang udah berbunga terlihat cantik-cantik..ada yang warna merah, kuning, ungu dan putih. Kata mas-mas yang ada disitu, jenis anggreknya pun macem-macem..ada anggrek bulan, dll *saya lupa karena emang ga terlalu tau jenis anggrek* :D 



Waktu saya sibuk liatin anggrek, Ayahnya Alif lihat-lihat ke bagian belakang rumah anggrek. Ternyata di sana ga hanya ada anggrek. Ada juga bibit buah-buahan, cabe, dan lain-lain. Kemudian Ayah tertarik sama satu taneman yang kata masnya disebut cabe hitam. Dilihat buahnya sih mirip cabe, pendek buntet warna hitam. Katanya kalo udah agak tua warnanya jadi merah. Ayahnya terlihat antusias dan pengen bawa pulang si cabe hitam. Meskipun kemudian dia baru sadar bahwa duit cash kami habis dan harus ke ATM dulu..eng ing eng.. Jadilah saya dan Alif (yang masih konsisten pules tidur di gendongan) ditinggal dulu ke ATM. 

Si Cabe Hitam

Sambil nunggu saya duduk-duduk di gazeebonya. Setelah bosen duduk-duduk, saya pun kembali ke kebun anggrek buat moto-moto. Setelah Ayah Alif dateng, kami balik ke kebun anggrek dan pilih-pilih apa yang mau dibawa pulang. Hasilnya, Saya dapet 1 buah anggrek (Rp. 20.000) buat ditempel di pohon palem depan rumah. Sementara si ayah dapet 1 pohon cabe hitam (Rp. 20.000) dan 1 pohon cabe rawit hijau biasa (Rp. 5.000). 

Sebelum pulang, kami mampir bagian packing buat beli sayur. Emm..gatau deh lebih murah daripada di supermarket apa ngga..sebungkus bayam, kangkung, dan sawi, masing-masing Rp. 9.500. Yang pasti sih, emang lebih seger. 



Kami sempatkan juga metik bunga kemangi kering buat diambil bijinya dan ditanem depan rumah..hehe..biar kalo mau bikin pepes ga usah beli kemangi :D Saya sempat lihat tumpukan sayuran dimasukkin ke gerobak..hmm..mungkin itulah yang disebut sayur reject. Ketika nanya masnya itu mau diapain, ternyata buat pakan ikan! Puuh..padahal keliatannya ga terlalu jelek loh..sayang banget ga dijual :( *mental pemulung..hoho*
 
Sekitar jam 12-an, kami menuju Pasar Parung untuk makan bakso Titoti..kunjungan boleh ke pertanian organik, makanannya tetep bakso berlemak ya..hehehe.. Secara keseluruhan, Parung Farm ini recommended banget buat dijadikan alternatif kunjungan keluarga, terutama buat dikunjungi anak-anak usia sekolah. Anak-anak bisa melihat langsung di mana dan bagaimana sayuran diproduksi, serta untuk mengajari mereka agar lebih menghargai lingkungan. Biaya masuknya pun gratis..tis.. Kami sepakat untuk menjadikan kunjungan ke Parung Farm sebagai rutinitas wiken, sekalian belajar pertanian organik demi suatu saat nanti punya kebun organik sendiri *Amiiiin* :)


      




Tuesday, September 18, 2012

Surakarta

Toko batik Mutiara Timur, batiknya cantik2 dan murah :D

Salah satu toko di Kampung Batik Kauman
Pemandangan pagi kota Surakarta dari kamar hotel
Pemandangan jalan di Kampung Batik Kauman

Serabi Notosuman..enakkkk ternyata loh :D



Salah satu sudut Kampung Batik Kauman





Toko Batik Mutiara Timur, Kampung Batik Kauman Surakarta *my favorit
Penyanyi yang 'ngamen' di depan Nasi Liwet Bu Wongso
Nasi liwet bu Wongso..saya ga terlalu suka..kemanisan rasanya :0

Friday, February 10, 2012

I miss travelling

I miss going around to see new things, meet new people..
I miss exploring new places..
I miss winter some where..
I miss the spirit of other travelers..
South Korea, Nov 2009, one day in a winter
Hope to see you soon, my next trip! :)

Martapura River, South Kalimantan. A beautiful early morning in July 2011

Friday, February 3, 2012

Just Married Part II :D

Karena pernah berjanji untuk meneruskan cerita awal-awal menikah & honeymoon di Just Married :D, maka saya pun akan melanjutkannya :0

Di sebuah restoran penuh bule tempat kami menunggu di pelabuhan Padang Bai, ada satu bule perempuan warga negara Belanda yang mengira dirinya membeli tiket fast boat untuk ke Gili Trawangan. Padahal, ternyata dia terdaftar sebagai penumpang kelas ekonomi, harus naik kapal ferry umum, sama seperti kami..hoho.. :D Entah dia memang ditipu oleh agen perjalanannya, atau dia yang memang tidak paham. Yang pasti, dia tampak bingung.

Setelah menunggu kira-kira setengah jam, kami pun digiring oleh seorang bapak untuk menuju ke kapal ferry yang akan berangkat menuju Pulau Lombok. Setelah cukup lama menunggu, ferry pun berangkat sekitar jam 10. Untungnya, kapal ferry yang kami naiki saat itu termasuk yang bagus..dilengkapi dengan AC dan kursi-kursi yang tampak nyaman. Di depan deretan kursi penumpang juga terdapat sebuah TV yang memutar film dari VCD/DVD selama perjalanan. Hemm..mungkin karena banyak bule yang biasa menumpang pada keberangkatan jam 9 ini (ngaret jadi jam 10), jadi kapalnya pun disediakan yang agak bagus. Selama 4 jam perjalanan, kami berdua hanya tidur-makan-minum-baca. Kami memakai jaket karena khawatir masuk angin kena angin laut+AC kapal.

Seperti yang telah dijanjikan oleh agen yang di Pelabuhan padang Bai, sesampainya di Pelabuhan Lembar Lombok kami dijemput oleh orang dari agen yang di Lombok (kami membayar 160.000/orang untuk transportasi dari Ubud ke Senggigi). Kami kembali menaiki sebuah van putih yang disupiri oleh seorang bapak asli Lombok. Kami berdua memilih untuk duduk di depan, di sebelah Pak Supir. Di belakang, ada satu orang mbak Indonesia yang bersama seorg kakek bule, dan beberapa bule lone traveler. Mereka yang duduk di belakang asyik bercerita macem-macem. Sementara saya dan suami memilih ngobrol dengan Pak Supir :D *karena posisi duduk kami hanya memungkinkan itu*

Tampaknya Pak Supir senang bisa mengobrol dengan kami karena kebanyakan penumpang yang dia bawa biasanya bule-bule. Dari tanya-tanya Pak Supir ini kami mengetahui, bahwa sebelum menuju Senggigi (dan kemudian Pelabuhan Bangsa- menuju ke Gili) kami akan transit di kantor agen perjalanan tersebut di Kota Mataram. Setelah transit, barulah van akan menuju ke Senggigi (tempat kami akan turun) dan kemudian ke Pelabuhan Bangsal (untuk mengantar penumpang yang hendak ke Gili Trawangan/Meno/Air). Kami sengaja memilih hanya sampai Senggigi, agar ongkos transport nya tidak terlalu mahal. Rencananya dari Senggigi kami akan ngeteng ke Pelabuhan Bangsal, untuk kemudian ke Gili. Tapi, di tengah jalan Pak Supir menawarkan untuk membawa kami sampai Pelabuhan Bangsal, dengan menambah Rp. 100.000 (per org 50rb) sudah termasuk tiket kapal ke Gili Trawangan, tapi uang tersebut dibayar langsung ke dia, tidak melalui kantor agen perjalanannya. Dia menjelaskan, jika kita membayar lewat agen perjalanan, ongkos nya akan lebih dari itu. Selain itu, rombongan yang akan menuju Gili dengan agen perjalanan tersebut tidak bisa langsung berangkat ke Gili Trawangan/meno/Air, mereka baru akan diberangkatkan jam 6 sore! (saat itu baru jam 1 siang). 

Akhirnya kami sepakat untuk memberi Pak Supir Rp. 100.000 dan mengantar kami sampai Pelabuhan Bangsal. Van kami  sampai di kantor agen perjalanan tersebut di Kota Mataram. Para penumpang van yang lain berhamburan keluar. Kami juga turun hanya untung duduk-duduk meluruskan kaki. Sementara itu, beberapa penumpang lain turun dan membeli beberapa cemilan yang memang dijual di kantor agen perjalanan tersebut. Tak berapa lama, van pun siap diberangkatkan. Kami menuju ke Senggigi. Ada satu-dua penumpang yang turun di sana. Karena kami tidak jadi turun di sana, perjalanan terus dilanjutkan menuju Pelabuhan Bangsal (Kabupaten Lombok Utara). Di sebuah rumah di pinggir jalan yang sudah dekat ke Pelabuhan Bangsal, van berhenti lagi. Para penumpang diminta turun dan menunggu di situ sampai kapal akan diberangkatkan ke Gili Trawangan. Namun, Pak Supir sebelumnya sudah memberi tahu kami agar kami tidak ikut turun, karena dia akan menurunkan kami langsung di pinggir laut Pelabuhan Bangsal. (Agghhh...saya pengen menyingkat cerita ini..tapi kok rasa-rasanya ini penting ya untuk dicatat -__-). Di rumah tersebut ada satu orang mas2 yang udah nunggu dan mencatat setiap penumpang, serta ada semacem counter yang menjual berbagai makanan kecil dan minuman. Dia sempat bertanya, kami berdua akan kemana dan kenapa kami tidak turun. Pak Supir yang menjawab pertanyaan tersebut. Satu orang penumpang bule dibelakang yang tampak agak cerdas mulai bertanya-tanya, kenapa mereka harus berhenti lagi di situ dan tidak langsung menuju Gili Trawangan. Si Mas2 menjawab, karena mereka harus menunggu penumpang lain yang akan ke Gili Trawangan, agar bisa berangkat bersama-sama jam 18.00 (saat itu baru jam 14.00). Si bule bingung dan nanya, apakah tidak ada kapal lain yang menuju Gili Trawangan yang lebih cepat. Dan si mas2 menjawab, tidak ada kecuali penumpang mau membayar masing-masing Rp. 300.000!! Hahaha padahal faktanya, setiap setengah jam selalu ada kapal berangkat dari Pelabuhan Bangsal menuju Gili Trawangan dan ongkosnya hanya: Rp. 10.000 saja!! Bule-bule be*o itu sengaja ditahan di rumah itu agar mereka kembali membelanjakan uangnya untuk makanan dan minuman selama mereka menunggu dari jam 14.00 sampai jam 18.00. Duh..kasian banget jadi bule yang ga ngerti kalo dia lagi ditipu :p Ada sedikit keinginan saya untuk membantu mereka..tapi yasudahlah..Hehehehe..itung-itung membantu pengusaha lokal dapet uang tambahan :D Lagian salah bule-bule itu juga ga mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang tempat yang mereka tuju, padahal sebagai pelancong di tempat yang belum dikenal, mengumpulkan informasi adalah hal yang paling utama.

Setelah diturunkan di Pelabuhan Bangsal dan diberi tiket kapal oleh Pak Supir, kami menunggu kapal diberangkatkan. Tak sampai 15 menit, kami sudah berangkat menuju Gili Trawangan. Kami tiba di sana kira-kira jam 15.00.

Sesampainya di sana, kami langsung mencari penginapan (budget kami maksimal 150.000 :D). Setelah melihat beberapa bungalow, akhirnya kami menemukan yang cukup pas. Harga 150.000, bersih, sedikit nuansa kayu-kayu, dekat laut, dan dapat sarapan :D Hohoho...sampai di kamar kami istirahat sebentar dan langsung mandi-mandi di laut. Yuhuuuuuuu....pantai dan lautnya luar biasa indah. Kami pun berenang-renang dengan bahagia...sebagai pengganti karena tidak sempat menemukan laut di Bali :0 Sambil berenang-renang kami mengingat nasib bule-bule tadi, yang pasti saat kami berenang-renang mereka masih sedang menunggu di rumah itu sambil ngemil kacang yang terpaksa mereka beli karena lapar :D

Setelah berenang-renang, kami pulang ke kamar, mandi, leyeh-leyeh bentar, lanjut cari makan malem. Seperti biasa, mencari makanan yang MURAH, enak, dan bersih. *banyak maunya ya :D Untungnya, kami selalu nemu..hehehe...Selesei makan malam, kami memutuskan untuk berjalan kaki keliling Gili Trawangan sambil menikmati suasana :) Ketika melewati pelabuhan, kami melihat bule-bule be*o tadi baru sampai!! Huhahaha...kasiaaan deh mereka..kami udah beres berenang-renang, makan malem dan jalan-jalan, mereka baru sampe :D Di jalan utama (emang cuma ada satu jalan :D) Gili Trawangan yang bebas kendaraan bermotor (cuma ada delman, sepeda kayuh, dan orang), hp saya sempat menangkap satu sinyal wi fi yang cukup kencang dan tidak berpassword..aseeekk..saya bisa ngobrol dikit sama teman-teman wilujeng sumping..Selesei jalan-jalan, kami nongkrong di sebuah kafe dekat tempat kami nginap yang ada live music nya..what a perfect night..hehehehehe....me, him, and the music..plus bocah-bocah wilujeng sumping di hp :D

Keesokan harinya, kami kembali berenang-renang di pantai. Sayangnya, terumbu karang di Gili Trawangan tidak sebagus di Gili Air. Mungkin karena Gili Trawangan adalah pulau yang paling banyak dikunjungi wisatawan di antara ketiga Gili (Trawangan, Meno, Air), jadilah terumbu karangnya mulai hancur :( Sayapun tidak bisa berenang terlalu jauh karena takuut :0 Jadi kalo agak ketengah harus pegangan ke suami. Tadinya kami bermaksud island hopping ke Gili Meno, tapi ketinggalan kapal..ah ya sudah..berleyeh-leyeh aja dan berenang-renang..

Pemandangan Pantai di Gili Trawangan


Keesokan harinya lagi, kami bersiap-siap kembali ke Pulau Lombok, menuju tempat tujuan terakhir honey moon kami: Santai Beach Inn, yang terletak di Mangsit (tak jauh dari Senggigi). Sebuah penginapan di pinggir pantai Mangsit yang terdiri dari bungalow-bungalow kecil terbuat dari bilik dan beratap anyam yang damaiii....*sambil menulis blog sambil membayangkan kedamaian bersantai di Santai* Kami telah memesan kamar yang mirip rumah pohon, dengan hanya Rp. 140.000 saja per malam!!

Bale-bale tempat membaca & bersantai di Santai Beach Inn


Sesampainya di santai, kami pun bersantai..leyeh-leyeh..cek-cek e-mail, baca buku, berenang-renang, tidur-tidur, dll, untuk menghabiskan waktu, karena pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta baru akan berangkat 2 hari lagi. Kami sengaja tidak makan di luar biar lebih irit :D Hiruk-pikuk Jakarta terasa tidak nyata..yang ada hanya kedamaian dan kesantaian....

Sayangnya, honey moon + liburan ini harus berakhir. Tanggal 30 Nov saya harus masuk kantor lagi (saya cuti dari tanggal 18-29 Nov). Tanggal 29 pagi kami dijemput taksi burung biru untuk menuju Pelabuhan Lembar, untuk selanjutnya naik ferry ke Bali (karena pesawat kami dari Denpasar dan bukan dari Lombok). Kami memutuskan untuk tidak lagi memakai jasa agen perjalanan karena takut kena tipu lagi :p Sesampainya di Pelabuhan Lembar, membeli tiket ferry (seharga Rp. 36.000 per orang), berangkatlah kami jam 09.00 pagi menuju Pelabuhan Padang Bai Bali. Sampai di bali kira-kira jam 13.00. Karena tidak ada agen perjalanan yang akan menjemput, kami pun bertanya-tanya bagaimana cara nya untuk menuju Denpasar dari Padang Bai. Untungnya saya sempat googling, jadi ada referensi pembanding. Tak jauh dermaga ferry Padang Bai, terdapat deretan van/elf yang banyak dituju penumpang yang baru turun dari ferry. Ternyata, memang itulah angkutan yang akan menuju Denpasar. Banyak orang yang menawari kami..kami bersikap agak selektif karena kapok ditipu. Sampai akhirnya kami naik ke van terakhir yang akan berangkat ke Denpasar dengan ongkos Rp. 40.000 per orang. Setelah perjalanan sekitar 1,5 jam, kami pun tiba di terminal Ubung Denpasar. Kami berencana membeli oleh-oleh pesenan kakak saya sebelum menuju bandara. Ketika mencari-cari taksi, banyak calo-calo terminal yang dengan sotoynya bilang: "Surabaya ke sini!! Surabaya!!" Yeee...cukup sekali deh saya menempuh Surabaya-Bali-Lombok (dan sebaliknya) pake mobil dan ferry..kali ini saya mau naek pesawat!! hohoho...

Dari terminal Ubung kami menuju tempat makan untuk makan siang, dan menemukan sebuah warung Padang. Selesei makan, naik taksi untuk mencari manisan salak pesanan kakak saya. Dari tempat manisan salak, menuju pusat oleh-oleh Kri*na untuk beli sedikit oleh-oleh buat Mamah dan teman kantor Mas. Kali ini saya ga beli banyak oleh-oleh karena duit menipis..hehehehe...Selesei beli sedikiiit oleh-oleh, langsung menuju bandara dan pulang ke Jakarta. Duit abis..bis..bis.. Senang abis liburan, tapi ga senang kalo inget kalo harus balik ke keruwetan jakarta dan fuc*ing office :p Yeahhh..Jakarta, please welcoming us: Mr dan Mrs. Harmono :D

*ga sabar pengen liburan lagi*

Rincian biaya dan waktu:
Tiket Citilink Jakarta-Denpasar-Jakarta per orang: Rp. 700.000
Penginapan di Ubud: Rp. 150.000 per malam (tempat tidur king, kamar mandi dalam, fan, hot water, free internet, free breakfast for 2)
Sewa motor di Ubud: Rp. 40.000 per hari
Transport Ubud (Bali)-Senggigi (Lombok): Rp. 160.000 per orang (tapi yang 130.000 juga ada, jangan ketipu seperti kami!!)
Transport Senggigi-Bangsal+tiket kapal ke Gili Trawangan: Rp. 50.000 per orang (tiket Bangsal-Gili Trawangan sebenarnya: Rp. 10.000)
Taksi burung biru dari Pelabuhan Bangsal ke Santai Beach Inn (Mangsit): Rp. 60.000
Penginapan (tree house) Santai Beach Inn: Rp. 140.000 (kamar mandi pribadi, fan, free breakfast for 2)
Taksi burung biru dari Santai (Mangsit) ke Pelabuhan Lembar: Rp. 80.000
Kapal ferry Pelabuhan Lembar (Lombok)-Pelabuhan Padang Bai (Bali): Rp. 36.000
Angkutan umum (van, elf) Padang Bai-terminal Ubung Denpasar: Rp. 40.000

Thursday, January 5, 2012

Just Married :D

Sudah satu setengah bulan berlalu sejak tanggal 19 November 2011: our marriage date. Akhirnya resmi jadi suami-istri, berhak menyandang nama Bu Yuyun :D *jadi lebih cewek daripada Bu Tatat*. Dua hari setelah menikah, kami langsung kabur ke Bali, tepatnya ke Ubud, untuk menghindari disuruh beberes rumah pasca hajatan sama nyokap. Menghabiskan waktu berleyeh-leyeh di kamar, nonton tari Kecak, keliling Bali pake motor, cuci mata di toko-toko di sekitar Ubud, dan nonton live music latin di Cafe Havana, Ubud. Wajah Bali yang saya rasakan di Ubud terasa sangat berbeda dengan yang pernah saya tahu sebelumnya (di Kuta, Denpasar, Sanur). Ubud lebih tenang dan damai, cocok untuk tempat relaksasi dan menenangkan pikiran. Di Ubud juga banyak terdapat tempat yang menyediakan layanan spa, massage, dll, mulai dari yang murahan sampe yang tampak mahal seperti mango tree spa dari L’Occitane. Sayangnya, karena perjalanan kami masih panjang, saya harus berhemat dan batal pergi ke spa :( *lain kali ke Ubud harus dicoba! 

Kami juga mencoba restoran bebek di Ubud yang katanya terkenal sangat enak *dan mahal, yaitu Bebek Bengil dan Bebek Tepi Sawah. Tapi..huhh..ternyata…kedua restoran bebek tersebut memiliki rasa yang sangaaat biasa…ga sebanding dengan harganya yang menguras kantong :p Very-very not reccommended deh. Entah apa yang membuat keduanya begitu terkenal..katanya sih, gara-gara Presiden SBY pernah kesitu..ga jaminan banget :p Kelebihan kedua bebek itu hanya di tempatnya yang nyaman dan asri. lain itu TIDAK ada. Titik.


Hari ke-lima di Bali, pagi-pagi, kami bersiap menuju Lombok dengan menggunakan shuttle bus yang akan menjemput kami di depan gang dekat tempat kami menginap. Shuttle bus ini harganya cukup mahal, dari Ubud-Senggigi per orang Rp 160.000. Awalnya kami pikir ini cukup murah…tapi ternyata kemudian kami menemukan di salah satu counter dengan harga hanya 130.000/orang! Yaa…nasi sudah menjadi bubur..menyesal juga percuma. Kamipun siap-siap keluar dari tempat nginap sejak jam 6.30 pagi. Kami menunggu-nunggu bus (soalnya kan katanya shuttle bus) yang akan membawa kami ke Pulau Lombok. Sekitar jam 7.30, sebuah van (sejenis omprengan) warna putih berhenti depan kami dan menanyakan nama kami. Voila!! Ternyata yang katanya bus itu cuma sebuah van agak butut warna putih. Grrr…sepertinya kami kena tipu…ya sudahlah…whatever…Van itu berisi beberapa orang bule dengan backpack gede-gede yang juga bermaksud pergi ke Lombok. Setelah perjalanan sekitar 1,5 jam, sampailah kami di Pelabuhan Padang Bai, pelabuhan tempat biasa orang menyeberang dengan ferry jika ingin pergi ke Lombok. Di sana kami digiring menuju sebuah restoran ga jelas dipinggir laut. Di restoran itu ada banyak bule yang duduk-duduk menunggu waktu keberangkatannya ke Lombok. Sebagian besar dari mereka akan pergi ke Lombok dengan menggunakan fast boat yang cuma memakan waktu satu jam untuk sampai di kepulauan Gili, Lombok. Hemmm..menggoda sekali…karena jika menggunakan ferry (slow boat), memakan waktu 4 jam hanya untuk sampai di Pelabuhan Lembar. Dari Lembar, untuk menuju Senggigi atau Kepulauan Gili harus menempuh jalan darat lagi dan disambung perahu. Yeahhh…ada harga, ada waktu memang sihh :p

-to be continued- *mau beresin laporan kerjaan dulu