Monday, June 7, 2021

Deteksi Dini Kanker di Yayasan Kanker Indonesia

Sejak 1-2 tahun yang lalu, niat saya untuk pap smear dan periksa payudara untuk deteksi dini kanker selalu tertunda. Ketika akhirnya ada waktu luang di Bulan Mei 2021 ini, saya segerakan untuk pap smear. Di tahun 2018, saya pernah pap smear di puskesmas Kalibata. Tapi hasilnya ngga diinfokan, mungkin karena hasilnya bagus. Biasanya, hanya yang hasilnya ada potensi kanker yang ditelepon. 

Singkat cerita tanggal 19 Mei 2021 lalu, saya putuskan untuk pap smear di Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Lebak Bulus, alamatnya di Jalan Lebak Bulus Tengah No. 9 Jakarta Selatan. Kalo dari Stasiun MRT Fatmawati, jalan kaki ke arah Lebak Bulus sampe ada bangunan Toyota-Astra, terus belok kiri ke Jl. Lebak Bulus Tengah, jalan dikit nanti keliatan bangunannya. Jam bukanya dari jam 8.30-12 saja. Jadi jangan datang sore-sore, ya!

Berapa biaya pap smear di YKI? Untuk pap smear, harganya Rp. 150.000 (tidak bisa pake BPJS Kesehatan). Bayarnya bisa pake kartu debit kok. Untuk yang ingin pap smear, tidak perlu buat janji dulu, bisa datang aja langsung sesuai jam buka. Untuk pelayanan, di YKI ini agak lambat dan stafnya tampak cuek-cuek (saya diabaikan ga jelas dan bengong nunggu 20 menitan). Tapi dengan harga semurah itu, yaudahlah ya. Walaupun tentu berharap layanannya makin baik. 

Oh iya, jika ingin pap smear, tidak boleh berhubungan seksual paling tidak dua hari sebelum pap smear, agar tidak merusak dinding mulut rahim. Pengambilan sampel pake cocor bebek dari stainless steel cukup cepat, disuruh buka celana, diambil sampel, udah deh. Hasil akan keluar setelah 13 hari kerja, saya pap smear tanggal 19 Mei, hasilnya keluar tanggal 7 Juni 2021. Untuk pengambilan hasil, harus bawa kuitansi pembayaran pap smear. Jika hasil pap smear bagus, bisa langsung vaksin HPV. 

Tadi hasil pap smear saya bagus, tidak ada sel-sel yang berpotensi kanker. Oh iya, pap smear harus diulang setiap tahun. Tadi saya sudah masukkan google calendar biar ga lupa, untuk pap smear 2022 sekitar tanggal 19 Mei.

 


Karena hasil pap smear bagus, saya putuskan untuk langsung vaksin HPV. Sebelum divaksin, dikasih waktu untuk konsultasi dengan dokter. Setelah nunggu lama, sekitar 40 menitan, akhirnya saya dapat giliran. Dokternya sudah agak berumur, tapi sabar menjelaskan dengan sangat baik tentang kanker serviks, vaksin, pap smear, IVA, dll. Bahkan ketika saya menanyakan tentang kanker payudara, bu dokter menawarkan untuk memeriksa kedua payudara saya. Waktu konsultasi yang diberikan juga cukup panjang, sekitar 45 menit. 

Untuk vaksin HPV sendiri, menurut bu dokter, terdiri dari 3 kali vaksin dalam waktu enam bulan. Waktu vaksinnya bulan 1, bulan ke 2, dan bulan ke-6 di tanggal yang sama. Vaksin kedua disarankan tepat waktu, cuma boleh telat 2 minggu dari tanggal seharusnya (karena sakit, misalnya). Sementara itu, vaksin ketiga boleh telat maksimal 2 bulan dari tanggal seharusnya. Vaksin HPV ini berlaku untuk seumur hidup. Ketika dalam masa vaksin (6 bulan), tidak disarankan untuk hamil, karena khawatir akan berpengaruh terhadap perkembangan janin.

Ketika membayar, saya kira biaya vaksin dan konsultasi terpisah. Ternyata digabung jadi satu, Rp. 1.000.000 untuk vaksin dan konsultasinya. Agak mahal sih, dan sayangnya vaksin HPV tidak ditanggung BPJS Kesehatan. Semoga sih, vaksin HPV bisa segera masuk ke list yang ditanggung, karena angka kematian perempuan Indonesia yang disebabkan kanker serviks masing tinggi banget.

Di umur segini, memang sudah saatnya kita sadar untuk lebih memperhatikan kesehatan, termasuk hal-hal seperti ini. Mengingat di keluarga saya ada riwayat kanker serviks (nenek), tiroid (ibu dan kakak), jadi saya memang harus lebih waspada.

Sekian dulu cerita tentang pengalaman pap smear dan vaksin HPV di YKI. 

Stay healthy!

Wednesday, March 11, 2020

Thursday, September 12, 2019

It's September 2019!

Hari ini Kamis, 12 September 2019. Saat ini saya bekerja di sebuah organisasi, yang merupakan kantor ke-3 saya sejak pulang ke Indonesia. Setelah sempat kosong enam bulan dari Maret - Juli 2017, akhirnya saya diterima untuk bekerja di organisasi W, hingga bulan April 2018. Saya bekerja di organisasi tersebut selama kurang lebih 9 bulan, karena projectnya memang sudah mau selesai. Awal Mei 2018, saya mulai bekerja di organisasi H, tempat saya pernah bekerja sebelum berangkat ke Jerman dulu. Organisasi yang hangat dan menyenangkan. Meskipun begitu, pada bulan Maret 2019, saya mulai bekerja di kantor yang sekarang, setelah bekerja di organisasi H selama 10 bulan. Di organisasi I ini, saya berharap bisa tinggal lebih lama, untuk lebih banyak belajar dan berkontribusi. 

Sementara itu, ayahnya Alif masih tetap di organisasi yang sama, organisasi W. Dia sih tipe yang ga peduli dengan sekitar..whatever happen, just stay till the end (2020 adalah end bagi dia, karena kepemimpinan organisasi akan berganti). Semoga sih dia bisa dapet yang lebih baik. 

Alif si anak bau kencur, sekarang sudah 6 tahun 10 bulan. Mulai Agustus 2019 kemarin, sudah masuk kelas 1 di SD GA. Kami memilih SD GA ini karena berbagai pertimbangan. Walaupun agak jauh dan agak mahal, menurut kami GA masih yang terbaik dan terjangkau. Resikonya, kami bertiga harus selalu bangun jam 5 (paling lambat 5.15), untuk persiapan sekolah Alif. Walaupun sekolah baru akan mulai jam 7.45, Alif harus berangkat paling lambat jam 6.15 dari tempat kami, agar tidak terjebak macet yang membuat dia harus menghabiskan terlalu lama waktu di jalan. Perubahan yang cukup besar. Waktu TK, Alif masuk sekolah jam 8.15, berangkat dari rumah jam 8, jalan kaki. Bangun jam 7 pun masih cukup..hehehe.. 

Meskipun lelah, ada sisi positifnya. Si bocah jadi belajar bangun pagi dan bersiap-siap dengan sigap. Menyiapkan baju dan perlengkapan dari malam sebelumnya, pagi-pagi mandi dan pakai baju sendiri, sarapan, dan memasukkan barang-barang ke tas. Sementara itu, ayah-ibunya yang menyiapkan dua bekal: snack (biasanya roti keju, fitbar, atau pisang) dan makan berat (untuk makan siang: nasi, sayur, lauk, atau pasta). 

Kehidupan di tahap ini semakin menantang. Tanggung jawab di kantor semakin besar, Alif semakin besar, dan sebagainya. Namun, saya merasa di tingkat ini saling pengertian di antara kami bertiga (saya, ayahnya, dan Alif) pun semakin terbangun. Tingkat berantem parah sudah semakin berkurang. Si Alif pun sudah sangat terlatih dan sigap serta mandiri. Kemalasan saya pun berkurang jauh. Level procrastination sudah cukup rendah, kecuali di akhir pekan.

I still do travelling especially for business trip abroad and alone, which somehow I like it much. Beberapa kali kami bertiga staycation atau liburan leyeh-leyeh aja..untuk istirahat sejenak dari rutinitas. Oh dan sedikit tambahan update, sejak 2-3 bulan yang lalu, saya mulai bisa berenang gaya dada, walopun gerakannya belum 100 benar. Sebuah pencapaian buat saya di umur 34 tahun ini..haha.. 

That's current update. I won't promise that I will write more. Just that for now.




Sunday, June 4, 2017

Happy Birthday to Me

Hari ini adalah hari jadi kelahiran saya yang ke-32. Wuih..udah setua itu loh..haha..
Saya sengaja menyetting tanggal kelahiran saya untuk tidak ditampilkan di sosial media manapun. alasan sederhananya, saya tidak mau harus berkewajiban mengucapkan selamat ulang tahun balasan kepada orang-orang yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya. Jika ada yang mengucapkan selamat ulang tahun, semoga karena dia memang benar-benar ingat.

Yang pertama  kali mengucapkan adalah seorang teman semasa kuliah, Rifki. Ah..luar biasa..tampaknya dia punya reminder khusus untuk tanggal-tanggal ulang tahun kawan-kawannya. Setelah itu, tak lama kakak saya menelpon dengan Facetime. Dia bilang ke Alif "Alif, kamu tahu ga ibu kamu hari ini ulang tahun loh?". Si Alif melihat ke arah saya dan bertanya "Iya Ibu, kamu ulang tahun?" Setelah diiyakan dia bilang "Ayo Ibu..", yang saya jawab "Ayo ke mana?". Dia kembali menjawab, "Ayo..ini kuenya (pura-pura kue dari lego kereta)", lalu menambahkan dengan bilang "Aku kasih kamu buku yang bagus", saya bertanya mengkonfirmasi "Bukunya buat siapa?" Si Alif menjawab "Buat kamu bukunya, kan kamu ulang tahun". Lalu saya menambahkan, "Mana bukunya?. Alif: "Belum ada bukunya, harus beli dulu..ayo..kita beli" :)) Makasih ya nak, Alif anak Ibu yang baik. Semoga Ibu cepet dapet kerja, biar bisa merayakan ultah ibu sama-sama sambil makan kue dan beli buku :*

Sepenggal do´a di hari kelahiran, "Ya Allah, berikanlah hamba kekuatan sabar yang tak terbatas, hati yang luas untuk lebih memahami orang lain, terutama orang-orang terdekat. Berikan hamba keteguhan hati, kebijaksanaan, kesabaran dan kasih sayang untuk menghadapi Alif. Ya Allah, semoga sisa umur hamba bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. Amin." 

Berikut ini tulisan yang saya draft pada hari ulang tahun saya tahun lalu. Karena males beresin, selama setahun ngendon di draft :))

4 Juni 1985 jam 21.00
Di rumah bu bidan di kecamatan sebelah, lahirlah seorang anak perempuan yang merupakan anak ketiga. Saat itu, melahirkan di bidan sudah masuk kategori modern, dibanding melahirkan di paraji (dukun beranak. Kakak-kakaknya yang saat itu berumur 2 dan 4 tahun, semua perempuan. Nah..kakaknya yang pertama, lahir dengan bantuan paraji :D.

Walaupun bukan anak pertama, kebahagiaan tetap dirasakan oleh ayah ibunya.

Anak perempuan itu diberi nama hanya satu kata. Tidak lazim untuk anak-anak yang lahir saat itu. Bahkan kedua kakaknya punya nama panjang. Nama itu adalah pemberian dari kakeknya, ayah dari ibunya yang rajin tirakat dan konon punya golok sakti yang bisa pindah sendiri mengikuti yang punya. Sang kakek menemukan nama itu setelah tirakat dan berpuasa. Orang tua nya berniat untuk menambahkan nama belakang untuk si bayi perempuan, biar namanya lebih bagus dan panjang :p. Sayangnya sang kakek menolak.. Katanya, masa depan anak ini akan lebih baik kalo namanya tidak ditambah. Orang tua si bayi pun nurut. Saat itu, kakek dan orang tuanya tidak menyadari..bahwa nama yang hanya satu kata itu bisa membingungkan orang-orang di negeri lain tempat si bayi perempuan kelak merantau..

Sesudah lulus dari ST (Sekolah Teknik/STM, saat ini SMK), ayahnya diajak bekerja oleh sang paman di kilang minyak perusahaan minyak nasional. Sementara sang ibu, yang selepas SMP ngeyel melawan bapaknya tidak mau masuk sekolah agama, memilih masuk SPG (sekolah pendidikan guru). Selepas dari SPG, dia mengajar di SMP negeri terbaik di Kabupaten dan tidak pernah pindah hingga saat ini.

Sang ibu biasanya mengajar dari jam 7 sampai jam 1 siang. Sementara sang ayah, yang tempat kerjanya harus ditempuh selama 1,5 jam perjalanan, biasanya pulang dua atau tiga hari sekali. Ketika tidak pulang, sang ayah menginap di mess karyawan. Ketika sang ibu mengajar, si bayi perempuan biasanya di rumah dengan pengasuh. Sama dengan kedua kakaknya, yang juga tumbuh dengan bantuan para pengasuh. Para pengasuh datang dan pergi berganti. Ketika si bayi perempuan beranjak balita, dia pernah jadi korban kekerasan fisik salah satu pengasuh. Sang ibu menemukan banyak luka bekas cubitan keras dan tajam di bagian-bagian yang tertutup baju. Si pengasuh tentu langsung dipulangkan setelah didamprat habis-habisan. Duh..ternyata working mom problem yang satu ini bukan hal baru ya..

Ketika tidak ada pengasuh dan sang ibu harus mengajar, seringkali si balita perempuan ikut bermain di taman kanak-kanak di seberang sekolah tempat ibunya mengajar, di mana kakaknya yang kedua berada (kakak pertama saat itu kelas 1 SD). Beberapa kali si balita perempuan keluar masuk taman kanak-kanak, sebelum akhirnya jadi penghuni permanen setelah berusia 5 tahun. Tepat ketika berumur 6 tahun, dia masuk ke SD yang sama di mana dua kakaknya dan sepupunya bersekolah. Sebuah SD kecil di kelurahan yang bisa dicapai dengan jalan kaki selama 15-20 menit. Adik bungsunya lahir tahun 1993, tepat ketika dia berumur 8 tahun.

Ketika dia kelas 4 SD, terjadi peristiwa besar yang mengubah hidup dan keluarganya. Sang ayah kehilangan pekerjaan. Saat itu, kakak pertamanya sudah kelas 2 SMP, kakak kedua kelas 6 SD. Cerita lanjutannya bisa dibaca di sini

Thursday, April 20, 2017

Ngobrol Sama Alif

Satu bulan terakhir ini Alif selalu ikut dengan saya ke mana-mana, termasuk melayat sepupu dan tante yang meninggal. Bukan hanya melayat ke rumah duka, bahkan hingga ke pemakaman untuk penguburan. Alif sempat melihat ketika kedua jenazah terbujur kaku tertutup samping (jarik batik).

Setelah itu, Alif juga sering bertanya-tanya. "Ayah kamu dikubur ya?", "Rumahnya di bawah tanah ya?", "Di bawah tanah bisa bernafas ngga?", dsb. Saya selalu coba jelaskan semampu Saya, mencoba ga berlebihan untuk anak seumur dia.

Sempat merasa bersalah sih.. Apa terlalu cepat buat Alif diperkenalkan konsep meninggal dan dikubur? Ah but that's reality, pikir saya kemudian.

Hingga malam ini, kami saling bertukar cerita sebelum tidur. Saya "bercerita" bahwa saya sayang sekali sama Alif😆 (maafkan emak yang ceritanya super pendek). Sementara Alif bercerita soal pertarungan antara robot, jägger (pemburu), singa, dan manusia, tentang tembak-menembak dan makan-dimakan. Saya tidak terlalu suka kisah yang didalamnya ada kejadian saling menyakiti seperti itu, dan selalu saya sampaikan ke Alif. Bahwa tembak-menembak itu tidak baik karena yang tertembak akan merasa sakit, bahwa memburu dan membunuh binatang itu tidak diperbolehkan, bahwa sebaiknya semua orang berteman dan saling membantu.

Terdengar utopis, namun saya berusaha agar hal-hal kecil yang saya sampaikan ini tertanam di hati dan pikirannya. Si Alif ini sehari-harinya tidak jauh berbeda dari anak laki-laki kebanyakan, yang menyukai Starwars, superhero, robot, dan lain-lain. Walaupun saya tidak pernah memperkenalkan, mengajak menonton, ataupun membelikan mainan-mainan terkait ini, tetap saja dia mengenalnya melalui teman-temannya di Kindergarten dulu. Untuk tidak menanamkan maskulinitas yang kasar dan berpotensi merusak, saya berusaha memasukkan nilai-nilai yang saya yakini.

Setelah saya merespon cerita Alif dengan pesan sponsor tersebut, tiba-tiba Alif ngomong, "Bu nanti kalo sakit kita bisa meninggal ya?". Lalu kami membicarakan sesuatu dan saya berkata "Hidup manusia itu dimulai dengan lahir sebagai bayi, tumbuh jadi anak-anak kayak kamu, lalu jadi kakak-kakak, lalu jadi om-om, lalu jadi bapak-bapak, tua, dan meninggal."

Si Alif merespon dengan "Tapi aku ga mau tua.. Maunya muda aja kayak gini. Aku ga mau meninggal." Dan dilanjutkan dengan "Kalo kamu meninggal nanti aku disebelah kamu, aku mau dipeluk", "Sebelum kamu meninggal kamu bilang gitu dulu ya..",
"Kalo aku meninggal duluan aku sendirian dong.. Aku gamau.. Aku mau disebelah kamu ya", "Kalo meninggal kita bisa hidup lagi ngga?", dsb. Setelah bertanya, dia lalu nangis sambil bilang "tapi aku ga mau meninggal.. Mau hidup aja."

Saya bingung harus merespon apa. Akhirnya saya bilang, "Iya nak. Tapi kamu ga perlu terlalu memikirkan itu. Lakukan aja yang terbaik yang kita bisa: belajar, bekerja, mengaji, sholat, membantu orang. Setelah meninggal, kita akan dihidupkan lagi. Kalo kita termasuk orang-orang baik, kita bisa ketemu lagi." #duh #berat.

Setelahnya saya masih merenungkan pembicaraan kami. It seems too soon for a 4,5 years old to talk about this topic. Ah.. Mungkin besok-besok ga usah ikut dulu melayat atau ziarah. It is actually a good start to give him understanding about life, after life, religion. Tapi jangan sampe anaknya trauma😢.

Saturday, February 11, 2017

Memaafkan Masa Lalu, Memaafkan Diri Sendiri

Karena saya dan Marq gagal menemukan ide untuk menulis tema dari #1minggu1cerita minggu minggu ini tentang "Forgiveness" di blog jalan-jalan kami Jejak Katumbiri, kami memutuskan untuk menulis di blog masing-masing. Blog pribadi saya seringnya sih memang tempat curhat :D.
---------------------------------------------

Ok..let the story begins........

Dari salah satu buku parenting yang pernah saya baca, anak yang bahagia mempunyai orang tua yang bahagia. Siapa tak ingin mempunyai anak yang bahagia? Di antara saya dan suami, saya rasa saya yang lebih menginginkan agar Alif tumbuh menjadi anak yang bahagia dengan hidupnya nanti. Mengapa? Siap-siap ya.. It's gonna be a long..long story😁

Waktu saya lahir, ayah dan ibu saya mempunyai pekerjaan tetap yang terhitung lumayan. Ayah bekerja di perusahaan minyak nasional dan ibu saya guru sekolah menengah pertama. Hidup terasa baik-baik saja. Ibu saya adalah tipe dominan, aktif mengatur rumah, aktif dalam kegiatan sosial, dan lain-lain. 

Hingga suatu masa, saat itu saya kelas tiga SD, terjadi sesuatu yang mengubah semuanya. Yang pasti, sesuatu yang terjadi saat itu sama sekali bukan karena sesuatu yang dilakukan oleh ayah atau ibu saya, bukan salah mereka. Kira-kira idenya serupa dengan konsep original sin yang dipahami oleh umat kristiani.

Waktu berlalu. Selanjutnya setelah rentetan peristiwa itu, Ayah tak lagi bekerja di perusahaan minyak nasional tempat beliau bekerja seumur hidupnya. Untung keluarga kami selalu punya sawah. Kakek dan nenek dari ayah dan ibu saya memiliki cukup lahan untuk bertani. 

Saya merasa kondisi perekonomian keluarga kami tidak berubah banyak (ini pemahaman dari kacamata anak SD). Saya dan kakak-kakak saya tetap bisa mengambil kursus ini-itu. Tak lama kemudian, kakak saya yang tertua melanjutkan SMA ke Bandung. Yang berbeda, ayah dan ibu saya makin sering bertengkar. Ibu semakin lama berada di luar rumah untuk bekerja. Selain mengajar, beliau menjalankan berbagai bisnis. Memasok beras, telur asin, dan lain-lain. Lalu apakah ayah saya tidak melakukan apa-apa? Ayah saya tetap pergi ke sawah, mengurus peternakan ayam kecil, dan lain-lain.

Tibalah saatnya kelulusan Saya dari SMP. Ibu mendorong saya untuk melanjutkan sekolah ke Bandung, demi kualitas pendidikan yang lebih baik katanya. Ibu saya memang selalu mempunyai mimpi yang besar untuk anak-anaknya, walaupun Beliau harus mengorbankan dirinya. Saat itu beliau menanggung biaya kuliah kakak saya yang tertua, kakak kedua saya, dan saya. Saat itu hubungan ayah dan ibu saya semakin parah.

Hingga suatu hari Idul Adha ketika saya kelas 2 SMA, kami sekeluarga pergi makan bakso di salah satu tempat makan bakso yang populer di kota kami. Ada yang aneh. Karena hubungan yang tidak baik antara ayah dan ibu saya, kami hampir tidak pernah lagi keluar bersama sekeluarga. Biasanya ibu hanya mengajak kami, anak-anaknya. Firasat saya terbukti. Setelah makan bakso bersama, ayah dan ibu resmi bercerai. Sedihkah saya? Walaupun selama ini saya tahu hal ini cepat atau lambat akan terjadi, tetap saja saya sedih.



Setelah bercerai ibu saya tetap berusaha maksimal mengurus dan membiayai anak-anaknya. Sayangnya, menurut perasaan kami, ibu terlalu dominan juga dalam hidup anak-anaknya setelah kami mandiri. Pilihan pekerjaan, tempat tinggal, pengasuhan anak, dll menjadi contoh hal-hal dimana beliau cukup dominan. Dan hal itu seringkali menimbulkan konflik di antara kami. Sementara Ayah saya, hingga beliau meninggal, lebih bersikap terbuka terhadap pilihan kami. 

Atas segala yang terjadi, Saya tidak pernah menyalahkan orang tua saya. Saya paham, betapa sulitnya keadaan bagi mereka. I always know they were trying their best. Jadi saya menyalahkan siapa? Tuhan? Rasanya saya tak sekurang ajar itu. Kadang saya membenci pemerintah yang berkuasa saat itu, menuduh mereka lah penyebab hancurnya keluarga Saya (mungkin yang akhirnya secara tidak sadar mengarahkan saya untuk menggeluti ilmu politik😒).

Semakin lama saya semakin memahami, tidak ada yang bersalah. It just happen alias sudah garis hidup kami. Efeknya, karena saya tidak menemukan pihak lain yang seharusnya bertanggung jawab, secara tak sadar saya membebankan semuanya pada diri sendiri. Setelah sekian lama, lambat laun saya menyadari, ternyata satu-satunya pihak yang harus saya maafkan adalah diri saya sendiri.

Karena setelah menikah dan punya anak, saya harus mengakui bahwa ternyata semua pengalaman masa lalu meninggalkan jejak yang cukup dalam. Biasanya saya selalu menyangkal. I said, I am OK eventhough I come from a broken family. Secara kasat mata kehidupan saya memang baik-baik saja. Saya berhasil lulus kuliah dan tidak menjadi beban sosial bagi masyarakat, saya ga jadi pemakai narkoba dsb. But I am not that OK. It affects me a lot.

Seringkali, saya bersikap sangat negatif, minimal pada diri saya sendiri dan orang-orang terdekat. Sikap perfeksionis saya pun seringkali menghambat saya untuk berkarya maksimal di bidang saya. Hal lainnya, saya juga jadi orang yang sering mengkhawatirkan masa depan. Saya takut akan ketidakstabilan. Setelah sekian lama, lambat laun saya menyadari, ternyata satu-satunya pihak yang harus saya maafkan adalah diri saya sendiri.

Bukannya saya tidak berusaha menjadi lebih positif. Sebagai ibu, saya sudah berkomitmen untuk membebaskan anak saya memilih profesi masa depannya. Saya pun berusaha tidak menjadi tiger mom yang super perfeksionis. Saya berjanji untuk lebih memperhatikan perasaan dan keinginan-keinginan anak saya. Menurut buku parenting tersebut, "pertama-pertama orang tua harus menyelesaikan utang-utang (apapun itu) masa lalunya agar bisa menjadi orang tua yang bahagia, dan mendidik anak-anak yang bahagia."

Yang paling sering muncul memanggil saya kembali ke tengah cahaya adalah kesadaran bahwa saya tidak bisa mengubah masa lalu. Masa lalu saya dan keluarga saya sudah begitu adanya. There's still one thing I can do. To accept and forgive what happen in the past and move on. To be a happier person than I used to be. Doakan saya berhasil ya 😌.



Wednesday, December 21, 2016

Ikutan trial bela diri

Suatu hari tanpa sengaja, seorang pengajar di sebuah dojo mengirim saya message, karena saya me-"like" page mereka. Dia menawarkan saya untuk ikut trial latihan self defense. Saya jawab, kalo saya tertariknya bukan buat saya, tapi buat si anak 4 tahun #Alipo. Dan ternyata mereka punya kelas "mini ninja" untuk usia 4-6 tahun. Sang Sensei mengundang kami untuk datang dan ikut trial gratis.

Lalu pergilah kami kemarin sore ke trialnya, yang latihannya dilakukan di sebuah ruangan di fitness park, komplek olahraga di Osnabrück. Saya datang duluan karena langsung dari perpus, sementara alipo dan ayahnya dari TK langsung. Si alif pas banget baru bangun dr tidur sorenya di stroller.

Masuk ke ruangan, kami di salamin dan kenalan dengan Sensei. Si bocah diam membisu, walopun masih terima jabat tangan dengan senseinya. Sang sensei sampe nanya ke kami, apakah alif paham bahasa jerman. Karena dia membisu. Ada sekitar 6-7 anak yang siap latihan. Lalu dimulai latihannya. Alif gamau ikutan. Diem aja sambil nempel2 ke ibu dan ayah. Dia sempet bilang "aku gamau dipukul-pukul, nanti sakit". Lalu saya jelaskan, bahwa itu tujuannya belajar pertahanan, bukan untuk pukul-pukulan. Lagi pula latihannya juga seperti bermain, ga seserius orang dewasa. Orang tua (ayah atau ibunya) juga dilibatkan untuk partner latihan anak-anak, agar anak-anak lebih nyaman. Tapi saya melihat bahwa sensei nya serius soal disiplin, soal patuh aturan, dan waktu. Pas banget buat bocah belajar.

Selama latihan, si alif tetep gamau ikutan. Dia maunya mengamati, sambil tiduran di lantai..semacem ngesot-ngesot di lantai kayu yang mulus. Sedikit-sedikit dia mulai beringsut ke lapangan. Tetap diam mengamati. Tampak tertarik, tapi ragu. Sampai akhirnya latihan selesai (hanya 30 menit), kami pulang. Di jalan saya tanya,

Ibu  : Kamu mau ke tempat tadi lagi ngga?
Alif : mau.
Ibu  : beneran mau? Tapi kalo ke sana lagi harus ikutan, ga bisa cuma liat aja. Kalo ke sana cuma liatin aja, mending ga usah. Kita nonton aja video bela diri di rumah.
Ayah : iya..kalo ke sana lagi, harus ikutan. Soalnya kalo kesana lagi, kita harus bayar. Kalo ga mau ikutan, ga usah ke sana lagi.
Ibu  : kamu suka ga di sana?
Alif : suka
Ibu : tapi kenapa tadi diem aja gamau ikutan?
ALif : Aku schühtern (malu) ibu. Aku mau ikutan tapi belum tau.
Ibu  : Oh gtu. Ya..padahal sih ga apa-apa belum tau. Kamu kan baru pertama. Tapi mau kesana lagi ngga?
Alif  : iya mau.
Ayah : (agak discouraging buat lanjut karena kami belum pasti mau pulang atau tetap di Osnabrück)


Dari situ saya jadi belajar, bahwa Alif memang bukan jenis anak yang langsung "on" di tempat baru. Butuh waktu buat dia mengenali tempat baru, orang baru, dan apa yang mereka lakukan. Seperti ketika baru masuk TK, butuh waktu hampir tiga bulan untuk proses sampe Alif tidak nangis waktu kami tinggal. Which is normal, kita orang dewasa juga gitu kan? Menurut saya, memang dia butuh di ekspos ke berbagai hal yang berbeda, dikenalin pelan-pelan, dan pastinya tetep ditemani, sampe dia menemukan kesukaannya. Semangat terus ya alipo!

Jadi inget waktu saya kecil (sekitar SD kelas 1, 2, atau 3), pernah ikutan latihan silat di GOR Kelurahan Winduhaji bersama kakak-kakak dan sepupu. Sayangnya, waktu latihannya malam. Saya sudah kelelahan. Inget banget sampe pernah latihan jurus sambil terkantuk-kantuk -_- haha..dan latihan silat ini pun tidak berlanjut, saya lupa kenapa.

Monday, December 19, 2016

Jaket rusak dan ngobrol

Tadi pagi waktu mau pake jaket, saya inget ternyata resleting jaket Alipo setengah rusak gara-gara dia ga sabaran buka jaket! Heuh..emosi..jaket winter kan mahal -_-. Lalu saya bilang,

Ibu : Alif, lihat ini jaket kamu mau rusak karena kemarin kamu buru-buru mau buka, ditarik-tarik keras dan ga sabaran. Kalo rusak gimana dong?
Alif : Kalo rusak ya beli yang baru, ibu.
Ibu   : Ga bisa, ibu ngga ada uangnya.
Alif  : Nanti kalo aku sudah besar, sudah sekolah, nanti aku kasih ibu uang buat beli jaket.
Ibu   : Ya walaupun kamu nanti punya uang sendiri, tetap tidak boleh gampang merusak barang. Barang harus dirawat biar awet (sambil tarik napas dan mengingatkan diri sendiri agar berhenti ngomel..sudahlah..toh "hanya" jaket T_T)

Suatu kali saya pernah ngomel panjang karena Alif tanpa sengaja merusak lip balm ibu, lalu anaknya yang awalnya terima diomelin karena merasa salah, balik marah.
Ibu  : ngomel (abcdefg...xyz)
Alif : Ibu sudah dong..kamu kok marah-marah terus. Aku marah kalo kamu marah-marah terus.
Ibu  : ..............

Tuh ya ingat ya..kalo ngomelnya kepanjangan jadi ga produktif. Anak jadi tersinggung dan lupa kesalahannya di mana. Anak jadi males juga sama kita. Padahal saya ga mau anak saya males ngobrol atau cerita sama orang tuanya sendiri.

Huhu..ini mungkin pengalaman pribadi. Hingga saat ini, saya merasa takut kalo mamah saya sms atau telpon. Karena biasanya, Beliau kalo ngajak ngomong saya pas mau ngingetin sesuatu atau mau marah :(. Maapkan akuh mamah.. Padahal bisa jadi sebetulnya sekarang ini mamah cuma mau ngobrol..ya kan? Saya agak trauma karena biasanya kalo dihubungi suka ditanya: "Nilai-nilainya gimana?" (waktu SMA), atau "Skripsinya kapan selesai?" (jaman kuliah), atau "Sudah daftar kemana aja? Itu ada bukaan PNS di sana" (setelah lulus kuliah hingga saat ini).

So, ini adalah pengingat untuk saya, agar saya rajin mengobrol dengan Alif BUKAN dalam kalimat instruksi atau saran. Mengobrollah tentang hal-hal yang remeh temeh. Tentang awan, tentang cuaca tentang mainan, tentang teman-temannya. Kalo mau bertanya, tanyalah tentang perasaannya, tanyalah pendapatnya tentang sesuatu. Agar si bocil tidak malas ngobrol dengan saya.






Tuesday, December 13, 2016

Growing up, growing old

Pagi ketika sarapan berdua Alif (karena ayah sudah berangkat kerja), terjadi percakapan yang saya agak lupa awalnya ngomongin apa.

Alif  : Aku nanti makan sereal pake cabe
Ibu   : Tapi anak kecil belum makan cabe
Alif  : Aku bukan anak kecil, aku kan anak besar. Nanti kalo aku sudah dewasa, aku sebesar ayah dan ibu. Nanti aku ga pake stroller lagi. Kan kebesaran aku. Nanti ayah atau ibu juga ga pake stroller, kan udah dewasa. Berat dong kalo aku dorong ibu sama ayah di stroller. Kan besar. Tapi nanti aku udah sama kayak ayah dan ibu.

Ibu  : Emm..tapi kalo kamu sudah dewasa, nanti ayah dan ibu jadi tua.
Alif : Kenapa kamu jadi tua?
Ibu  : Iya..kan manusia begitu. Dari kecil tumbuh jadi besar, dewasa. Kalo sudah dewasa terus jadi tua. Jadi kakek-nenek.
Alif : Nanti aku juga dong?
Ibu  : Iya..tapi nanti ayah sama ibu duluan tua.

Pic from here
Percakapan yang membuat saya tertegun. Mungkin keinginan seorang anak sederhana saja, ingin seperti ayah dan ibunya, ingin "sama" dengan ayah dan ibu. Untuk konteks Alif, mungkin biar bisa diajak ngobrol, makan makanan orang dewasa (indomie pake cabe misalnya), dan diperlakukan seperti orang dewasa. Keinginan yang indah dan sederhana.

Mungkin keinginan saya dulu juga sesederhana itu. Ingin mengobrol, makan, berinteraksi sebagai sesama orang dewasa, ingin seperti Mamah dan Apa. Selamat ulang tahun, Apa. Yesterday on December 12th 2016, you should be 65 years old. Allohumagfirlahu warhamhu waafihi wafuanhu.

Ah..saya akan berusaha sebisa mungkin lebih menemani Alif, mumpung saya masih diberi waktu.

Friday, December 9, 2016

Mencari Cinta Sejati

...a liberal democratic understanding of state-civil society relations (Ketola 2013, 83).

Naon atuh ujug-ujug? Kalo kata orang Jerman: nichts. Pengen aja nulisin itu. Situ sehat? Ga yakin..tampak chaotic inside..haha

Ah..sudahlah. Pokoknya saya suka banget sama lagu ini


Pertama, karena lagu ini sound track nya film Rudy Habibie yang ketika nonton ini, saya merasa ditabok-tabok. Pak Habibie yang super jenius pun hidupnya banyak rintangan dan beliau tetep maju. Walaupun lalu saya sempat berdiskusi juga soal kenapa dia mau membangun industri pesawat terbang nusantara di bawah sang diktator yang tangannya berdarah-darah, Suharto.

Tapi intinya film ini berhasil membangkitkan rasa persamaan saya dengan Habibie..haha..sama-sama miskin waktu sekolah di Jerman, harus kerja keras nyari uang plus terus menulis/belajar tidak lupa membagi waktu dengan kewajiban sebagai orang tua. Okay. Keep going. Tik tok tik tok..

Friday, December 2, 2016

Refleksi tentang Turki

Kenapa tentang Turki? kenapa ga tentang Indonesia yang lagi rame? Suka-suka saya dong ya.

Jadi di Turki pada awalnya ada dua gerakan besar yang bersekutu, yaitu AK Parti (partainya Erdogan) dan Gülen Movement. Awalnya mereka bekerja sama saling mendukung, Gülen yang katanya awalnya tidak tertarik berpolitik menyediakan dukungan suara bagi Erdogan dan AKP dari pendukungnya yang cukup berpengaruh di Turki, dan AKP setelah berkuasa menyediakan perlindungan bagi Gülen Movement terutama dari Kemalist. Namun lama-kelamaan, puncaknya pada 2013, keduanya bubar jalan. Perbedaan di antara keduanya tidak bisa diabaikan lagi.

Lalu pendukung dua kelompok saling sapu bersih. Jika di sebuah lembaga mayoritas isinya pendukung AKP, maka orang yang dicurigai pendukung Gülen akan "disingkirkan". Begitu juga sebaliknya. Jika di sebuah lembaga dikuasai oleh pendukung Gülen, maka pihak-pihak yang dianggap pro Kemalist atau AKP akan disingkirkan. Bahkan jika itu masih hanya sekedar "dugaan".

Hingga memuncak banget-banget, pada bulan Juli lalu, Gülen Movement dituduh sebagai dalang percobaan kudeta terhadap pemerintahan resmi Turki. Giliran pemerintah Turki dengan partai penguasa AKP dibawah Perdana Menteri Erdogan yang menyapu bersih pendukung Gülen. Tidak ada yang disisakan. Jika sebelumnya militer dikuasai pendukung Gülen, sekarang sebagian besar dari mereka sudah dipecat, dirumahkan untuk waktu tak terbatas, atau dipenjara. Begitu pula dengan banyak pegawai negeri sipil yang dianggap simpatisan Gülen Movement. Mereka dirumahkan, dipecat, dipenjara, dll. Media-media yang dianggap bertentangan dengan pemerintah ditutup. Para jurnalis dan akademisi ditangkapi.

Tapi saya tidak bilang Gülen dan pendukungnya tidak bersalah. Hanya saja pemerintah Turki lebih banyak bertindak berdasarkan prasangka. Seberapa banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang ini benar-benar mendukung Gülen Movement?

Lalu kenyataan itu seperti menampar saya. Akhir-akhir ini saya sering sekali mengelompokkan orang berdasarkan prasangka saya. Si itu begini, si ini begitu. Walaupun saya bukan siapa-siapa, harusnya ga boleh begitu dong ya? Ya kan..ya kan.. Yuk dahulukan diskusi dan dialog lah..jangan asal prasangka, praduga, curiga, dan menebak-nebak.

Sepotong do´a untuk tanah air Indonesia dan para manusianya, semoga tetap damai, bijak, kritis, dan cerdas. Ingat, kita semua bersaudara. #apeu.

*catatan untuk (saya sendiri dan) teman-teman saya, apapun pilihanmu, please don´t change. Mari kita berusaha tetap adil terhadap siapapun, regardless our political and religious views.

Tuesday, November 29, 2016

29 November 2016

Memasuki musim dingin taun ini yang datang lebih cepat, saya teringat kata-kata Alm Apa waktu kami mudik Feb lalu (apa ketika saya menelpon beliau?). Beliau bertanya soal suhu di Jerman, berapa suhu di musim dingin, di musim panas, dan seterusnya. Saya jawab seinget saya, misalnya, bahwa selama dua kali musim dingin suhu rata-rata antara -2 sampai 4 derajat, dan di musim panas bisa mencapai 38 derajat. Lalu beliau menjawab "Di tulis atuh suhu di buku harian..ambeh inget". He suggested me to write on a daily basis, especially about temperature change.

Dedaunan dilapisi bunga es
 Lalu pagi ini sekitar jam 9 pagi setelah mengantar Alif ke TK dan menyaksikan hari yang cerah namun terasa membeku, saya teringat untuk mencatatnya. Hari ini Langit biru, matahari bersinar cerah, namun bunga-bunga es putih terhampar di dedaunan, pohon-pohon, di atas mobil-mobil, rerumputan, dan di mana-mana. Saya cek suhu di hp. Owh.ternyata -6 derajat Celcius! Hari Minggu kemarin padahal suhu sempat mencapai 8 derajat. Lalu kembali menurun di malam dan dini hari. Tapi saya menyukai musim dingin yang seperti ini. Dingin, namun langit biru dan matahari bersinar cerah. Indah.

Pemandangan hari ini, dilihat dari jendela perpus
Tadi pagi seperti biasa saya ribet sendiri sebelum mengantar Alif, karena ayahnya Alif sudah berangkat kerja jam lima pagi. Nyiapin sarapan (padahal cuma sereal dikasih air anget), bikin kopi, rebus telor buat bekal, bikin bekal saya, dll. Saya tidak berhasil menemukan kupluk si bocah dan memakaikan kupluk dia dari dua tahun lalu yang sudah kekecilan. Untung masih bisa nyampe TK 2 menit sebelum jam 9..ngepas..Haha.. jangan ditiru. Nanti sore harus dicari si kupluk sampe ketemu.




Monday, November 21, 2016

Alles gute zum 4. Geburtstag, Alif!


Selamat ulang tahun Alif!
Semoga makin soleh, sehat selalu, penuh pertimbangan, cerdas, sayang keluarga, dan berguna untuk sesama :)

Maafkan Ibu dan Ayah tadi pagi marah-marah karena kamu numpahin air -_-
Maafkan lah kami yang masih terus belajar ini..semoga suatu saat nanti kamu memahami apa-apa yang ibu dan ayah lakukan.
Semoga kami diberi kesabaran tak terbatas menghadapimu yang penuh tanya tentang dunia.

Semoga kami diberi umur panjang untuk mendampingimu tumbuh.

Konon katanya golden time anak balita itu usia 0-4 tahun, dan setelah itu pertumbuhan otak anak sudah sempurna. Ah..tapi menurut saya ngga lah ya..setiap anak pasti akan bisa terus berkembang walaupun sudah lewat umur 4 tahun.


Beberapa milestones Alif 4 tahun *catatan ibu biar ga lupa
Sudah bisa pake baju sendiri komplit: kaos, celana dalam, jaket, kaos kaki, sepatu.
Sudah bisa naro baju kotor ke keranjang/ember
Beresin mainan, simpan alat makan ke tempatnya, ngambil susu dan sereal sendiri, ambil minum sendiri.
Makan buah-buahan dengan kesadaran sendiri, walopun kadang-kadang masih harus diingatkan
Makan sayur masih harus diingatkan terus-menerus, tapi semakin hari semakin gampang prosesnya. Ga harus dipaksa/dimarahin untuk makan sayur.
Bisa diajak cerita dan memberi jawaban yang (cukup) masuk akal.
Kemampuan sosialisasi dengan orang lain meningkat walopun sedikit, lebih ramah terhadap orang yang sudah dikenal (misal: teman-teman ayah dan ibu, atau Kaela, atau Yumna).

Contoh-contoh percakapan dengan Alif
Ceritanya Alif lagi makan.
Ibu/Ayah: Alif ayo makannya fokus, dihabisin ya.
Alif        :  Ibu, perut aku bilang "Aku udah kenyang..aku ga mau makan lagi"
Ibu         : Ah..kamu suka alasan
Alif        : Ga kok ibu..itu kan perut aku yang bilang
Ibu         : "............."
 Si Alif paling banyak beralasan kalo lagi makan. Bisa juga dia bilang "Ibu, kaki aku bilang dia sakit".

Cerita lainnya di hari Minggu, ketika Saya biasanya nelpon orang tua di Indonesia.
Ibu  : Alif, kita telpon Enin yuk. Enin itu kan ibunya ibu.
Alif : Ngga ah..kamu aja yang telpon, Enin kan bukan ibu aku.
Ibu  : "................."

Atau ketika bangun tidur.
Ibu : Alif, ayo kita bangun
Alif : Tapi mataku bilang dia masih ngantuk

Ketika saya sampe rumah hari ini,
Alif : Ibu, aku ulang tahun loh..
Ibu : iya.. Ibu tau lah..emang siapa yang lahirin kamu -_- haha..

Feuerlöscher (hydrant pemadam api) mainan, hadiah dari Kindergarten
Di TK, biasanya diadakan perayaan sederhana, tiup lilin, dikasih mahkota, dan hadiah kecil. Biasanya dapur TK juga mengajak anak yang ultah dan teman-temannya untuk membuat kue kering sama-sama. Orang tua tidak perlu hadir, khusus untuk para bocah dan pihak Kindergarten. Foto-foto biasanya diambil oleh pihak sekolah. Ga perlu keluar biaya apa-apa..hehehe.. *mak irit*

Sementara di rumah kue ultahnya sederhana saja dan ga ribet, yaitu pancake Pisang. Kebetulan sudah seminggu ini si anak kecil bilang, bahwa dia mau makan pancake. Jadi tinggal beli lilin..jadi deh.. Anak kecil segitu aja seneng banget :D.

Dan..berikut ini lagu ulang tahun favorit Alif




Friday, November 18, 2016

Celoteh Alif

Seminggu terakhir ini lagi sering membahas bayi (walaupun belum tahu kapan Alif punya adik), gimana kalo Alif punya adik, dan lain-lain sama si bocah yang umurnya hampir 4 tahun. Percakapan-percakapannya seperti berikut ini,

Ibu: Baby alipo..sini
Alif: Aku bukan baby
Ibu: kamu mau punya adik bayi ngga, kayak Kaela (temen Alif yang seumuran) udah punya adik, de Kinan.
Alif: Kamu udah punya baby kan, Ibu.
Ibu: mana babynya?
Alif: Aku kan dulu babynya?
Ibu: Iya..tapi maksud ibu baby baru..bukan kamu..
Alif: siapa namanya?
Ibu: Ya belum ada namanya...kan belum ada babynya..

Di lain kesempatan kata ayahnya,
Ayah: Alif mau punya adik?
Alif: ngga, aku ga mau punya adik. Tapi aku mau tulisin namanya di popok sama di bajunya (alif lagi suka tulis2, minta ditulisin nama Alif di kertas gambarnya)

Selain obrolan tentang adik, banyak obrolan lain yang menunjukkan bahwa seiring bertambah usianya, si anak kecil juga makin berkembang kosakata dan pemahamannya :´).




Monday, October 17, 2016

Postcards Never Sent

Hari ini saya dibantu teman saya Lily, mulai mencicil menyortir barang di apartemen kami. Lalu ketika kami memilah setumpuk dokumen saya waktu di Münster, kami menemukan amplop berisi beberapa kartu pos dengan pemandangan kota Münster. Kartu-kartu tersebut sebagian sudah ditulisi kata-kata dan siap dikirim. Sebagian lainnya hanya tertulis kepada dan alamatnya. Saya ingat, setelah menulis kartu-kartu itu, tetiba amplopnya hilang entah ke mana karena saya terlalu lama menunda. Akhirnya kartu-kartu itu tidak jadi dikirim.

Di antara kartu-kartu itu saya menemukan kartu pos untuk Ayah saya, yang tidak pernah terkirim. Melihat tulisan di bagian belakang kartu posnya saja sudah membuat saya terdiam, lalu mengerjap-ngerjapkan mata agar air mata tidak mengalir. Ah...another words I never said. Postcard I never sent.

Diantara kartu-kartu itu ada juga kartu pos untuk mamah. Harus segera saya kirimkan nih..

Karena urusan beres-membereskan dokumen ini, saya jadi ingat juga waktu saya, mamah, dan adik saya sedang membereskan dokumen punya Apa. Ada foto Beliau waktu muda, buku tabungan, SK pensiunnya, dan lain-lain. Hati saya serasa diiris-iris, menyaksikan Ayah saya hanya tinggal dokumennya. Lalu saya memilih berhenti menyortir, dan pergi ke ruang depan yang sepi. Menangis sendiri.

Sunday, October 2, 2016

Resep Bolu Pisang Kesukaan Kami

Akhir-akhir ini kami lagi suka makan bolu pisang alias banana bread buatan ayahnya Alif. Dia pertama nemu resep yang pas dari youtube nya Nyonya cooking. Lalu dimodifikasi sesuai selera. Setelah (ayahnya alif) beberapa kali mencoba, inilah resep yang dirasa pas.

Bahan
Pisang 3 buah
Terigu dari gandum utuh 150 gram
Gula pasir 120 gram
Butter 120 gram
Telur dua butir
Garam sejumput
Baking soda 1 sendok teh

Cara Membuat

  1. Hancurkan pisang dengan sendok
  2. Campur semua bahan di mangkuk dengan mixer.
  3. Tambahkan pisang ke dalam adonan. Aduk dengan tangan atau mixer hingga tercampur.
  4. Masukkan adonan ke dalam loyang yang telah diolesi margarin.
  5. Masukkan loyang ke dalam oven yang telah dipanaskan. 
  6. Panggang dengan suhu 170 derajat selama 30 menit. Lanjutkan 120 derajat selama 20 menit.
Tadaa...simple kan...hehe... Yuk mari memasak..biar lebih hemat dan keluarga sehat!

Thursday, September 15, 2016

Olahraga 30 menit per hari

Seiring bertambahnya umur, kesadaran saya akan pentingnya menjaga kesehatan makin meningkat. Bukan sekedar makan buah tiap hari biar sehat, tapi mencakup olahraga, menambah asupan sayur (dulu saya suka mengganti sayur dengan buah saja) dan buah secara signifikan, tidur cukup, dan berusaha mengurangi stress.

Kenapa? Ya itu tadi..faktor U. Setelah memasuki usia 30-an, saya melihat bagaimana para orang tua, saudara, dan orang-orang yang saya kenal menua. Beberapa di antaranya menua dan sakit (parah ataupun tidak). Almarhum Ayah saya yang selama masa hidupnya selalu sehat pun, ditakdirkan meninggal mendadak pada usia 64 tahun karena serangan jantung. Ibu saya alhamdulillah masih sehat, tapi memiliki tumor tiroid yang cukup berbahaya. Dua minggu lalu sepupu saya, yang kira-kira seumuran dengan ibu, meninggal karena kanker tiroid. Beberapa saudara lain terbaring karena stroke ataupun diabetes. Padahal rentang umur mereka masih 50-60an, masih cukup muda.

Apalagi untuk ukuran orang-orang di negara maju seperti di Jerman. Orang-orang yang berumur 60an masih tampak seperti berumur 40an di mata saya. Sangat berbeda dengan di Indonesia. Harus diakui, kebiasaan makan dan hidup orang Indonesia masa kini sangat jauh dari sehat. Makan gorengan, bersantan, nasi berbakul-bakul (lebay), selesai makan minum es teh manis yang gulanya banyak, eh..selesai makan cuma duduk-duduk atau lebih parah lagi, tidur-tiduran sambil main HP. Ya kan? Ngaku deh.

Saya juga suka banget kayak gitu. Perut gendut saya adalah hasil perilaku hidup seperti itu. Gimana dong? Lagian semua pasti tahu, menolak makan gorengan itu seperti menolak surga (lebay lagi). Makan sambel pedes tentu tak lengkap tanpa nasi sepiring penuh. Plus kerupuk. Plus rendang. Atau sop iga. Terus gimana dong? Gimana ga gendut? Gimana mau sehat? Apa kabar kolesterol?  Dan lain-lain. Dan lain-lain.

Usaha minimum saya yang pertama adalah: Sarapan Sehat. Bangun tidur, minum air putih minimal segelas. Lalu lanjutkan dengan buah-buahan, biasanya saya makan apa yang ada: apel, atau pisang, atau anggur, atau melon. Selain untuk diri sendiri, saya juga mewajibkan Alif dan ayahnya untuk minum air putih dan makan buah. Setelah air putih dan buah, bebas dilanjutkan dengan makanan lain, misalnya: sereal pake susu atau roti (whole wheat) keju (bukannya sok gaya, tapi yang ada dan praktis memang itu). Untuk menutup sarapan, saya biasa minum teh hijau (tawar) 1-2 gelas, lalu jika harus ke perpustakaan, maka saya tutup dengan segelas kopi pahit.

Untuk makan siang, masih suka-suka. Kalo ada nasi dan lauk sisa malam sebelumnya, maka bekal makan siang saya isinya: nasi dan rendang/ayam/telor dan potongan ketimun atau tomat. Jika tidak ada nasi, maka bekal saya hanya roti dan keju plus telur rebus ditambah sayuran mentah (tomat/ketimun/selada). Saya usahakan porsi sayurnya besar..lebih besar dari porsi sayur saya jaman jadul.

Untuk makan malam, ini masih berat, karena makanan terenak biasanya dikeluarkan pada makan malam :(. Udah pasti makan nasi dengan lauk rendang/ayam/soto/dll dengan sambal, kadang dengan kerupuk. Antisipasinya gimana dong? Makan sayurnya duluan, dan perbesar porsi sayur. Setelah sayur habis, baru deh nikmati sisanya. Nasi secukupnya saja. Kalo setelah makan malem masih pengen ngemil, ambil buah atau joghurt. Daan..usahakan makan malam selambat-lambatnya jam 6.30 malam. Beberapa kali kami masih makan malam jam 7 sih, tapi diusahakan paling lambat jam 6.30.

Kalo laper tengah malam? Ambil joghurt, buah, atau minum susu. Walopun beberapa kali saya suka masak indomie tengah malem.. Harusnya memang ga usah beli2 deh jajanan ga sehat itu..biar ga mupeng kalo lagi laper.

Terkait olahraga, ini penting banget juga kalo mau bugar. Karena makan sehat saja tidak cukup. hampir semua penyakit degeneratif bisa diperlambat (atau dilawan) dengan olah raga. Mau jantung lebih sehat, ayo olahraga rutin. Mau berusaha jauh dari kanker, juga harus olahraga rutin. Mau terhindar dari diabetes, juga harus olahraga rutin. Yang saya pelajari selama tinggal di Jerman, slogan-slogan agar orang berolahraga bukan sekedar basa-basi. Mereka betul-betul rutin berolahraga. Anak-anak sekolah dan mahasiswa biasanya ikutan ekskul olahraga di sekolah/kampus. Para dewasa muda biasanya jogging sore atau fitness. Tapi kesadaran individu soal berolahraga memang sangat tinggi.

Ini yang beberapa waktu belakangan sedang saya lakukan. Olahraga minimal 30 menit perhari, jumlah paling minimal sesuai anjuran dokter, bila ingin hidup lebih sehat dan terhindar dari penyakit-penyakit berbahaya. Saya melakukan Zumba dari youtube selama 30-40 menit, diusahakan setiap hari. Tapi jika saya hari itu bekerja, maka tidak perlu lagi ber-Zumba (kerjanya udah kayak angkat beban -_-). Pengennya sih jogging 30 menit per hari, tapi entah kenapa saya malas buat keluar rumah dan jogging. Lebih praktis kalo tinggal ngidupin youtube. Tidak ada target unrealistis (misal: mau kurus, perut rata, dll) untuk olahraga saya. Hanya harapan untuk tetap sehat dan bisa mendampingi keluarga selama mungkin.  

Saya paham bahwa umur manusia hanya Tuhan yang tahu. Tapi tentu tidak ada salahnya berusaha, bahkan wajib berikhtiar untuk mengusahakan hidup yang lebih sehat. Lagipula sakit di Indonesia itu mahal..lebih baik saya bersusah-payah membangun kebiasaan sehat daripada menghabiskan uang banyak untuk berobat.

Untuk Alif, tidak terlalu sulit. Dia sudah terbiasa makan sayur (walopun harus dibawah pengawasan ketat) dan buah. Dia akrab dengan makanan sehat khas Jerman yang disajikan di sekolah serta sudah terbiasa dengan cemilan sehat seperti: joghurt dan buah. Kami jarang sekali beli jajanan kemasan manis-manis untuk Alif. Hanya sesekali beli jika kami akan melakukan perjalanan. Begitu pun minuman. Hanya susu, jus tanpa gula, dan air putih.

Sementara untuk ayahnya Alif, lebih sulit. Dari jaman dulu dia paling suka makan enak, ngemil gorengan, makan nasi banyak, begadang sambil ngemil, ngemil chips, dan ga terlalu doyan sayur :(. Belum lagi dia masih merokok. Seringkali kami berantem gara-gara kebiasaan makannya, merokok, dan kemalasan beliau berolahraga. Lalu saya berusaha lebih halus. Orangnya memang harus sadar sendiri. Udah lumayan sih, sekarang tiap pagi minum air putih, makan buah (masih kadang-kadang), dan minum teh hijau. Walaupun porsi karbonya masih paling banyak. Olahraga yang dilakukan ayahnya alif pun yang minimal saja: jalan kaki antar jemput Alif dari rumah ke TK. Lumayan, total waktu jalan kaki 1 jam sendiri. Itu udah lumayan banget daripada jaman kita masih di Indonesia, yang terbiasa ke mana-mana naik motor. Ga pernah olahraga, dan makan ga terkontrol. 

Yah..namanya juga usaha..yang penting tetap konsisten walopun minimalis. Semoga sih, kita tetap bugar sampai tua dan di masa tua tidak menyusahkan anak-anak dan kerabat (dengan menjadi lansia yang sehat).

Semangat-semangat!!

Tuesday, August 9, 2016

Pengen pulang mak?

Mungkin saya memang pengen pulang ke Indonesia. Hari ini, saya mere-write CV saya dengan sangat serius demi melamar sebuah posisi di kantor lama saya. Kalo kata seorang teman, hidup itu sawang sinawang. Lagi di sana, pengen ke sini, lagi di sini pengen ke sana. Bukannya saya tidak menikmati waktu saya di sini. Saya menikmati kok. Makanya saya juga akan mencoba melamar ke beberapa posisi di sini. What comes first, comes first aja deh sekarang mah. Di Indonesia ataupun di sini, sama-sama baik.

Salam curhat,

Monday, August 1, 2016

Let´s moving on..

Bisa melakukan perjalanan ke berbagai tempat tentu menyenangkan buat saya. Mengenal tempat baru, bertemu dengan orang-orang yang  belum pernah saya jumpai sebelumnya, berkunjung ke tempat-tempat baru, mencicipi makanan dan minuman yang berbeda, mendengar dan belajar bahasa yang berbeda, sungguh menimbulkan perasaan tersendiri.

Tapi berkunjung dan menetap mempunyai makna yang berbeda. Ketika berkunjung 1-2 minggu di suatu tempat baru, kita tahu pada akhirnya kita akan kembali ke tempat kita menetap. Nah sebagai orang yang selalu dirantau, seringkali saya sangat antusias sekaligus berat hati ketika sampai di ujung sebuah babak kehidupan.

Misalnya, ketika harus pindah dari Kuningan ke Bandung selepas sekolah menengah pertama. Harus meninggalkan zona nyaman yang telah saya tempati selama 15 tahun hidup saya saat itu, tentu berat rasanya. Ingin rasanya tetap tinggal dan memilih sekolah menengah yang bisa dijangkau 15 menit saja dari rumah. Ingin rasanya tetap bersama teman-teman baik saya. Ingin tetap berada di tempat-tempat yang saya sudah sangat terbiasa dengannya. Tapi keputusan sudah diambil, saya harus melanjutkan tahapan selanjutnya di kota lain.

Ketika selesai SMA, kembali saya harus meninggalkan wilayah aman saya dan menuju tempat baru, dari Bandung, saya harus pindah ke Jatinangor. Membereskan barang-barang untuk di packing selalu tidak mudah. Sulit. Galau.

Selepas dari Jatinangor sambil mencari pekerjaan, hidup saya kembali nomaden tak tentu arah. Dua minggu di Kuningan, dua minggu di Depok, dua minggu di Jatinangor. Dan seterusnya. Hingga akhirnya menetap di kosan Mampang selama dua tahun, sampai kemudian menikah dan pindah ke rumah kecil kami di Depok.

Baru saja menikmati "kenyamanan" menetap, keputusan lain yang mengubah segalanya telah diambil. Kali ini harus berpindah ke negara yang sungguh asing. Rumah kami ditinggalkan tanpa dibereskan dengan layak, mengingat begitu padatnya waktu menjelang keberangkatan kami ke Jerman dua tahun lalu.

Hingga akhirnya datanglah saat ini, saat-saat yang menimbulkan perasaan-perasaan galau tak berkesudahan. Should I go? Should I stay? Should I go back? What should I do? Life oh life..it is a constant change. Terkadang saya iri pada teman-teman yang sudah settle, tidak perlu terus bergerak pada setiap tahap kehidupan. Tapi saya tahu saya harus mensyukuri ini. Mensyukuri berbagai kesempatan yang datang. Walaupun kesempatan-kesempatan itu berarti terenggutnya kenyamanan saya. Nothing last forever, Tatat. keep going..keep going and move on..

Saturday, July 16, 2016

...................................................

On Sunday 26th July, I was about to call you, to tell you about our short trip to Marrakesh. To tell you what I saw there, how are the Moslems there fasting, the desert climate, etc. I know you love to hear story.. But I thought it was already time for Subuh praying in Indonesia, it supposed that you are not going to take my call. This time differences influenced our communication.

Last February when I was home after two years in Germany, I told you about everything. My life, my study, the people here, cities I've visited, countries I've visited, etc. You listened to me carefully. I told you about my short trip to Den Haag and you listened to it carefully. I know that you know Denhaag, from our nation history, as you love geography (you said Ilmu Bumi) and history subjects at school. I promised my self, even I imagined it already in my head, I'd buy you ticket for Euro trip, to show you Netherlands, Den Haag, and Paris. I remember, you never got on a plane.

Two weeks before you´re gone, 8th June, exactly the last time I heard your voice, I woke you up before Sahur time. It was just Iftar time for me. Your voice indicated that you were just woke up from your sleep. You said things that you usually said to me on the phone, "don't forget to pray. Don't forget to teach Alif to pray and to read Qur'an." You repeated it as always.

Then that morning, 27th July 2016 (22 Ramadhan), I was eating my sahur. First sister called me via Whatsapp. I thought that mother wants to speak with me, as they were in the hospital waiting for my niece (he got dengue fever). It turned out that she was crying. She said that you're gone. All of the sudden. You had no pain or sickness. Once you've told me about your cholesterol. But just that. No major pain or anything else. Even you've called second sister this morning. So normal..

Maybe this is why, I kept thinking on this quite oft lately. What if you or mom suddenly go forever..or what if I go first. If I ask myself whether I regret my self for what I havent't done yet, of course. There will be no enough time for everything..Even my previous posting is a poem from a "Ema" which then I changed to to "Apa" just a minute before. Several weeks ago, I read some articles about "how to cope with lost and sadness", that kind of article. I didn´t know why I was so interested to read them. Is it what people called "firasat" (specific feeling about what would happen)?

I believe in "takdir Allah", a final destiny for human being. I know that this finally will happen to everyone. It is just a matter of time. But still..isn´t it too early? Or is it just me who could not forgive myself about things that I haven´t done for you?.

I remember your life after you and mom divorced, around 2002. It must be a very lonely years for you, the last 15 years. You did everything alone. Eat, pray, sleep, all alone. It is what I regret the most. It is what I regret the most. Even though I know that all of us, will be alone at last. It is what I regret the most.

I hope that we will meet again someday. I hope to see you again someday. And I will tell you everything, what I want to tell you. Until that day, may Allah places you in the best place. May Allah accept all your good deeds. May Allah forgive all your wrongdoings. May Allah leads me to His way, so we can meet again someday. May Allah grants me ikhlas and sabr.